//
you're reading...
Buletin Bukamata

007. Berkorban Untuk Islam, Yuk!

Hindarilah olehmu sifat malas dan mudah bosan, karena keduanya merupakan sumber dari segala kejahatan. Sebab apabila kamu malas, maka kamu tidak akan tabah dalam menegakkan kebenaran. (Imam Muhammad al-Baqir).

Pren, kamu pasti punya orang yang amat kamu sayangi yang amat bersejarah dalam hidup kamu. Sampai-sampai kamu rela mati untuk melindunginya. Sekarang, gimana perasaan kamu jika harus kehilangannya di depan mata kamu? Sedih pastinya. Bahkan mungkin nggak cuman sedih. Lebih dari itu, mental kamu bisa down bin rapuh. Meski ada Padi ’Sang Penghibur’, tetep tak mudah memulihkan hati kita yang ’luluh lantak’.

Kalo kejadian yang menimpa Nabi Ibrahim as ini bukan lagi andai-andaian. Beliau harus ikhlas ’mengorbankan’ putra tercintanya, Nabi Ismail as. Padahal Nabi Ismail itu anak semata wayang yang sangat dinantikan kelahirannya dari istri keduanya, Siti hajar. Meski begitu, Nabi Ibrahim tetep pada pendiriannya. Apalagi Nabi Ismail yang saat itu menginjak usia remaja, menerima keputusan ayahnya dengan besar hati. Nabi Ibrahim pun siap menghunuskan pisaunya di leher putra tersayangnya….. tahan napas kalian!

….saat mata pisau baru menempel dileher Ismail, turunlah wahyu Allah untuk mencegahnya. Rupanya, perintah Allah untuk menyembelih Ismail itu sekedar ujian keimanan kepada keduanya. Sejauh mana kepatuhan dan ketaatan mereka dalam melaksanakan perintah Allah swt. Dan mereka berhasil melaluinya dengan gemilang. Sehingga pada akhirnya Allah mengganti objek penyembelihan itu dengan seekor domba (QS Ash-Shâffat [37]: 107). Phew…hampir saja!

Kikis Gaya Hidup Materialis

Pren, kalo ngeliat besarnya kecintaan Nabi Ibrahim kepada Allah swt sampe-sampe rela mengorbankan putranya, boleh jadi kita ngerasa minder. Kalo diinget-inget, kita suka pake lama bin tarsok-tarsok (entar besok) kalo udah berurusan dengan kewajiban sebagai Muslim. Bukannya nggak mau berkorban untuk segera memenuhi perintah Allah swt, cuman masalahnya, ada aja yang ngeganjal di hati. Kita masih sering pake itung-itungan kalo mau berkorban. Nggak rela kalo apa yang kita keluarkan nggak keliatan hasilnya.

Tangan kita ringan aja ngeluarin duit untuk beli pulsa goceng demi menghidupi ponsel kesayangan. Tapi anehnya, tangan kaya ngangkat beban berkilo-kilo kalo mau berinfak, shadaqah, atau mendermakan harta kita di jalan Allah. Kita punya waktu banyak untuk menikmati pertandingan piala Champion atau melototin tayangan sinetron. Tapi anehnya, kita sering ngerasa nggak punya waktu untuk mengenal Islam lebih dalam dengan ikut ngaji atau sekedar baca bacaan Islam. Badan kita serasa fit dan penuh semangat kalo mau hang out bareng sohib ke tempat dugem, rental PS, atau nonton konser musik. Tapi nggak tau kenapa, badan mendadak pegel linu kalo diajak ke acara-acara Islam seperti tabligh akbar, aksi solidaritas, atau forum-forum pengajian.

Yup, inilah gambaran gaya hidup materialis pemuja kesenangan dunia yang udah menjebak kita tanpa disadari. Kita sering pake prinsip untung rugi dalam berbuat. Seolah-olah, kebahagiaan hidup cuman bisa diraih kalo bisa memperoleh barang konsumtif, hidup mewah, atau bergaul ngikutin tren. Persis seperti apa yang dipahami oleh penganut aliran utilitarian yang dipelopori oleh filsuf Barat, John Stuart Mill. Mereka bilang, ”perbuatan dianggap baik apabila hal itu cenderung menambah kebahagiaan, dan dianggap buruk apabila menyebabkan berkurangnya kebahagiaan. Yang dimaksud kebahagiaan adalah kesenangan dan hilangnya kesedihan, sedangkan ketidakbahagiaan adalah kesedihan dan berkurangnya kesenangan.”

Bagi penganut utilitarian, kompensasi pahala yang dijanjikan Allah jika taat, dosa jika bermaksiat, atau itung-itungan amal perbuatan di akhirat, sering kedapetan absen dalam kamus hidupnya. Mereka menganggap semuanya abstrak alias nggak keliatan, sehingga dirasakan nggak lebih penting dari kehidupan dunia yang nyata. Padahal kehidupan dunia, hanyalah panggung sandiwara yang cuman sementara. Allah swt berfirman:

”Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia Ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan…” (QS. Al-Hâdid [57]: 20)

Nah pren, semoga kita nyadar kalo gaya hidup materialis yang udah bikin diri kita jadi pengecut dan buta. Pengecut karena nggak berani melepaskan diri dari kesenangan materi dan buta lantaran nggak bisa ngeliat kehidupan dunia yang fana dan hanya sementara. Karena itu, saatnya kita kikis gaya hidup materialis untuk mengembalikan ’kejantanan’ kita dihadapan materi serta menghidupkan kembali akal sehat kita. Sehingga tumbuh keberanian berkorban demi memenuhi perintah Allah swt dengan segera dan bisa melihat kehidupan akhirat dengan jelas. Sejelas cahaya mentari di pagi hari. Cieee….

Raih Inspiring Love

Sebuah pengorbanan nggak akan muncul tanpa dilandasi rasa cinta. Baik cinta kepada sebuah barang, orang, atau hobi. Kalo udah cinta, orang nggak peduli lagi dengan banyaknya waktu, tenaga, pikiran, atau harta yang dikeluarkan demi memuaskan dahaga cintanya. Dengan melihat kepada apa atau siapa yang dicintainya, kita bisa ngukur kualitas pengorbanan yang dia lakukan. Sekedar luapan emosi atau ekspresi dari cinta sejati.

Luapan emosi sering terlihat dalam ekspresi kecintaan kita pada barang, idola, atau hobi. Seperti Ken Zhu, aktor pemeran serial melodrama Meteor Garden ini pernah belanja sampai sekitar 30 ribu dolar Hong Kong untuk menambah koleksi CD-nya. Gokilnya, uang sebesar itu ludes hanya dalam waktu dua jam saja di sebuah pusat penjualan CD di Hong Kong. Kalo udah dapet apa yang dicari, tuntutan pengorbanan pun kian mengendor, redup, dan akhirnya padam.

Sementara ekspresi cinta sejati, ditunjukkan oleh Rasul dan para shahabat yang mengorbankan hidupnya untuk Islam. Ini bukan sekedar luapan emosi pren, lantaran semangat pengorbanannya tetep menyala selama hayat dikandung badan.

Kamu kenal Khalid bin Walid yang berjuluk ’Singa Allah’? Dialah panglima perang yang selalu siap pasang badannya di medan jihad. Dia bilang,

”Aku lebih menyukai malam yang sangat dingin dan bersalju, di tengah-tengah pasukan yang akan menyerang musuh pada pagi hari, daripada menikmati indahnya malam pengantin bersama wanita yang aku cintai atau aku dikabari dengan kelahiran anak laki-laki.” (HR. Al-Mubarak dan Abu Nu’aim).

Ada juga Umair bin Abi Waqash yang ngeyel pengen ikut perang badar dengan diam-diam menyelinap ke barisan pasukan kaum Mulsimin. Padahal usianya baru 16 tahun. Kalo ketahuan Rasul pasti nggak boleh tuh. Tapi ternyata, setelah Rasul tahu keinginan dan semangatnya yang menggebu-gebu, beliau mengizinkannya. Umair pun dengan gembira segera merangsek ke medan perang hingga terbunuh sebagai syahid. (HR. Al-Hakim dan Ibn Sa’ad).

Atau Abu Bakar ash-Shiddiq yang menginfakkan seluruh hartanya untuk keperluan jihad fi sabilillah. Dan Utsman bin Affan yang mendanai 10.000 pasukan perang Tabuk dari koceknya sendiri dengan membelikan masing-masing kendaraan, perbekalan, dan senjata lengkap. Nggak ketinggalan Mushab bin Umair yang rela meninggalkan kehidupan mewah dan popularitasnya demi menyebarkan dakwah Islam di yastrib (madinah).

Pren, walau harta kita pas-pasan, nggak piawai memainkan pedang, atau wawasan Islam yang masih cetek, kita bisa kok berkorban untuk Islam seperti Rasul dan para shahabat. Yang penting kita getol menyampaikan kebenaran Islam dimana saja, kapan saja, kepada siapa saja, sesuai dengan kemampuan yang kita punya. Semuanya terasa mudah kalo kita bisa meraih inspiring love alias cinta yang menggugah. Cinta yang menggugah kita untuk rela berkorban tanpa pamrih. Itulah cinta kepada Allah, rasul-Nya, Islam, dan kaum Muslimin.

Dijamin Anti Rugi!

Pren, kalo ada yang bilang pengorbanan yang kita perbuat untuk Islam nggak ada untungnya, mereka salah besar. Justeru kalo bicara untung rugi, nggak ada yang bisa ngalahin keuntungan yang kita peroleh jika ’bertransaksi’ dengan Allah. Seperti ditegaskan dalam firman-Nya:

Sesungguhnya Allah Telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu Telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang Telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar. (QS. At-Taubah [9]: 111)

Tuh kan, gimana nggak untung kalo pengorbanan waktu, tenaga, pikiran, harta, dan jiwa raga kita dibayar mahal oleh Allah swt dengan surga-Nya di akhirat nanti. Bahkan di dunia pun kita diuntungkan karena punya alasan kuat untuk lebih pede dan optimis jalanin hidup meski dihadang berbagai masalah. Dan mental kita lebih tegar dan kuat jika harus kehilangan benda kesayangan, orang tercinta, atau hobi yang digeluti ketika menjadikan ridho Allah sebagai tujuan hidup. Lantaran Allah swt siap menolong kita setiap saat. Seperti ditegaskan dalam firman-Nya:

Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS. Muhammad [47]: 7)

Pren, kalo kita mengharapkan surga sebagai tempat kembali setelah kita mati, kita mesti rela berkorban untuk Islam. Tapi jangan mentang-mentang lagi bulan haji, berkorban cuman diartikan motong kambing, kerbau, atau sapi. Bukan cuman itu. Termasuk berkorban untuk Islam kalo kita meluangkan waktu dalam mengkaji Islam, mau mikirin urusan kaum Muslimin di seluruh dunia, menyumbangkan tenaga dalam menyebarkan dakwah Islam, membelanjakan harta di jalan Allah, serta memasang badan kita demi membela Islam dan kaum Muslimin. Kalo ngerasa belum siap, segera persiapkan diri kita dengan ikut ngaji. Nggak pake tarsok. Jangan sampe ketika maut menjemput, kita belum ’bertransaksi jual beli’ dengan Allah swt. Rugi banget dah! [hafidz341@gmail.com].

About Hafidz341

Seorang islamic writepreneur yang suka menulis ttg dunia remaja dan Islam. Saat ini memegang amanah Pimpinan Redaksi Majalah Remaja Islam Drise (http://drise-online.com). Selain penulis, jebolan STIKOM Binaniaga Bogor ini juga dikenal sebagai praktisi internet dan sosmed marketing serta owner Ghofaz Computer.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Follow me on Twitter

%d blogger menyukai ini: