//
you're reading...
Buletin Bukamata

006. Eits, Jangan Coba-Coba!

Hal-hal yang haram memang tampak begitu manis. Akan tetapi, di balik itu semua ada celaka yang berujung pada siksaan dan hinaan di dunia dan akhirat. (Imam Ibnu al-Jauzy)

ilustrasi HIVHuman Immunodeficiency Virus alias HIV masih menjadi momok menakutkan bagi manusia. Apalagi sampe sekarang, belon ketemu obat yang jitu untuk menaklukkan virus yang pertama kali dikenali pada tahun 1980 ini. HIV menyerang sel darah putih yang mengakibatkan turunnya kekebalan tubuh sehingga mudah terinfeksi berbagai macam penyakit yang tak kunjung sembuh. Kondisi inilah yang dikenal sebagai Acquired Immune Deficiency Syndrome alias AIDS. Ngeri!

Sepak terjang HIV seolah tak terbendung. Epidemi AIDS telah menyebar dengan sangat cepat dan jumlah pengidapnya di dunia tercatat lebih dari 60 juta orang dan sekitar 21 juta diantaranya telah meninggal. Bahkan setiap harinya, ada sekitar 14.000 orang tertular HIV. Hingga Maret 2007, terdapat 8.988 kasus AIDS dan 5.640 kasus HIV positif di Tanah Air. Tapi ini cuman yang terdata lho. Yang belum terdata atau yang nggak mau didata, so pasti lebih banyak lagi. Diperkirakan, angka riil pengidapnya adalah angka temuan dikalikan 1.000 atau sekitar 14,5 juta orang (Sindo, 10/05/07). Waduh!

Penyebaran HIV tumbuh subur dalam gaya hidup seks bebas dan penggunaan narkoba suntik yang kian ’banyak’ peminatnya, terutama di kalangan remaja. Nggak heran kalo Data Departemen Kesehatan RI hingga akhir September 2007 menunjukkan, jumlah kasus HIV/AIDS pada kelompok usia 15-19 tahun berjumlah 264 orang dan usia 20-29 tahun berjumlah 5587 orang. Ternyata kalangan remaja lebih mudah terinfeksi HIV. Hat-hati pren!

Say No To Drugs!

Hingga saat ini, sepak terjang narkoba yang menjerat remaja semakin menggila. Dan parahnya nggak pandang usia. Apalagi narkoba semakin mudah diperoleh dengan harga terjangkau bagi kantong pelajar. Bayangin aja, cuman seharga pulsa goceng kita bisa dapetin 1 strip narkoba yang isinya 12 tablet. Ditambah lagi, para pengedar narkoba dengan senang hati ngasih gratisan demi menjerat mangsanya. Walhasil, berdasarkan data Badan Nasional Narkotika (BNN), sebanyak 2,3 juta orang sudah mengonsumsi narkoba dan sebanyak 78%-nya adalah remaja.

Lantaran udah kecanduan, nggak sedikit remaja yang menghalalkan segala cara demi menikmati narkoba. Dari tindakan kriminal sampe melacurkan diri. Belum lagi perasaan nggak puas, memaksa penggunanya untuk berpetualang mencari kenikmatan sesaat dari berbagai jenis narkoba. Awalnya, cuman minum pil BK atau megadon, terus ngisep cimeng (ganja), menghirup bubuk morfin, hingga nyuntik heroin yang dicairkan ke dalam urat nadi. Makin lama, bukannya puas malah makin nyandu. Persis kaya minum air laut. Semakin diminum, justru semakin haus!

Secara psikis, pecandu narkoba cenderung menutup diri dari lingkungan dan selalu dihantui rasa takut. Takut ketauan dan takut nggak bisa make lagi. Ini yang menghancurkan hidup pecandu. Secara fisik, narkoba bikin badan kurus kering, mata sayu, gak napsu makan, apalagi olahraga. Rasanya, tubuh kita nagih pengen diisi narkoba terus. Dan kalo udah sakaw, sakitnya nggak ketulungan. Nyawa serasa digantung. Hidup segan mati tak mau. Belon lagi penularan penyakit lewat penggunaan jarum suntik bareng-bareng. Rawan banget kena hepatitis C, Hepatitis B, Sipilis, Malaria, atau HIV. Semuanya bisa berujung pada kematian. Mau?

Pren, menjauhi narkoba bukan hanya musuhan sama pil koplo, ekstasi, ganja, putaw, dan sanak kerabatnya. Tapi juga menjaga diri dari lingkungan yang bisa menyeret kita dalam jeratan narkoba. Seperti tren clubbing dalam dunia gemerlap (dugem) yang bisa mengenalkan kita sama narkoba. Awalnya cuman kenalan, terus penasaran, lalu ikut nyoba yang gratisan, akhirnya jadi ketagihan. Makanya, jangan coba-coba pake narkoba yang jelas-jelas dosa dan bikin hidup kamu sengsara. Oke?!

Say No to Free Sex!

Gaya hidup seks bebas ikut ambil bagian dalam menyuburkan penyebaran HIV. Dan lagi-lagi remaja yang paling getol menekuni kehidupan gaya hidup yang memuja syahwat ini. Usia remaja yang lagi hot-hotnya berekspresi, mendorong mereka untuk lebih mengenal cinta dan seks. Hasilnya, cukup memprihatinkan. Berdasarkan hasil survei perusahaan kondom pada 2005 di hampir semua kota besar di Indonesia dari Sabang hingga Merauke, tercatat sekitar 40%–45% remaja antara 14–24 tahun menyatakan secara terbuka bahwa mereka telah berhubungan seks pranikah (Sindo, 10/05/07).

Perilaku seks bebas di kalangan remaja banyak dipicu oleh media porno yang bisa mereka peroleh dengan mudah. Mulai dari tabloid esek-esek, komik dewasa, film porno, sampe cyberporn yang berkeliaran di dunia maya. Penelitian yang dilakukan Pusat Studi Hukum Universitas Islam Indonesia (PSH UII) mengungkapkan, dari 202 responden remaja (15-25 tahun), sekitar 15% nya pernah melakukan hubungan seks. Mereka mengaku sebelumnya terpengaruh oleh tayangan pornografi baik melalui internet, VCD, TV atau bacaan porno. Bahkan 100 persen dari responden mendapatkan gagasan dari VCD porno. (Eramuslim, 09/09/03).

Saat ini, kampanye safe sex with condom gencar disuarakan berbagai pihak demi memutus rantai penyebaran virus HIV. Seolah ‘karet pengaman’ itu nggak bisa ditembus oleh HIV. Padahal kenyataan menunjukkan sebaliknya. Pakar AIDS, R, Smith (1995), setelah bertahun-tahun mengikuti ancaman AIDS dan penggunaan kondom, mengecam mereka yang telah menyebarkan safe sex dengan cara menggunakan kondom sebagai “sama saja dengan mengundang kematian”. Selanjutnya beliau mengetengahkan pendapat agar risiko penularan/penyebaran HIV/AIDS diberantas dengan cara menghindari hubungan seksual di luar nikah (Republika, 12 November 1995). Catet tuh!

Selain HIV dan penyakit menular seksual (PMS), perilaku seks bebas juga rawan akan tekanan psikis. Kebanyakan remaja cuman pengen enaknya aja yang sesaat, tapi nggak mau dengan anaknya. Cowoknya nggak mau tanggung jawab, yang ceweknya juga malu kalo ketahuan hamil duluan. Solusinya, aborsi alias pengguguran kandungan. Kalo ceweknya nggak mau aborsi, cowoknya bisa kalap dan tega ngabisin pacarnya. Malah nggak sedikit yang ’tabrak lari’. Kalo udah ditinggalin pacar, ceweknya bisa depresi karena menanggung aib seorang diri. Kepalang tanggung, nggak diantara mereka yang akhirnya terjerumus dalam dunia prostitusi karena ngerasa udah nggak suci lagi.

Pren, kalo kita masih sayang sama diri sendiri, sama orang-orang yang kita sayangi, sama masa depan kita di akherat, dan nggak pengen disamain dengan hewan, jangan coba-coba mencicipi gaya hidup seks bebas dengan segala keturunannya. Termasuk nggak pacaran sebelum merit. Lantaran, berpacaran cuman menjerat kita dalam lingkaran syahwat yang nggak ada abis-abisnya. Lebih bagus lagi kalo kita juga jauh-jauh dari media porno yang bisa membakar syahwat dan meng-KO akal sehat kita. So, kalo udah jelas banget dampak buruk dan dosanya, tentu wajar dong kalo kita harus berani bilang, say no to free sex! Betul?

Say NO!, Would You?

Bilang ’nggak’, emang tak semudah yang dibayangin. Pastinya kita udah pernah berada pada situasi yang sulit bagi kita untuk berkata tidak. Padahal kita tahu resiko yang bakal ditanggung kalo jawab iya. Tapi ya itu, suka ada pertimbangan yang amat sangat mempengaruhi perasaan kita. Walhasil, mulut lebih manut sama perasaan dibanding akal sehat kita. Gawat tuh!

Emang, menginjak usia remaja, pertimbangan teman sebaya sering kali jadi prioritas dibanding yang lain. Kondisi inilah yang sering dikenal sebagai peer pressure alias tekanan teman sebaya yang kecenderungannya memaksa. Nggak papa sih kalo pemaksaannya terhadap hal yang positif kaya ’terpaksa’ ikut ngaji, menutup aurat, dan menjaga pergaulan. Parahnya, peer pressure lebih sering mengarah pada perilaku negatif. Mulai dari bolos sekolah, tawuran, pacaran, seks bebas, nge-drugs, merokok, nenggak botol, bullying sama teman, sampe tindakan kriminal. Kondisi ini yang menjadikan remaja rawan tertular HIV.

Peer pressure sering berlindung dibalik alasan demi solidaritas teman. Remaja seolah nggak punya pilihan untuk menolak kalo pengen tetep diakui dan diterima sama temannya. Itu berarti, remaja lebih takut dijauhin oleh teman-temannya dibanding mikirin kebaikan untuk dirinya sendiri.

Pren, punya teman itu emang penting dan perlu. Tapi kalo ada unsur pemaksaan untuk berbuat maksiat atas nama solidaritas, itu tanda pertemanan yang nggak sehat. Dalam kondisi itu, kamu harus berani berkata tidak. Menolak ajakan teman bukan berarti memutuskan persahabatan. Justru menunjukkan rasa sayang dan kepedulian kita biar teman nggak makin terjerumus. Inget, kita nggak selamanya muda. Ada masa tua yang harus kita songsong. Dan kita pun nggak selamanya hidup. Ada saatnya kita mesti rela meninggalkan dunia. Apa jadinya masa depan kita, kalo di usia muda terhanyut budaya hedonis yang ngejar kesenangan semata?

Untuk keluar dari peer pressure, kita mesti punya prinsip hidup untuk menilai ajakan teman. Pastinya prinsip yang dipake juga mesti bener. Biar sikap yang kita ambil juga bener. Nah, kalo mencari prinsip hidup yang bener, tentu aja Islam jawabannya. Karena hanya prinsip hidup Islam yang mampu menjaga perilaku kita tetep beretika dan menumbuhkan keberanian pada diri kita untuk berkata tidak dari peer pressure yang ngajak maksiat. Hasilnya, kita lebih berhati-hati dalam bersikap. Allah swt berfirman:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isrâ [17]: 36).

Pren, prinsip hidup Islam akan tumbuh dalam diri kita kalo kita mau mengenal Islam. Mengenal Islam bukan hanya tahu cara shalat, puasa, zakat, atau ibadah haji. Yang nggak kalah pentingnya, mengenal Islam sebagai aturan hidup yang akan menyelamatkan kita dunia akhirat. Punya prinsip hidup Islam bikin kita jadi lebih pede dalam bergaul. kita nggak gampang tergoda oleh tren budaya sekuler yang membidik remaja. Malah kita berani speak up, ngingetin teman-teman biar lolos dari jeratan budaya sekuler yang merusak masa mudanya. Yup, saatnya kita berani teriakkan: say no to drugs, free sex, liberalism, hedonism, capitalism. And say yes to Islam ideology! [hafidz341@gmail.com]

About Hafidz341

Seorang islamic writepreneur yang suka menulis ttg dunia remaja dan Islam. Saat ini memegang amanah Pimpinan Redaksi Majalah Remaja Islam Drise (http://drise-online.com). Selain penulis, jebolan STIKOM Binaniaga Bogor ini juga dikenal sebagai praktisi internet dan sosmed marketing serta owner Ghofaz Computer.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Follow me on Twitter

%d blogger menyukai ini: