//
you're reading...
Buletin Bukamata

017. Islam Dulu, Kini, dan Esok

“Barangsiapa yang menjadikan Allah SWT sebagai sandaran harapannya,
Allah akan mencukupkan baginya urusan agama dan dunianya.”
(Ali bin Abi Thalib)

Dont judge the book by it cover. Begitu kata orang bule. Pas mau beli buku, bagusnya emang jangan cuman liat kovernya aja. Liat juga isinya. Dan yang paling penting, harganya! Biar pertimbangannya komplit dan memuaskan. Soalnya repot kalo kita menilai sesuatu, tapi dengan modal informasi yang pas-pasan. Bisa-bisa kita kecele bin kecewa dibuatnya. Cape deh!

Termasuk saat kita menilai Islam. Sekarang, banyak info yang mengupas ajaran Islam tapi masih malu-malu kucing. Nggak berani menampilkan Islam apa adanya. Ajaran Islam dikarantina dalam ruang ibadah ritual. Nggak boleh campur tangan ngurus negara, pemerintahan, sosial, pendidikan, atau politik luar negeri. Ketegasan sikap para aktifis Islam dianggap kaku, diskriminatif, atau malah dianggap biang konflik. Sebaliknya, media massa ngasih ruang sangat luas untuk ide-ide Islam yang fleksibel dan menyamakan semua agama (sinkretisme). Bahaya tuh pren!

Walhasil, kita sebagai umat Islam makin jauh dari ajaran Islam yang lengkap dan sempurna. Kita terhanyut dalam ide sekularisme yang memisahkan aturan Islam dari kehidupan sehari-hari. Padahal, nggak ada ruginya bagi kita untuk mengenal Islam lebih dalam. Betul?!

Dulu, From Zero to Hero

Islam mulai menyapa umat manusia setelah Nabi Muhammad diangkat menjadi rasul pada usia 40 tahun. Perlahan namun pasti, Islam mulai menyebar di Mekkah meski nggak mudah. Apalagi saat itu Islam harus berhadapan dengan budaya paganisme (penyembahan kepada berhala) di Mekkah. Tak jarang, tekanan fisik dan mental kerap kali menghadang Rasul dan para shahabat. Walhasil, selama 13 tahun dakwah di Mekkah, hanya beberapa gelintir aja penduduk Mekkah yang bersyahadat.

Lalu Rasul mengutus Mushab bin Umair ke Habsyah (Madinah) untuk menyebarkan Islam. Hasilnya, cukup menakjubkan. Dalam jangka waktu satu tahun, para penduduk dua suku terbesar di Madinah (suku auz dan khajraz) berbondong-bondong masuk Islam. Rasul pun bersama para shahabat Mekkah berhijrah ke Madinah.

Di Madinah, Islam sebagai agama sempurna kian menunjukkan tajinya. Tak lagi sekedar agama ritual. Rasul menunjukkan pada dunia, bagaimana Islam mampu mengatur urusan rakyat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dengan layak. Untuk itu, Rasul dan para shahabat pun menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia. Tak heran jika banyak pemikir Barat yang dengan jujur mengakui kebesaran Islam dan Nabi Muhammad saw.

Seperti dituliskan Lamartine, seorang pemikir Barat dalam bukunya Histroie de la Turque,

“Bila kebenaran tujuan dan kecilnya alat serta hasil yang menakjubkan merupakan tiga ukuran kebesaran manusia, maka siapakah yang berani memandingkan Muhammad dengan orang besar dalam sejarah modern? Orang-orang yang paling mashyur menciptakan senjata, undang-undang, dan ekspereimen belaka. Yang mereka bangun tidak lebih dari kekuatan materiil yang sering ambruk di hadapan mereka sendiri. Sementara laki-laki itu (Muhammad saw), ia menciptakan kebangsaan spiritual yang mempersatukan manusia dari segala ras dan bahasa”.

Pasca Rasul wafat, kejayaan Islam makin bersinar. Hal ini ditunjukkan oleh Tariq bin Ziyad bin Abdullah. Seorang panglima perang Islam yang sukses menaklukkan semenanjung Andalusia (Semenanjung Iberia yang sekarang meliputi negara Spanyol dan Portugis) pada tahun 713 M. Atau Sultan Muhammad al-Fatih yang menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453 M.

Sayangnya, pada abad ke-19, sinar kejayaan Islam mulai redup. Lambat laun, daerah kekuasaan Islam terpecah-belah akibat ide nasionalisme yang dihembuskan agen Barat di negeri-negeri Islam. Puncaknya, pada tanggal 03 Maret 1924 atau 28 rajab 1342 H, Khilafah Islamiyah dihapuskan dengan paksa oleh agen Yahudi Mustafa Kemal at-Taturk dan diganti dengan sistem Republik. Sejak saat itu, Islam dan Umat-nya kehilangan penjaga, pengayom, dan pelindungnya. Hiks..hiks..hiks..

Kini, Bagai Buih di Lautan

Runtuhnya kekhilafahan Islam terakhir di Turki, otomatis menghilangkan satu-satunya pelindung umat Islam di seluruh dunia. Kisah sedih dan memilukan pun tak henti-hentinya mengalir dari saudara kita di Turki, Palestina, Afghanistan, Libanon, China, dan negeri lainnya.

Turki, yang dulunya jadi pusat pemerintahan Islam, justru kini makin jauh dari Islam. Larangan pake jilbab dari pemerintah menyertai hari-hari muslimah Turki, terutama mahasiswi. Meski udah dicabut oleh pemerintah Erdogan, tapi sebagian perguruan tinggi masih memberlakukan larangan berjilbab itu. Menurut laporan media massa di Turki, ada tiga universitas di Istanbul, dua universitas di Ankara, lima universitas di propinsi Izmir dan enam universitas lainnya di enam kota, menyatakan akan tetap mempertahankan larangan berjilbab (Eramuslim.com, 26/02/08).

Palestina, negeri tempat berdirinya masjidil aqsha hingga kini pun masih berduka. Sejak awal Pebruari 2008, Penerangan Organisasi Nufhah Untuk Perlindungan Hak-Hak Tawanan dan Kemanusiaan Palestina menyebutkan, sebanyak 51 warga Palestina telah meninggal syahid akibat kekejaman serdadu bengis Israel (InfoPalestina.com, 25/02/08).

Sementara di Denmark, untuk kedua kalinya media massa negara viking ini melecehkan Nabi Muhammad saw. Pada tahun 2005 lalu, Koran Jyllands-Posten Denmark menerbitkan kartun-kartun Nabi Muhammad saw yang membawa pedang dan menenteng ‘bom’. Kini, pada hari Rabu (13/2/2008), karikatur yang melecehkan dan menghina Islam tersebut dimuat kembali oleh sebelas media massa terkemuka di Denmark dan televisi nasional, termasuk Koran Jyllands-Posten (hizbut-tahrir.or.id, 19/02/08).

Padahal ketika kekhilafahan Islam masih ada, kemuliaan Islam dan kaum Muslimin di seluruh dunia selalu terjaga. Seperti ditunjukkan Khalifah Al Mu’tashim Billah (180H-227H) yang menyerbu Romawi dan menaklukkan Amuria, demi membela seorang muslimah yang dilecehkan orang Yahudi. (Imam As Suyuthi, Tarikhul Khulafa: 309-311).

Atau Khalifah Abdul Hamid yang mengancam Prancis dan Inggris untuk menghentikan pementasan drama yang diambil dari hasil karya Voltaire. Isinya bertemakan “Muhammad atau Kefanatikan”. Di samping mencaci Rasulullah saw., drama tersebut juga menghina Zaid dan Zainab. Melihat keseriusan Khalifah dalam menjaga kehormatan Rasulullah saw. tersebut, Pemerintah Inggris dan Prancis segera membatalkan pementasan drama itu (Majalah al-Wa‘ie, No. 31, 2003).

Masalahnya sekarang, para penguasa negeri-negeri Muslim tak berdaya. Mereka cuman bisa mengecam atau mengutuk kalo ada peristiwa yang menyakitkan umat Islam. Padahal kalo mereka berani, bisa saja mengirimkan bala tentaranya untuk membantu pejuang Palestina. Atau memboikot kiriman minyak bumi ke negara-negara Eropa. Sayangnya, mereka lebih takut kepada Amerika dan lebih cinta dunia dibanding Allah dan Rasul-Nya. Nggak heran kalo jumlah umat Islam yang bejibun tak punya kekuatan dan hanya jadi bulan-bulanan.

Kondisi ini seperti digambarkan Rasul saw dalam sabdanya:

“akan datang suatu masa, dalam waktu dekat, ketika bangsa-banga (musuh-musuh Islam) bersatu-padu mengalahkan (mempe-rebutkan) kalian. Mereka seperti gerombolan orang rakus yang berkerumun untuk berebut hidangan makanan yang ada di sekitar mereka’.

Salah seorang sahabat bertanya: ‘Apakah karena kami (kaum Muslimin) ketika itu sedikit?’ Rasulullah saw menjawab: ‘Tidak! Bahkan kalian waktu itu sangat banyak jumlahnya. Tetapi kalian bagaikan buih di latas lautan (yang terombang-ambing). (Ketika itu) Allah telah mencabut rasa takut kepadamu dari hati musuh-musuh kalian, dan Allah telah menancapkan di dalam hati kalian wahan’.

Seorang sahabat bertanya, ‘Ya Rasululah, apa yang dimaksud dengan wahan itu?’ Dijawab oleh Rasullah saw: ‘Cinta kepada dunia dan takut (benci) kepada mati’. (HR. Bukhari)

Esok, Islam Akan Kembali Jaya

Kondisi umat Islam yang kian terpuruk, bikin minder bin pesimis sebagian dari kita. Nggak yakin kalo umat Islam bisa bangkit dari kubur, eh dari penjajahan di segala bidang. Seolah-olah penerapan aturan Islam oleh negara cuman penghias lembaran sejarah kejayaan Islam di masa lalu. Padahal, Allah swt udah ngasih jaminan bahwa Islam akan kembali memimpin dunia seperti dalam firman-Nya:

Dan Allah Telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana dia Telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang Telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. (QS. An-Nûr [24]: 55)

Meski bangsa Israel nggak mau angkat kaki dari tanah suci Palestina, bukan berarti kita putus harapan untuk melawan mereka. Ini cuman masalah waktu pren. Lantaran, Rasul udah ngasih kabar gembira dalam sabdanya:

“Tidak akan terjadi hari kiamat sampai kaum Muslimin memerangi Yahudi. Maka kaum Muslimin menggempur mereka sampai orang-orang Yahudi bersembunyi di balik-balik batu dan pepohonan. Batu-batu dan pepohonan itu lalu berkata: ‘Hai Muslim, hai hamba Allah, ini ada Yahudi di belakangku, kesinilah dan bunuhlah ia!’ kecuali pohon Gharqad karena sesunguhnya pohon itu termasuki pohon Yahudi.” (HR. Bukhari)

Ini bukan ramalan lho kalo Islam akan kembali jaya. Tapi janji Allah swt dan rasul-Nya yang pasti terjadi walaupun musuh-musuh Islam nggak ridho. Allah swt menegaskan dalam firman-Nya:

Dan Bersabarlah kamu, Sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu. (QS. ar-Rûm [30]: 60)

Pren, semoga gambaran kondisi Islam dan kaum Muslimin di atas bisa menyadarkan kita semua. Kejayaan Islam di masa lalu, bukan cuman isapan jempol. Keterpurukan Islam di masa kini, akibat sekularisasi. Dan kebangkitan Islam di masa datang adalah sebuah kepastian. Kalo udah sadar, saatnya kita bergerak. Ikut memperkuat barisan perjuangan Islam. Kalo belum sadar, saatnya mengenal Islam lebih dalam. Keduanya pilihan cerdas dalam hidup kita. Karena disana, kebahagiaan dunia dan akhirat siap menyambut kita. Tunggu apalagi? Berangkaaat! [hafidz341@gmail.com]

About Hafidz341

Seorang islamic writepreneur yang suka menulis ttg dunia remaja dan Islam. Saat ini memegang amanah Pimpinan Redaksi Majalah Remaja Islam Drise (http://drise-online.com). Selain penulis, jebolan STIKOM Binaniaga Bogor ini juga dikenal sebagai praktisi internet dan sosmed marketing serta owner Ghofaz Computer.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Follow me on Twitter

%d blogger menyukai ini: