//
you're reading...
Buletin Bukamata

008. Zona Merah Pestaphoria

“Keberhasilan tidak diukur dengan apa yang telah anda raih, namun kegagalan yang telah anda hadapi, dan keberanian yang membuat anda tetap berjuang melawan rintangan yang datang bertubi-tubi.” (Orrison Swett Marden)

Menjelang pergantian tahun, banyak pihak yang ikut ambil bagian dalam perayaan tahun baru. Mulai dari resto, café, tempat nongkrong anak muda di pinggir jalan, pub, diskotik, hotel berbintang, hingga stasiun televisi swasta. Semuanya berlomba-lomba menggelar acara malam tahun baru yang unik dan menarik. Bagi yang keuangannya cekak, udah punya rencana konvoi kendaraan bermotor pada malam pergantian tahun sambil niup terompet dan mukulin galon air mineral. Atau patungan bareng temen sekolah untuk ngadain acara makan-makan sambil ngebongkar belanjaan gosipnya. Ada juga yang punya agenda camping di alam terbuka sambil menikmati malam pergantian tahun.

Kalo udah bicara perayaan, pastinya nggak akan jauh dari suasana pesta-pora. Itulah tradisi yang tetep lestari dari tahun ke tahun. Terutama di dunia remaja yang gampang kepincut kegiatan apa aja yang menjanjikan kesenangan dan hura-hura. Mereka terjerumus dalam gaya hidup pestaphoria. Parahnya, gaya hidup ini banyak didukung oleh tayangan televisi maupun promosi produk yang berusaha merangkul konsumen remaja. Walhasil, makin banyak remaja yang terhanyut dalam pesta dan melupakan zona merah gaya hidup pestaphoria. Hati-hati pren!

Banyak Alasan Untuk Berpesta

Secara istilah, ’pestaphoria’ masih satu keturunan dengan ‘euphoria’. Kalo euphoria berarti ekspresi senang yang berlebihan, pengertian pestaphoria pun nggak jauh beda. Pestaphoria berarti pesta yang berlebih-lebihan. Lebih sering, lebih heboh, dan tentu saja lebih bervariasi bentuknya. Yang penting menjanjikan kesenangan, kemeriahan, dan hura-hura. Sehingga banyak acara remaja yang disusupi gaya hidup pestaphoria. Diantaranya:

Pertama, musik. Musik tak lagi sekedar alunan nada yang menggoda atau lirik yang asyik punya. Musik udah jadi komoditi bisnis dan selalu jadi alasan kuat untuk menggelar pesta. Seperti yang terjadi dalam setiap konser musik yang diadakan di lapangan terbuka atau di dalam studio stasiun televisi. Begitu juga dengan pagelaran festival band yang sangat digandrungi remaja. Atau penganugerahan penghargaan bagi musisi favorit dengan berbagai kategori. Semuanya tak lepas dari pestaphoria. Karena pesta tanpa musik ibarat sayur tanpa garam. Dan musik tanpa pesta, ibarat garam tanpa sayur. Hehehe…

Kedua, sport. Olahraga nggak cuman asyik ditonton, tapi juga asyik dijadikan alasan untuk hura-hura sambil teriak-teriak mengekpresikan dukungannya. Seperti dalam acara nonton bareng kompetisi bola kaki. Apalagi kalo yang bertanding tim papan atas sekelas Manchester United, AC Milan, atau Real Madrid. Kemeriahan juga terasa dalam setiap pagelaran kompetisi basket 3 on 3 atau outdoor futsal yang makin banyak digandrungi remaja.

Ketiga, hobi. Hobi yang unik dan menarik, sangat layak dikonsumsi publik. Ini yang sering kali mendorong sponsor untuk menggelar pesta remaja. Hasilnya, remaja serasa dimanja ketika ada penyaluran hobi mereka yang atraktif dan ditonton banyak orang. Mulai dari lomba atraksi keterampilan berskateboard, kehebatan free style pake motor, kepiawaian dalam modifikasi motor, kemahiran maen games online, hingga kelenturan tubuhnya saat menampilkan aksi modern dance.

Keempat, tren. Predikat anak gaul selalu diidentikkan dengan pola hidup yang berkiblat pada masyarakat barat. Mulai dari cara berpakaian, cara berpikir, hingga perayaan hari-hari besar mereka. Seperti tahun baru masehi, valentine days, april mop, atau hallowen. Nggak ketingglan, tradisi prom night party atau pesta ulang tahun juga kian kental di dunia remaja. Untuk semua itu, remaja ngerasa kudu ikut ambil bagian dalam memperingatinya sebagai konsekuensi gaul modern.

Pren, itulah beberapa kegiatan yang sering jadi pembenaran untuk berpesta-pora. Meski nggak semua remaja ikut-ikutan, tapi gencarnya acara bernuansa pesta yang sering tersaji di layar kaca, perlahan namun pasti telah menggiring remaja untuk jadi aktivis pestaphoria. Soalnya dalam pesta, mereka bisa bebas ketawa-ketiwi, haha-hihi, sampe cekakak-cekikik. Sejenak melupakan pr sekolah, tugas kuliah, atau masalah di rumah. Awalnya sih emang lupa sejenak, tapi kebanyakan malah jadi lupa beneran. Lupa waktu, lupa diri, dan lupa daratan. Malah bisa sampe lupa ingatan. Nah lho?!

Bahaya Dibalik Pestaphoria

Pren, hadir ditengah gemerlap cahaya lampu pesta dan dentuman musik berisik, beresiko melemahkan fungi panca indera dan cara berpikir kita lho. Telinga budek, mata rabun, dan otak mandek. Akibatnya, kita nggak bisa berpikir dengan jernih dan mudah terjerat dalam bahaya pestaphoria seperti di bawah ini:

Pertama, lemah mental. Gaya hidup pestaphoria bisa bikin mental kita lemah saat menghadapi musibah atau kesempitan dalam hidup. Karena yang ada di otak kita hanya kesenangan. Sehingga kita jadi alergi dengan kesedihan, menghalalkan segala cara untuk berpesta, dan nggak berani hadapi masalah. Ketika pesta usai dan kaki kembali menginjak bumi, ternyata masalah masih ada dan setia nungguin kita. Ya iyalah, karena masalah datang untuk diatasi, bukan dihindari. Kita mesti inget, pestaphoria nggak bikin masalah kita beres dan nggak juga membantu kita beresin masalah. Yang ada, masalah kita malah bertambah. Berabe kan?

Kedua, sarang maksiat. Dari awal, pestaphoria lahir dari pola hidup masyarakat barat yang steril dari aturan agama. Apalagi aturan Islam. Nggak heran kalo dalam pestaphoria, kemaksiatan merajalela. Mulai dari fastabiqul aurat alias berlomba-lomba memamerkan aurat dan daya tarik seksual, campur baur laki perempuan yang bebas tanpa batas, peredaran narkoba dan minuman keras, hingga situasi yang bisa memancing emosi seperti sering terlihat dalam setiap kerusuhan konser musik. Makanya kita mesti jauh-jauh dari tempat pestaphoria, biar nggak kecipratan dosa lantaran diem aja di tengah kemaksiatan yang merajalela.

Ketiga, tasyabuh bil kuffar. Perayaan hari-hari besar yang selalu dimeriahkan dengan pesta tak lepas dari muatan ajaran di luar Islam. Seperti perayaan tahun baru Masehi. Buktinya dalam sejarah, tanggal 1 Januari dirayakan sebagai hari tahun baru untuk pertama kalinya pada tahun 45 Sebelum Masehi (SM) oleh kaisar Roma, Julius Caesar (www.irib.ir). Dan bagi orang kristen, tahun baru masehi dikaitkan dengan kelahiran Yesus Kristus atau Isa al-Masih. Sehingga agama Kristen sering disebut agama Masehi. Masa sebelum Yesus lahir pun disebut tahun Sebelum Masehi (SM) dan sesudah Yesus lahir disebut tahun Masehi. Gitchu ceritanya!

Sebagai muslim, nggak ada pantasnya kita meniru-niru budaya di luar Islam. Kaya perayaan tahun baru itu. Kalo kita ikut-ikutan, sama aja kita membenarkan apa yang diyakini oleh penganut agama lain. Padahal Rasul dengan tegas melarang umatnya untuk meniru-niru budaya atau tradisi agama dan kepercayaan lain. Rasulullah saw. bersabda:

“Barangsiapa yang menyerupai (bertasyabuh) suatu kaum, maka ia termasuk salah seorang dari mereka.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan ath-Thabrani)

Nah pren, itulah beberapa bahaya dibalik gaya hidup pestaphoria yang hanya membuat diri dan masa depan kita hancur berantakan. Nggak hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Ini sudah cukup beralasan bagi kita untuk katakan tidak pada pestaphoria. Setuju?

Catatan Buat Kita…

Pren, dalam hidup, selalu ada perubahan yang nggak bisa kita hindari. Ada suka ada duka. Ada masa muda ada masa tua. Ada saatnya kita hidup, ada waktunya kita meninggal dunia. Pertanyaannya, siapkah kita menghadapi perubahan itu?

Nggak gampang jawab pertanyaan ini. Karena faktanya, kita lebih banyak mempersiapkan diri untuk memaksimalkan waktu luang, harta berlimpah, dan masa muda untuk bersenang-senang. Sebaliknya, kita sering ngerasa belum siap dan enggan mempersiapkan diri menghadapi kondisi hidup yang sulit. Kita cuman bisa mengeluh dan ngandelin ortu untuk beresin setiap kesulitan yang dihadapi. Padahal suatu saat, kita akan kehilangan orang tua dan harus hidup mandiri. Lantas, apa yang udah kita siapin menghadapi saat itu? Keterampilan apa yang udah kita asah dari sekarang untuk bekerja atau menjadi ibu rumah tangga? Amal baik apa yang sudah kita tabung untuk menghadapi hari perhitungan di akhirat nanti?

Pren, kalo kamu perhatiin Pak Tani, nggak mungkin doi memanen padi kalo sebelumnya nggak pernah membajak sawahnya, menanam benih padi, ngasih pupuk, menyiangi, atau menjaganya dari hama padi. Begitu juga yang terjadi dengan kita. Keberhasilan masa depan kita tidak diperoleh dengan tunai saat kita tua nanti, melainkan hasil usaha ‘cicilan’ kita sejak remaja. Apa pun yang kita kerjain selagi muda, sedikit banyak akan mempengaruhi potret masa depan kita. Jangan pernah berharap masa depan terbingkai indah jika menjadi aktivis pestaphoria. Dan jangan salahkan orang lain, teman, orang tua, atau lingkungan jika masa depan kita suram. Allah swt mengingatkan kita dalam firman-Nya:

Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang Telah diperbuatnya, (QS. Al-Mudatsîr [74]: 38)

Ayat ini juga ngingetin kita tentang masa depan di akherat. Saat dimintai pertanggungjawaban oleh Allah swt, kita nggak bisa berlindung dibalik ajakan temen untuk ngedugem, clubbing, atau terhanyut dalam pestaphoria. Kita nggak bisa ngeles. Semua resiko perbuatan selama di dunia, kita yang nanggung. Makanya kalo kita cerdas, pastinya nggak akan sia-siakan masa muda dengan menjadi aktivis pestaphoria. Sabda Rasul:

“orang yang cerdas adalah orang yang mampu menundukkan hawa nafsunya serta biasa beramal untuk bekal kehidupan setelah mati. Sebaliknya, orang yang lemah adalah orang yang memperturutkan hawa nafsunya, sementara dia berangan-angan kepada Allah”.

Nah pren, sekarang kita punya alasan kuat untuk nggak ikut-ikutan pesta perayaan tahun baru yang merupakan budaya non Islam dan menghapus gaya hidup pestaphoria yang cuman ngejar kesenangan dunia (fun) dalam kamus hidup kita. Pastinya lebih keren kalo kita isi masa muda dengan kegiatan bermanfaat yang nggak ngelanggar syariat dan bisa mencerahkan masa depan kita di dunia dan akherat. Diantaranya, dengan ikut dan aktif dalam pengajian. Yuk! [hafidz341@gmail.com].

About Hafidz341

Seorang islamic writepreneur yang suka menulis ttg dunia remaja dan Islam. Saat ini memegang amanah Pimpinan Redaksi Majalah Remaja Islam Drise (http://drise-online.com). Selain penulis, jebolan STIKOM Binaniaga Bogor ini juga dikenal sebagai praktisi internet dan sosmed marketing serta owner Ghofaz Computer.

Diskusi

One thought on “008. Zona Merah Pestaphoria

  1. ass
    lam knal yach. aku baru baca buletin kamu ini. tapi isinya kok berat bgt yach bacanya? gak asyik gitcu…dulu pernah ada studia tapi gak ada lagi sekarang…
    thx..

    wassalamu’alaykum….
    berat ya?hmm.. semoga tiap edisi selalu ada perbaikan. karena itu kita sangat mengharapkan masukan untuk perbaikan ke depannya. soal studia? hmm.. boleh dibilang bukamata sebagai penerus studia. meski mungkin gak kaya studia, kita berharap tetep bisa ngasih kontribusi positif bagi remaja dalam mengenal Islam. seperti alm. studia.

    Posted by Puput Melati | 04/01/2008, 06:27

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Follow me on Twitter

%d blogger menyukai ini: