//
you're reading...
Buletin Bukamata

009. Global Warning 4 Us!

“Barangsiapa yang durhaka kepada Allah di muka bumi, berarti dia berbuat kerusakan di bumi. Hal itu karena kedamaian bumi dan langit adalah dengan ketaatan.” (Abu al-Aliyah)

Let’s Go Green!
Itulah jargon kampanye yang akhir-akhir ini sering nongol di layar kaca. Tapi ini bukan dari arek-arek suroboyo pendukung tim bajul ijo (persebaya) lho. Kampanye ini nggak ada sangkut pautnya ama sepak bola. Yang bener, itu adalah kampanye penanaman seribu pohon untuk mengurangi pemanasan global dan perubahan iklim. Apaan tuh?! Gubraks!

Nggak usah pura-pura o’on deh. Hare gene, perubahan cuaca makin gak jelas juntrungannya. Waktunya musim hujan, nggak tahunya kemarau. Giliran kemarau, tiba-tiba hujan datang tanpa permisi. Saat kemarau, panasnya serasa dipanggang di atas bara api. Pas musim hujan, curah hujan tinggi dibarengi dengan badai dan angin puting beliung. Walhasil, bencana alam datang silih berganti (kaya kaya arisan aja). Seperti tanah longsor di Karanganyar, banjir bandang di Bojonegoro, atau air laut pasang yang menggenangi daerah pinggiran pantai ibukota.

Nggak cuman di Indonesia, efek pemanasan global dan perubahan iklim juga kerasa di negara lain di pelosok dunia. Makanya tanggal 03-14 Desember 2007 kemaren, PBB ngadain hajatan besar The Conference of Partij ke-13 yang dihadiri sekitar sepuluh ribuan peserta dari 189 negara anggota United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCC). Semuanya pada ngumpul di Bali untuk nyari solusi mengatasi pemanasan global dan perubahan iklim yang mengancam kehidupan para penghuni planet Bumi. Termasuk kita. Masih nggak ’ngeh’ dengan pemanasan global? Gocap kali dua, Cape deh!

Global Warning, Apaaan Sih?

Global warning alias pemanasan global adalah kenaikan suhu daratan bumi, atmosfir, dan laut akibat efek rumah kaca. Jadi ceritanya, pantulan panas sinar matahari yang diserap bumi seharusnya kembali ke luar angkasa sehingga suhu daratan bumi tetep stabil. Yang sekarang terjadi, justeru pantulan panas matahari dari bumi diserap oleh efek gas rumah kaca di atmosfer sebelum sampai di luar angkasa. Efek gas rumah kaca itu yang meningkatkan pemanasan global. Gitchu!

Efek rumah kaca (greenhouse effect) sendiri, terbentuk dari kelebihan emisi gas rumah kaca seperti karbondioksida (CO2), dinitro oksida (N2O), atau methana (CH4) yang dibuang ke udara. Dalam kondisi normal, emisi gas rumah kaca seperti CO2 akan diserap oleh tumbuhan sebagai bahan baku fotosintesis untuk menghasilkan energi dan gas O2. Sehingga jumlah emisi gas rumah kaca di udara seimbang. Tapi, karena banyaknya tumbuhan dan pepohonan yang menyerap gas karbon kian berkurang, efek rumah kaca yang ’menyelimuti’ bumi semakin cepat terbentuk. Ujung-ujungnya, kita serasa hidup dibawah selimut. Gerah banget pren!

Emang nggak nyaman hidup beratapkan gas rumah kaca. Udah mah panas, rawan bencana lagi. Sayangnya kita nggak punya pilihan lain. Karena kita hidup di era industri yang menyerap banyak energi dan menghasilkan emisi gas rumah kaca yang nggak kalah banyaknya. Minyak bumi, batubara, dan gas alam memasok 88 % dari kebutuhan energi dunia untuk pembangkit listrik, industri, dan transportasi. Hasilnya, emisi karbon sampai dengan tahun 2000-an aja meningkat menjadi sekitar 6,5 miliar ton hanya dalam waktu setengah abad yang menyebabkan kenaikan suhu rata-rata dunia sekitar 0,13 derajat Celsius setiap dekade (Kompas, 25/11/07).

Karena itu, negara-negara di dunia rame-rame bikin kesepakatan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Seperti dituangkan dalam protokol Kyoto, Jepang pada Desember 1997 silam. Sialnya, Amerika sebagai negara industri penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca menolak menandatangani protokol Kyoto. Alasannya, pengurangan emisi gas rumah kaca akan menelan banyak biaya serta mengancam ekonomi dan perindustrian negeri Paman Sam. Udah gitu, Amerika malah menyalahkan negara berkembang seperti Indonesia yang tidak mampu menjaga fungsi hutannya sebagai paru-paru dunia dari penebangan liar. Udah salah, nggak ngaku, eh nyalahin pihak lain lagi. Jangan gila dong!

Dampak Global Warming, Ngeri!

Pemanasan global nggak cuman bikin tubuh kita keringetan segede biji jagung. Yang bikin was-was, justeru dampak pemanasan global yang memicu ekstrimnya perubahan iklim di seluruh dunia. Seperti yang pernah terjadi disepanjang tahun 2002: munculnya badai El Nino di wilayah pasifik; kebakaran hutan di Australia selatan yang mencapai 3200 km; badai salju terparah sejak 40 tahun terakhir dan banjir besar dengan ratusan korban jiwa di Cina; atau di Moskow yang mengalami bulan Januari terhangat sejak 1904, suhu melonjak tiba-tiba dari minus 30 Celsius menjadi plus 3,5 Celsius!
Kini, keadaannya juga nggak jauh beda. Pada bulan Juni-Juli 2007 kemaren, suhu di Kutub Utara telah mencapai 22 OC. Padahal, sebelumnya tidak pernah menyentuh 2 sampai 4 OC. The US Snow and Ice Data Center di Colorado bahkan mencatat pencairan es telah mencapai 4.28 million square kilometer. Ini adalah pencairan es paling ekstrem terutama dalam 3 tahun terakhir (Bali Post, 08/11/07).

Kalo es di antartika banyak mencair, pastinya tinggi permukaan laut di seluruh dunia bakal naik. Padahal menurut perhitungan para ahli IPPC (lembaga internasional yang menangani perubahan iklim), kenaikan 100 cm muka air laut akan menenggelamkan 6% daerah Belanda, 17.5% daerah Bangladesh, dan ribuan pulau kecil di Indonesia. Kalo pun nggak sampe tenggelam, daerah pesisir pantai bakal kebanjiran air laut saat pasang serta dihantam ombak besar. Persis kaya tragedi Tsunami di Serambi Mekkah pada Desember 2004 lalu.

Pemanasan global juga mempengaruhi curah hujan di dalam negeri. Data BMG menunjukkan, antara tahun 1900 dan 2000, rata-rata curah hujan bulanan di Jawa Barat, Banten dan DKI Jakarta meningkat 12% dari 310 hingga 360 milimeter, di Jawa Timur meningkat 12% dari 240 menjadi 280 milimeter, dan di Jawa Tengah juga meningkat 7% dari 300 menjadi 330 milimeter. Nggak heran kalo akhir-akhir ini, derasnya air hujan berakibat pada luapan air sungai Bengawan Solo yang membanjiri kota Bojonegoro, Ngawi, Solo dan beberapa kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Nggak hanya bencana alam, pemanasan global juga meningkatkan resiko kematian dari kardiovaskular, yakni kasus-kasus kesehatan yang berkaitan dengan gangguan jantung dan pembuluh darah. Pemimpin riset dari School of Medicine di University of California, Amerika Serikat, Cizao Ren, menegaskan, tingginya suhu bumi akibat pemanasan global yang berimbas pada peningkatan produksi ozon merupakan dua faktor utama yang menyebabkan kematian akibat kasus kardiovaskular (Media Indonesia Onilne, 24/12/07).

It Global Warning Pren!

Pren, rentetan musibah yang tengah menghantam beberapa daerah di Nusantara, sudah seharusnya menonjok kesadaran kita. Nyadar kalo ternyata manusialah yang jadi penyebab utama pemanasan global. Seperti hasil dari sebuah survey pendapat terhadap lebih dari 22.000 orang di 21 negara. Sekitar 79% responden survei BBC ini sepakat “tindakan manusia, termasuk di bidang industri dan transportasi, merupakan penyebab besar perubahan iklim.” (Pelitanews.com, 12/11/07).

Di daerah perkotaan dan industri, manusia lebih mementingkan pembangunan infra struktur dibanding kepeduliannya terhadap lingkungan. Ribuan hektar lahan pertanian ditanami apartemen, pusat perbelanjaan, jalan layang, hingga kawasan industri. Perlahan namun pasti, daerah serapan air kian berkurang. Tumbuhan penyerap gas emisi transportasi pun kian langka. Kondisi ini yang melestarikan bencana banjir setiap tahunnya.

Di pelosok daerah, pembalakan hutan merajalela. Mentang-mentang mengantongi hak pengelolaan hutan (HPH), sembarangan aja tebang sana-sini untuk dapetin kayu gelondongan siap ekspor. Hasilnya, kerusakan hutan di negeri kita udah gaswat banget. Bayangin aja, Menurut data olahan Tempo (22 Juli 2007), sejak tahun 2001 hingga 2006 jumlah penebangan illegal berkisar antara 19 hingga 27 juta meter kubik per tahun, atau rata-rata 23 juta meter kubik per tahun dalam 5 tahun terakhir. Angka tersebut jika dianalogikan dengan luas hutan yang ditebang mencapai 27 kilometer persegi setiap tahunnya, setara dengan 40 kali luas Jakarta. Negarapun dirugikan hingga Rp 45 trilyun per tahun. Nggak cuman rugi materi, kerusakan hutan juga melestarikan dampak pemanasan global.

Tingkah manusia yang nggak ramah ama lingkungan seperti di atas adalah produk dari sistem kapitalis sekuler. Mereka diperbudak oleh materi dan menghalalkan segala cara demi meraih keuntungan pribadi. Meskipun harus mengorbankan orang lain dan merusak lingkungan. Allah swt mengingatkan kita dalam firmannya:

Telah nyata kerusakan di daratan dan di lautan akibat ulah manusia. (QS ar-Rum [30]: 41).

Makanya, selain pengurangan emisi gas rumah kaca dan penanaman pohon, mesti dikampanyekan juga pembumihangusan paham kapitalisme dari kehidupan kita. Dan jangan lupa, sosialisasikan syariah Islam sebagai solusi atas setiap permasalahan yang dihadapi manusia. Karena Islam sebagai agama yang memberi rahmat bagi alam, sangat menjaga pelestarian lingkungan. Allah Swt. berfirman

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya (QS. al-â’raf [7]: 56).

Rasulullah saw. juga menegaskan larangan penebangan pohon secara sia-sia:

Siapa saja yang memotong pohon bidara yang ada di atas tanah lapang yang sering digunakan sebagai tempat bernaung bagi orang-orang yang sedang dalam perjalanan ataupun binatang-binatang secara sia-sia dan penuh kezhaliman tanpa alasan yang benar, maka Allah akan menaruh api neraka di atas kepalanya (HR Bukhari).

Untuk menjaga manusia dan lingkungan dari kerusakan, pilihan yang ada di depan kita cuman satu. Terapkan hukum Islam oleh negara. Karena ketegasan hukum Islam akan mencegah manusia berbuat maksiat dan kerusakan di muka bumi. Karenanya, mesti ada peringatan global (global warning) biar manusia, terutama kaum Muslimin, pada sadar. Sadar akan bahaya Kapitalisme sekuler. Sadar akan kemuliaan Islam sebagai aturan hidup. Dan sadar akan pentingnya mengkaji Islam serta memperjuangkan tegaknya kekhilafahan Islam di muka bumi. Yup, global warming is global warning for us! [hafidz341@gmail.com]

About Hafidz341

Seorang islamic writepreneur yang suka menulis ttg dunia remaja dan Islam. Saat ini memegang amanah Pimpinan Redaksi Majalah Remaja Islam Drise (http://drise-online.com). Selain penulis, jebolan STIKOM Binaniaga Bogor ini juga dikenal sebagai praktisi internet dan sosmed marketing serta owner Ghofaz Computer.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Follow me on Twitter

%d blogger menyukai ini: