//
you're reading...
Buletin Bukamata

016. Kisah Konser Kelabu

“Berbahagialah orang yang tidak membuang waktu dengan percuma”. (Al-Ghazali)

Beside! Group band beraliran metal rock asal kota kembang ini mendadak populer. Terutama pasca kesuksesan launching album pertama mereka yang digelar pada malam minggu, 09 Februari 2008 lalu di Gedung Asia Africa Confention Center (AACC) Bandung. Selain sukses memancing kehadiran lebih dari 1000 anak muda bandung plus komunitas underground, acara ini juga sukses menarik perhatian publik lantaran menelan korban jiwa hingga 11 remaja. Tragis ya..

Ortu Muchammad Yusuf Ferdian (19) nggak nyangka kalo anak sulungnya akan jadi korban tragedi konser maut beside. Begitu juga dengan ortu Novi Fibriani (15), yang harus kehilangan putri tecintanya. Atau ortu Akhmad Wahyu (18) yang tanpa firasat melepas putranya nonton konser. Eh yang balik ke rumah malah kabar duka dari pak polisi. Kesedihan yang sama dirasakan oleh semua keluarga korban. Niat para korban mau senang-senang, yang terjadi justru nyawa melayang. Hiks..hiks..hiks…

Bukan yang Pertama

Dalam catatan Kompas, kerusuhan saat konser yang pernah meminta korban 10 orang pernah terjadi di Stadion Manggala Krida, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, pada 19 Desember 2006 dalam konser grup band Ungu. Seminggu sebelum tragedi konser maut Beside, konser musik band Kapten di Lapangan Leuwiliang, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (2/2) malam juga berakhir ricuh. Sebelas orang dilaporkan terluka dalam insiden tersebut. (Liputan6.com, 03/02/08).

Pada Juni 2007 lalu, kerusuhan juga terjadi pasca konser musik ýý‘The Titans’ , ‘Ada Band’, dan ‘Tahta’ di GOR (Gedung Olah ýRaga) Timur di Jl. A.Yani, Bekasi, Jawa Barat, (18/06), yang ýmenelan 1 orang tewas karena tersengat listrik dan 9 orang ýluka-luka di kepala. Begitu juga dalam acara ‘Gudang Garam Rock ýCompetition’(17/06) di Gelora Bung Karno, Jakarta. Meski ýtidak menelan korban jiwa namun yang mengalami luka-luka ýberjumlah lumayan. Menyusul di Stadion Sangkuriang, Cimahi, ýJawa Barat, (23/06) saat konser PAS Band dan J Rock dalam program “X Mild Noize” yang menelan ýkorban 3 orang tewas. (krosceknews.com, 25/06/07). Dalam waktu satu bulan udah makan korban 4 jiwa. Masya Allah!

Menurut pengamat musik, Bens Leo, dari jamannya ýMick Jagger ngadain konser, kerusuhan emang udah jadi langganan. Namun, Bens menolak kalo penyebabnya adalah kesalahan para musisi atau jenis musik yang mereka usung. ýBens lebih ngelihat penyebabnya dari kacamata komersial. Biasanya jumlah tiket yang dijual jauh ýlebih besar dari jumlah kapasitas gedung. Jadinya over quota dan banyak penonton yang ‘game over’!

Pren, kenyataannya emang aliran musik gak berbanding lurus dengan kericuhan dalam konser. Mau konser musik pop, metal, rock, ska, atau dangdut, semuanya bisa makan korban. Kalo kita itung-itung, bukan satu atau dua orang aja yang jadi korban. Tapi puluhan yang meninggal bahkan mungkin ratusan yang terluka. Udah gitu, mayoritas korban adalah remaja yang menjadi harapan orang tua, juga bangsa dan negara. Ngenes ya. Anehnya, konser musik tetep aja digelar. Apa nunggu jumlah korban yang lebih banyak lagi? Jangan gila dong!

Konser Musik = Ladang Duit

Bukan rahasia lagi kalo bisnis konser musik termasuk lahan ’kursi basah’. Bukan lantaran kebanjiran lho, tapi emang lumayan kenceng aliran duit masuknya. Terutama bagi musisi dan event organizer (EO) atau promotor. Seperti kata promotor gaek Adrie Soebono, “selama artis masih membuat album rekaman, waktu penyelenggaraan konser mereka tak akan pernah jauh dari saat karya mereka dilepas ke pasar. Di situ pula peluang bisnis pertunjukan terbuka lebar. Kaki artis berada di dua kutub berbeda. Satu di perusahaan rekaman, satu lagi di promotor” .

Bagi kalangan musisi, konser musik udah jadi agenda wajib untuk jaga popularitas. Apalagi kalo baru merilis album anyar, pastinya mesti ngadain road show ke kota-kota besar demi mendongkrak penjualan album (Daripada keduluan ama tukang bajak). Selain ajang promosi, konser musik juga ngasih penghasilan tambahan bagi musisi. Riset terhadap pasar di Amerika, tempat kecenderungan konser musik bermula, pada tahun 1982, sekitar 1% artis-artis top menerima 26% pendapatan dari konser. Pada tahun 2003, angka ini meningkat hingga 56%. (BBC Indonesia.com, 21/04/06)

Dalam satu karya ilimiahnya, seorang ekonom di Princeton University di Amerika, Alan Krueger mengatakan, konser-konser musik sekarang menjadi sumber pendapatan lebih besar bagi para bintang-bintang paling top dibandingkan penjualan CD. “Dari 35 artis top sebagai keseluruhan, pendapatan dari tur musik melebihi pendapatan dari penjualan rekaman, dengan rasion 7.5 dibanding satu pada tahun 2002.” (idem).

Selain musisi, pihak promotor dan EO juga kebagian untung segunung dalam setiap hajatan konser musik. Apalagi konsumen musik nggak ada matinya. Seperti dilontarkan Imam Raharjo, bos DAS Communication, event organizer musik terbesar di Jawa Tengah. “Masyarakat masih haus dengan pertunjukan musik yang sifatnya massif.” Nggak heran kalo Harry Koko, pimpinan Deteksi Production, bersama krunya sudah menggelar konser di 800 kota besar dan kecil di Tanah Air. Dan di tiap konsernya, selalu sukses menghadirkan ribuan penonton. (Gatra, 13/02/04) Untung terus dong? Pastinya!

Emang segede apa sih keuntungan para promotot atau EO dari bisnis konser musik? “Untungnya bisa sampai Rp 1 milyar,” kata Adrie Subono yang rajin ngedatengin artis-artis mancanegara untuk ‘berkicau’ di dalam negeri. Dalam setiap konsernya, apabila tiket dijual dengan harga rata-rata Rp 300.000 dan sold out sejumlah 5000 tiket, maka promotor sudah akan mengantongi Rp 1,5 miliar dengan keuntungan bersih hingga Rp 420 juta setiap konsernya. Bayangin kalo dalam satu tahun ada 3-4 konser, maka keuntungan yang didapat bisa mencapai Rp 1,26-1,68 miliar. (idem)

Lain lagi ceritanya kalau sponsor bisa menutup 100% dari biaya produksi. Keuntungan pun bisa melonjak mencapai Rp 1 miliar, setiap konsernya. Belum lagi tambahan pemasukan lain dari hak siar konser yang bisa dijual ke stasiun TV dengan harga $10.000-20.000. Wuiih…promotor bisa nyaingin paman gober tuh!

Bagaimana dengan promotor artis lokal? Pengalaman Log Zhelebour bisa menjadi pembanding. Untuk sebuah paket tur ke tiga hingga lima kota, Log mengaku bisa mengantongi keuntungan sebesar Rp 1 milyar. Untuk memperbesar keuntungan, Log melakukan investasi hinga Rp 500 juta untuk membeli sejumlah peralatan dan perlengkapan pertunjukan. “Investasi itu sudah terbayar dari keuntungan konser yang ada,” katanya.

Pren, siapa sih yang nggak ngiler ngeliat untung segunung dari bisnis konser musik. Meski resikonya gede, kayanya pertunjukkan konser musik akan tetep merajalela. Ngikutin kaidah ekonomi kapitalis. Selama maniak musik banyak yang minta, selama itu pula konser musik tetep menyala. Kapan aja dimana aja, nggak ada matinya. Kalo udah gini, tragedi konser maut Beside boleh jadi bukan yang terakhir. Inilah resiko hidup di alam kapitalisme yang mendewakan hiburan (having fun). Karena itu, saatnya kapitalisme hengkang dari bumi pertiwi!

Nonton Konser? Pikir Lagi Deh!

Pren, kita bukan hendak mendramatisir kalo setiap konser musik pasti ricuh dan makan korban. Kita sekedar ngingetin aja kalo konser musik itu nggak ada yang bebas resiko. Meski panitianya udah berpengalaman atau jumlah aparat cukup memadai, belum tentu kondisinya selalu aman. Karena suasana having fun dalam pagelaran musik yang memancing penonton untuk bebas berekspresi tanpa kendali. Ini yang bikin repot. Bisa berujung bentrok antar penonton atau malah ribut dengan aparat. Psikiater dari Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, Teddy Hidayat, menjelaskan, musik memang berpengaruh terhadap perilaku pendengarnya. Musik jazz atau keroncong yang relatif lembut membuat pendengarnya tenang. Sebaliknya, musik rock atau underground memicu pendengarnya agresif. (kompas, 15/02/08).

Dari beberapa kasus, konser musik ngasih peluang hadirnya ’tamu tak diundang’ seperti minuman keras dan narkoba. Seperti pembagian bir yang diakui personel band Beside dalam Metro Realitas (20/02/08). Tamu tak diundang ini yang bisa bikin situasi tambah runyam. Pengaruh miras dan narkoba memicu perilaku beringas penonton yang berujung kericuhan. Seperti yang terjadi pada Konser Musik Ngamen ala Jarum Black di Belawan (26/01/08). Atau saat aksi panggung The Soultans dengan Andi, vokalis grub band /Rif (28/11/07) di lapangan Pemuda, Cirebon.

Di luar panggung, resiko konser musik juga diawali dari kekecewaan para penonton yang keabisan tiket atau keabisan duit tuk beli tiket. Lantaran udah dateng jauh-jauh, mereka ngotot untuk masuk. Kalo cuman satu orang sih masih bisa dicegah. Tapi kalo jumlahnya puluhan bahkan ratusan, panita dan aparat keamanan juga angkat tangan. Keributan pun tak bisa dihindari. Rawan banget ya?

Pren, selain resiko-resiko di atas, kemaksiatan lain juga sering terjadi dalam pagelaran konser musik. Adanya campur baur penonton laki perempuan (ikhtilat) serta penampilan musisi wanita atau penonton wanita yang mengumbar aurat, menambah daftar hitam aktivitas konser musik dalam kacamata Islam.

Kalo kita ada di sana, kita nggak boleh cuek bebek dan wajib melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Nabi Saw bersabda:

“Siapa saja di antara kalian melihat kemungkaran, ubahlah kemungkaran itu dengan tangannya (kekuatan fisik). Jika tidak mampu, ubahlah dengan lisannya (ucapannya). Jika tidak mampu, ubahlah dengan hatinya (dengan tidak meridhai). Dan itu adalah selemah-lemah iman.” [HR. Imam Muslim, an-Nasa’i, Abu Dawud dan Ibnu Majah].

Kalo kita nggak bisa mengubah kemaksiatan yang ada di depan mata, angkat kaki dari TKP lebih baik daripada diam, pura-pura nggak tahu, atau asyik dengan urusannya sendiri. Abu Ali bin Daqqaq mengibaratkan, orang yang diam terhadap kemungkaran yang ada di depan mata sama dengan setan yang bisu (Idih, udah disamaian dengan setan, bisu lagi. Masa mau sih?). Bahkan, Rasulullah SAW menyamakan diam tersebut dengan ikut membiarkan suatu keburukan terjadi. Nah lho, alamat kecipratan dosa tuh!

Nah pren, dari penjelasan di atas, kayanya nggak ada alasan bagi kita untuk nonton konser musisi idola yang kini banyak digelar. Selain bertabur kemaksiatan, konser musik juga akan menghanyutkan kita dalam gaya hidup having fun, mengejar kesenangan dunia dan melupakan kehidupan akhirat. Resikonya gede banget lho. Waktu hidup kita akan banyak terbuang sia-sia. Padahal masih banyak kewajiban yang mesti kita tunaikan dan harapan ortu yang kudu dipenuhi. Dan tak ada yang bisa mengembalikan waktu kita yang sudah terbuang. Nggak para musisi. Nggak juga artis idola kita. Jadi, konser musik? Pikir lagi deh! [hafidz341@gmail.com]

About Hafidz341

Seorang islamic writepreneur yang suka menulis ttg dunia remaja dan Islam. Saat ini memegang amanah Pimpinan Redaksi Majalah Remaja Islam Drise (http://drise-online.com). Selain penulis, jebolan STIKOM Binaniaga Bogor ini juga dikenal sebagai praktisi internet dan sosmed marketing serta owner Ghofaz Computer.

Diskusi

One thought on “016. Kisah Konser Kelabu

  1. enak aja !!!!!

    band metal itu salah satu rantai!!!

    rantai kehidupan!!!!

    Posted by moldy | 10/09/2008, 05:22

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Follow me on Twitter

%d blogger menyukai ini: