//
you're reading...
Buletin Bukamata

013. Anti-VD, Bukan Basa Basi!

“Sifat cinta sama seperti air dalam tanah. Apabila anda tidak cukup menggali, yang anda peroleh adalah air yang keruh. Apabila anda cukup menggali, yang anda peroleh adalah air yang bersih dan jernih.” (Hazrat Inayat Khan)

Be My Anti Valentine
Valentine Days is Suck (Valentine Days memuakkan)

Sejak tahun 2001, kiriman kartu ucapan berisi nada penolakan terhadap valentine day (VD) seperti di atas makin merajalela di dunia maya. Bayangin aja, pada tahun 2003, sebanyak 30.000 kartu ucapan anti valentine dikirimkan dalam waktu 2 minggu. Jumlah ini meningkat drastis pada tahun 2005 menjadi 200.000 kartu yang dikirim sebelum server tempat mangkal kartu-kartu virtual itu kolaps dan situsnya tidak bisa diakses. (Detikinet, 14/02/2007).

Ternyata, tren anti VD dari tahun ke tahun makin menguat. Bahkan orang Barat sendiri banyak yang menganggap VD sebagai sesuatu yang tak berguna dan menyebalkan. Seperti pernyataan Meg Pickard, salah seorang pencipta berbagai kartu anti Valentine yang dimuat di situs http://www.meish.org. (idem). Dibalik gemerlap perayaan VD ada bahaya yang mengancam para aktivisnya. Dan sialnya, banyak yang nggak nyadar dengan bahaya ini. Untuk kamu, bukamata coba kupas cacat celanya VD. Tarik maang..!

Mendongkrak Perilaku Konsumtif

Memasuki bulan Februari, mendadak mall-mall pada nge-pink semua. Penghuni etalase juga lebih banyak didominasi oleh cokelat bentuk hati, boneka berbando pink, bantal bertuliskan ‘I Love U’, atau hiasan kembang plastik bernuansa romantis. Nggak ketinggalan, beragam kartu ucapan VD juga ikut mejeng di dalam bak. Semuanya pake diskon lho. Boleh dek, produk valentine-nya!

Pren, pernak-pernik VD hanya sebagian kecil aja produk kapitalis yang meramaikan hari kasih sayang. Diluar itu, konser musik musisi idola, launching film layar lebar bertemakan cinta, atau pagelaran pesta dansa di malam valentine juga ikut ambil bagian. Semua kemeriahan itu tak lebih dari skenario para kapitalis untuk menggiring remaja, berperilaku konsumtif.

Di satu sisi, perilaku konsumtif remaja menjelang VD turut mendongkrak penghasilan para penjual produk valentine. Namun disisi lain, perilaku konsumtif justru bisa bikin remaja nggak berpikir realistis. Ini bahayanya. Tak bisa bedain mana yang bener-bener kebutuhan dan mana yang sekedar keinginan. Semuanya dianggap penting dan terpancing untuk belanja produk yang manfaatnya sedikit dan bernilai sesaat. Seperti pernak-pernik valentine yang hanya dipake pada hari H. Setelah itu, jadi sampah deh. Sayang kan? Padahal masih banyak kebutuhan lain yang jauh lebih bermanfaat. Uangnya bisa dipake untuk bersedekah atau beli buku yang manfaatnya lebih kerasa.

Itulah akibatnya kalo kita termakan oleh opini para kapitalis. Beli barang lebih banyak mempertimbangkan gengsi daripada fungsi. Dan parahnya, kita nggak akan pernah merasa puas dengan produk yang udah dibeli. Karena selalu ada produk baru yang gengsinya jauh lebih tinggi. Walhasil, kita jadi boros dan tekor se tekor-tekornya. Ini yang mengancam mental dan keuangan kita. Wajar dong kalo anti VD.

Ajang Baku Syahwat

Pren, romantisme dalam perayaan VD memancing para aktivisnya untuk jor-joran dalam mengekpresikan cinta pada pasangannya. Apalagi gaya hidup permisif alias serba boleh dalam berperilaku makin mewabah di kalangan remaja. Sehingga perayaan VD kian hari tak sekedar tukar kado atau candle light dinner aja. Tapi udah menjurus ke arah erotisme dan seks bebas. Nah lho!

Sebuah jajak pendapat dari Assumption University telah membuat heboh berbagai kalangan di Thailand. Hasil jajak pendapat terhadap 1.578 gadis usia belasan menyatakan bahwa sepertiga dari mereka berencana melakukan hubungan seks di Hari Valentine bila pacar mereka memintanya. Survey lain yang dilakukan oleh Universitas Thai terhadap 1.222 pemudi menemukan bahwa 11 persen dari mereka berencana menyerahkan keperawanannya pada malam valentine. (kompascommunity.com, 14/02/07)

Di Inggris, 14 Februari malah dicanangkan sebagai The National Impotence Day (hari impoten nasional) dengan tujuan meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap ancaman impotensi 2 juta pria Inggris. Sedang di AS lebih parah lagi. 14 Februari ditetapkan sebagai The National Condom Week (pekan kondom nasional). “Maksudnya kampanye nasional penggunaan kondom, karena tiap perayaan Valentine`s Day diikuti peningkatan kasus HIV/AIDS. Padahal tingkat kegagalan kondom mencapai 33,3 persen,” imbuh dr Andik Wijaya SMSH, seorang Seksolog dari Surabaya. (beritakesehatan.com, Rabu, 14/02/2001)

Di dalam negeri, seorang pernah penulis melakukan survei terhadap remaja pinggiran Kota Bandung seperti Cimahi, Batujajar, Padalarang, dan Lembang menjelang Valentine Day tahun lalu (2004). Dibantu Lembaga Telaah Agama dan Masyarakat (eL-TAM) penulis menyebarkan 500 angket ke siswa siswi tingkat SMA di daerah tersebut. Mengejutkan, dari 413 responden yang menjawab angket secara “sah” 26,4% di antaranya mengaku lebih suka merayakan Valentine Day bersama gebetan atau kekasih dengan jalan-jalan, makan-makan lalu berciuman (melakukan seks). (Pikiran Rakyat, 12 Februari 2005).

Pren, budaya seks bebas dalam perayaan VD bukan semata-mata perilaku oknum. Karena pelakunya banyak dan dari tahun ke tahun terus bertambah. Fakta di atas boleh jadi ibarat puncak gunung es. Hanya sedikit yang nongol ke permukaan, padahal di bawahnya bejibun. Jadi, sebuah kesalahan fatal kalo kita tetep melestarikan perayaan VD yang sekuler bin hedonis. Akur? Pastinya!

Jelas-jelas Budaya Kufur

The World Book Encyclopedia (1998) menuliskan terdapat banyak versi mengenai Valentine’s Day. Ada yang mengkaitkannya dengan perayaan Lupercalia, yaitu rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Saat itu, para pemuda mengundi nama –nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan obyek hiburan.

Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi perayaan Lupercalia dan mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. (The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity). Agar lebih mendekatkan pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini sebagai Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World Book Encyclopedia 1998).

The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” yang dimaksud. Salah satu versi menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan dari pada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (The World Book Encyclopedia, 1998).

Kebiasaan mengirim kartu Valentine itu sendiri tidak ada kaitan langsung dengan St. Valentine. Pada 1415 M ketika the Duke of Orleans dipenjara di Tower of London, pada perayaan hari gereja mengenang St.Valentine 14 Februari, ia mengirim puisi kepada istrinya di Perancis. Kemudian Geoffrey Chaucer, penyair Inggris mengkaitkannya dengan musim kawin burung dalam puisinya (The Encyclopedia Britannica, Vol.12 hal.242 , The World Book Encyclopedia, 1998).

Lalu bagaimana dengan ucapan “Be My Valentine?” Ken Sweiger dalam artikel “Should Biblical Christians Observe It?” (www.korrnet.org) mengatakan kata “Valentine” berasal dari Latin yang berarti : “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Jadi sebenernya, jika kita meminta orang “to be my Valentine”, hal itu berarti memintanya menjadi “Sang Maha Kuasa” dan menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Syirik tuh!

Adapun Cupid (berarti: the desire), si bayi bersayap dengan panah adalah putra Nimrod “the hunter” dewa Matahari. Disebut tuhan Cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri!

Pren, itulah asal-usul VD yang periwayatannya punya banyak versi. Meski begitu, satu hal yang udah pasti dan sangat jelas. Yaitu, VD bersumber dari budaya penyembahan terhadap berhala, penghormatan pada pastor, hingga kepercayaan terhadap dewa-dewa. Persis kaya budaya jahiliyah dulu sebelum Islam datang. Masa iya sih kita mau balik ke jaman kebodohan (jahiliyah)? Nggak lah yauw!

Demi Ridho Illahi

Pren, sikap anti VD bukan berarti nyari sensasi atau semata-mata pendapat pribadi. Melainkan untuk dapetin ridho Illahi. Karena berpartisipasi dalam perayaan VD sama dengan menggadaikan identitas kita sebagai muslim. Dan pastinya dibenci Allah swt. Rasul saw bersabda:

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari golongan mereka” (HR Abu Daud dan Imam Ahmad dari Ibnu Umar).

Bahkan Ibnul Qayyim mengingatkan,

“Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Bagi yang mengucapkannya, berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang kurang mengerti agama terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. Seperti orang yang memberi selamat kepada orang lain atas perbuatan maksiat, bid’ah atau kekufuran maka ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Allah.”

Tuh kan pren, sebagai muslim, nggak ada alasan bagi kita untuk ikut-ikutan VD. Nggak juga ngasih selamat. Justeru kita kudu berani bersuara. Ngingetin sodara-sodara kita biar nggak kebawa-bawa. Karena VD bagian dari penjajahan budaya Barat yang bisa merusak mental dan akidah umat Islam. Catet tuh!

Makanya kita harus siapkan pemikiran Islam yang ideologis dan benteng akidah yang kokoh. Biar kita berani dan percaya diri untuk membongkar kerusakan budaya Barat, menyuarakan kebenaran Islam, serta mengajak semua pihak aktif dalam perjuangan penegakkan pemerintahan Islam yang akan melindungi akidah umatnya. Saatnya kita mengenal Islam lebih dalam, aktif di pengajian, dan nggak egois bin individualis. Anti VD berarti ikut ngaji demi meraih ridho Illahi, dan bukan basa-basi. Yuk! [hafidz341@gmail.com]

About Hafidz341

Seorang islamic writepreneur yang suka menulis ttg dunia remaja dan Islam. Saat ini memegang amanah Pimpinan Redaksi Majalah Remaja Islam Drise (http://drise-online.com). Selain penulis, jebolan STIKOM Binaniaga Bogor ini juga dikenal sebagai praktisi internet dan sosmed marketing serta owner Ghofaz Computer.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Follow me on Twitter

%d blogger menyukai ini: