//
you're reading...
Buletin Bukamata

014. Asmara Before Merit

“Kebahagiaan tertinggi dalam kehidupan ini adalah kepastian bahwa anda dicintai seperti apa adanya, atau lebih tepatnya dicintai walaupun anda seperti diri anda adanya.” (Victor Hugo)

Kisah kasih remaja, identik dengan budaya pacaran. Bahkan pacaran kadung jadi identitas pergaulan modern yang banyak menyita waktu hidup remaja. Dimana aja dan kapan aja, tema pacaran selalu jadi obrolan hangat. Apalagi kalo udah merambah media televisi, pacaran dan cinta remaja terus bergulir menghasi sinetron-sinetron kacangan konsumsi kawula muda. Walhasil, remaja seolah tak punya pilihan untuk menyalurkan rasa cintanya kecuali dengan pacaran. Masa sih?

 

Disisi lain, remaja pun tak bisa menutup mata akan sisi gelap dunia pacaran. Dari hari ke hari, batas antara budaya seks bebas dan tren pacaran kian bias. Begitu juga dengan peningkatan penyakit sosial remaja yang berawal dari pacaran. Mulai dari aborsi, prostitusi, hingga tindakan kriminal sebagai bentuk lari dari tanggung jawab. Phew…ngeri juga ya? Gitu deh…

Tapi, kini muncul konsep pacaran Islami. Mencoba mengambil sisi baik budaya pacaran dan mengurangi sisi buruknya. Sehingga, pacaran masih mungkin dikendalikan biar nggak kebablasan. Kaya gimana sih pacaran islami?

Pacaran dalam Kacamata Islam

Sebelum ngomongin soal konsep pacaran Islami, bagusnya kita kupas dulu seluk-beluk budaya pacaran secara umum. Seperti apa sih kegiatan orang pacaran itu? Dan gimana kacamata Islam ngeliatnya? Lanjuut…

Pertama, ungkapan cinta. Boleh dibilang, ‘aksi penembakan’ ini adalah saat-saat menegangkan bagi para aktivis pacaran. Soalnya, penting banget buat kelanjutan hubungan kasihnya dengan pujaan hati. Kalo ditolak, hubungan cukup sampe level teman (temen apa TTM?). Kalo diterima, yes! Hubungan bisa lanjut ke yang lebih serius. Maksudnya, serius menuju pelaminan? Eits, jangan asal nuduh dong. Maksudnya, serius merhatiin isi dompet pacar. Dan pastinya, serius ngenal pacar luar dalam. Nah lho? Kaya servis mobil aja luar dalam. Hoeks!

Islam membolehkan kita untuk ungkapkan cinta kepada lawan jenis. Apalagi kalo sudah terikat khitbah (lamaran) sebelum bersanding di pelaminan. Itu artinya, nggak asal mengobral kata-kata cinta cuman untuk having fun, meluluhkan hati sang pacar, atau biar masuk tayangan reality show. Idih, nggak banget deh!

Kedua, body contact. Bagi orang pacaran, seolah ada aturan tak tertulis yang ’mengizinkan’ mereka untuk saling bersentuhan secara fisik. Mulai dari ’kegiatan biasa’ seperti pegangan tangan, hingga yang mendekati zina seperti pelukan, saling membelai, kissing, necking, atau petting.

Allah swt berfirman:

Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk. (QS. Al-Isrâ [17]: 32).

Aktivitas body contact orang pacaran udah masuk kategori mendekati zina seperti dilarang pada ayat di atas. Meski nggak selalu berujung pada zina hakiki (coitus), bukan berarti kegiatan fisik itu dianggap aman. Tetep aja dibenci Allah kalo nggak segera bertaubat. Malah Imam An-Nawawi menjelaskan dalam kitabnya Shahih Muslim bi Syarah an-Nawawi, ada manusia yang melakukan zina hakiki, ada juga yang melakukan ’zina’ melalui indera mereka. Termasuk diantaranya dengan cara menyentuh tangan ajnabiyah (bukan mahram) dengan tangannya. Tuh kan?

Ketiga, berdua-duaan. So pasti orang pacaran selalu pengen berduaan dengan pasangannya. Dimana saja, kapan aja. Dengan pengawasan, apalagi kalo kalo nggak diawasi. Biar bisa ngobrol lebih bebas dan intim diselingi canda tawa mesra yang kian mendekatkan hubungan cinta mereka. Pihak ketiga yang mau ikutan nimbrung, mesti izin dulu. Kecuali setan kali yaa. Soalnya setan kan nggak keliatan, jadi bisa dengan mudah menyelinap diantara mereka dan menggoda hati keduanya untuk mendekati zina.

Kondisi inilah yang dalam Islam dikenal dengan istilah khalwat. Dan nggak ada satu ulama pun yang menolak keharaman khalwat. Sebagaimana sabda Rasul saw:

“Janganlah seorang pria berdua-duaan (dengan wanita non-mahram) dan janganlah seorang wanita bepergian kecuali bersamanya mahramnya.” (HR. Bukhari). Dalam riwayat Imam Ahmad dan at-Tirmidzi ada tambahan, “karena yang ketiganya adalah setan”.

Pren, dari penjelasan di atas, dengan sangat ’menyesal’ kita mau bilang kalo pacaran itu nggak ada dalam Islam. Kecuali pasca merit kali yaa….

Bagaimana dengan Pacaran Islami?

Opini pacaran Islami kian menguat ketika ada pihak yang gencar mengkampanyekannya disertai dalil-dalil syar’i untuk membenarkan aktivitas pacaran versi Islam. Seperti boleh berkhalwat asal diawasi, boleh berpegangan tangan seperlunya tanpa nafsu, boleh boncengan dengan menjaga jarak biar tak bersentuhan, atau boleh mengobral cinta, dan tetep menjauhi zina. Saking ngototnya, pengusung ide pacaran Islami ini juga ngulik beberapa buku penghujat pacaran kemudian menghujat balik opini yang tertulis didalamnya. Lantas, untuk apa pacaran diislamisasi?

Untuk ngasih kemudahan bagi para aktivis dan simpatisan pacaran islami dalam menjalin percintaan sebelum menikah. Selain itu, dengan pacaran Islam bisa turut memperbaiki citra Islam yang sering dihubungkan dengan terorisme dan kekerasan. Begitulah pernyataan tertulis pengusung ide pacaran Islami diakhir seruannya. Hmm…dengan tanpa mengurangi rasa hormat akan perbedaan pendapat, ada hal yang mengganjal membaca tujuan islamisasi pacaran.

Pertama, kalo untuk memudahkan, bukankah Islam juga udah ngasih kemudahan dengan aturan khitbah (pinangan) yang jelas dan tegas sebelum menikah. Sehingga tetep bisa kenal lebih dekat satu sama lain sebelum ke jenjang pernikahan. Apa ketegasan aturan khitbah yang mulia dianggap menyulitkan sehingga harus mengadopsi ide pacaran dan dikasih label ‘islami’ biar syar’i? Atau malah ngikutin ‘selera pasar’ yang lebih familier dengan istilah ‘pacaran’ dibanding ‘khitbah’ sehingga masyarakat lebih mudah menerima Islam dengan sedikit ‘rekayasa’? wallahu a’lam.

Kedua, kalo dikaitkan dengan terorisme dan kekerasan, selain gak nyambung, konsep pacaran Islami lebih terlihat seperti bentuk pembelaan diri agar terlepas dari tuduhan miring terhadap Islam. Padahal, yang ngasih cap negatif terhadap Islam adalah musuh-musuh Islam. Kalo kita yakin Islam nggak seperti yang dituduhkan, untuk apa cemas dan takut untuk menyuarakan kebenaran Islam apa adanya. Dan bagusnya, untuk memperbaiki citra Islam tentunya dengan membongkar makar dan fitnah musuh-musuh Islam. Bukan malah merasa terpojok lalu bersikap defensif apologetik. Eits, apaan tuh?

Defensif apologetik adalah upaya pembelaan diri dengan menggunakan pola pikir pihak penyerang karena takut dianggap berbeda dengan orang lain. Misalnya, ketika dinilai aturan Islam tuh kaku dan nggak bisa ngikutin zaman. Terus kita bilang, “eits, kata siapa? Aturan Islam fleksibel kok. Busana muslimah aja bisa trendy bin fashionable. Yang penting kan menutup aurat.” Niatnya menjelaskan, eh malah menjatuhkan. Orang yang bersikap defensif apologetik biasanya akan terseret untuk terjebak dalam alur pemikiran pihak penyerang. Jadi nggak pede dengan dirinya. Berabe tuh!

Cukup Khitbah, Tak Perlu yang Lain!

Pren, kalo kita serius mau menjalin cinta sebelum merit dengan pujaan hati, Islam udah punya aturan khitbah (pinangan) yang jelas dan tegas. Ust. Sayyid Sabiq menjelaskan, khitbah berarti kita meminta seorang perempuan untuk berkeluarga, yaitu untuk kita nikahi dengan cara-cara ma’ruf. Nggak sekedar bilang “Aku cinta kamu”, tapi mesti ada pernyataan untuk menjadikan dia sebagai istri. Bukan pacar!

Secara umum, prosesi khitbah diawali dari ketertarikan kita kepada lawan jenis. Terus, dilanjutkan dengan nyari tahu latar belakang incaran hati. Setelah infonya memadai dan doi belum ada yang khitbah, sang pejuang bisa mengutarakan maksud untuk memperistrinya. Kalo di-acc, dilanjutkan rencana pemberitahuan pada calon mertua. Calon kita ngasih tau ortunya kalo ada pria yang mau melamarnya dan kita siapkan mental untuk melobi camer. Kalo camer dah oke, kita harus berani ngasih perkiraan waktu pernikahan. Lebih cepat lebih baik. Itu menunjukkan kalo niat kita serius, bukan cuman having fun!

Yang perlu kamu garis bawahi, khitbah itu semacam nandain aja kalo sang pujaan hati udah kita ikat dengan pinangan untuk mengenalnya lebih dekat sebelum merit. Itu artinya, khitbah belum tentu positif bakalan nikah. Ada kemungkinan nggak jadi karena satu dan lain hal. Makanya, sebaiknya jangan diumbar sana-sini kalo udah khitbah. Cukup orang terdekat aja yang tahu. Biar citra baik satu sama lain tetep terjaga, meski udah nggak terikat khitbah lagi.

Terakhir, aturan main pasca khitbah tetep terikat dengan rambu-rambu pergaulan Islam yang dikupas di awal tulisan ini. Diluar itu, kita boleh berkomunikasi via sms atau ngomong langsung di telepon, boleh ngeliat calon kita atau saling ngirim hadiah. Dan kalo udah terikat khitbah, calon kita nggak boleh terima ’proposal’ yang diajukan cowok lain. Dan kita pun dilarang keras untuk mendua. Biar sama-sama fokus. Siip kan?

Demikianlah gambaran singkat tentang aturan khitbah dalam Islam. Biar kita pada tahu kalo Islam punya aturan hidup yang lengkap. Termasuk aturan dalam menjalin cinta before merit. Meski popularitas khitbah kalah pamor dibanding budaya pacaran, nggak lantas bikin kita minder terus melupakannya. Allah swt berfirman:

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya Telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya Maka sungguhlah dia Telah sesat, sesat yang nyata. (QS. Al-Ahzab [33]: 36)

Nah pren, semoga keyakinan kita akan kemuliaan aturan hidup Islam tetep berkobar ya. Meski musuh-musuh Islam nggak bosen-bosennya menebar fitnah yang keji terhadap Islam dan kaum Muslimin. Jangan sampai kita terjebak, terus ngerasa tertuduh, dan akhirnya bersikap defensif apologetik. Nggak banget deh. Makanya, mari kita dongkrak kepercayaan diri kita sebagai muslim. Kenali Islam lebih dalam. Suarakan kebenaran Islam ditengah serangan tren budaya barat yang sekuler. Karena Islam memuliakan kita dunia akhirat. Akur? Yo’i! [hafidz341@gmail.com]

About Hafidz341

Seorang islamic writepreneur yang suka menulis ttg dunia remaja dan Islam. Saat ini memegang amanah Pimpinan Redaksi Majalah Remaja Islam Drise (http://drise-online.com). Selain penulis, jebolan STIKOM Binaniaga Bogor ini juga dikenal sebagai praktisi internet dan sosmed marketing serta owner Ghofaz Computer.

Diskusi

One thought on “014. Asmara Before Merit

  1. izin share ya mas ….???

    Posted by sofy | 04/11/2010, 04:58

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Follow me on Twitter

%d blogger menyukai ini: