//
you're reading...
Buletin Bukamata

019. Potret Prihatin Rakyat Miskin

“Dermawan itu apabila memberi tanpa diminta. Sedangkan memberi karena diminta itu,mungkin karena malu atau pura-pura dermawan.” (Ali bin Abi Thalib)

Aco, bocah 4 tahun penderita kurang gizi (marasmus) ini untungnya masih sempat dilarikan (tapi Aco-nya nggak ikut lari lho..) ke RS Haji Makassar, Sulsel untuk dapetin perawatan. Nasibnya masih lebih baik dibanding ibu tercinta, Daeng Basse (27th) yang tengah mengandung calon adiknya serta kakaknya, Bahir (5th). Nyawa keduanya nggak ketolong lagi setelah menderita penyakit diare akut lantaran tiga hari nggak makan (Detik.com, 01/03/08). Masya Allah!

Selain Bahir, ada Dikri (3th) di Tasikmalaya, dan Fadlih (belum genap berusia dua bulan) di Bekasi yang juga bernasib sama. Orang tua mereka masing-masing, cuman bisa ikhlas melepas kepergian buah hatinya. Meski ada penyesalan karena nggak bisa menghidupi anaknya dengan layak. Tapi apa mau dikata, mereka bukan ortu tajir yang berlimpah harta. Mereka cuman rakyat jelata yang hidup pas-pasan di negeri makmur yang dijuluki gemah ripah loh jinawi. Tragis!

Keprihatinan Tak Berujung

Kisah getir keluarga Aco, mewakili potret prihatin kehidupan keluarga miskin di sekitar kita. Penghasilan kepala keluarga yang pas-pasan nggak mampu menjangkau tingginya harga kebutuhan pokok. Harga beras, minyak tanah, minyak goreng, semua pada naik. Akibatnya, daya beli masyarakat menurun drastis. Boro-boro kepikiran menu empat sehat lima sempurna, bisa makan sehari satu kali aja udah alhamdulillah banget. Meskipun cuman nasi aking (nasi bekas yang dikeringkan dan diolah kembali) atau dedak (makanan untuk ayam). Ujung-ujungnya, penyakit busung lapar atau gizi buruk selalu membayangi hari-hari mereka.

Menurut harian Suara Pembaruan tanggal 11 Juli 2007, Badan Dunia yang menangani masalah pangan, World Food Programme (WFP) memperkirakan, anak Indonesia yang menderita kelaparan akibat kekurangan pangan saat ini berjumlah 13 juta orang. Sementara penderita gizi buruk di Indonesia, menurut Menkes Siti Fadilah Supari, tahun 2007 lalu ada 4,1 juta kepala. Di Temanggung, Jawa Tengah, 299 anak menderita gizi buruk akut. Lima penderita gizi buruk selama Januari – Februari 2008 di Kabupatern Rote Ndao, NTT telah meninggal dunia. Di Magetan, seorang anak karena tidak kuat menahan rasa sakit maag akibat makan cuma sekali sehari, akhirnya memilih gantung diri. (Republika, 11/03/08). Innalillaahi…

Keprihatinan rakyat miskin nggak berhenti sampe masalah konsumsi makanan yang minim. Giliran sakit parah, mereka juga kudu menghadapi kokohnya tembok birokrasi dalam pelayanan kesehatan. Meski pemerintah udah ngasih kebijakan yang meringankan keluarga miskin, tapi kenyataannya nggak seindah yang dibayangkan. Masih ada rumah-rumah sakit yang ogah ngelayanin pasien miskin. Wajar kalo pasien miskin lebih ngandelin obat warung untuk ngobatin sakitnya daripada makan ati dicuekkin di rumah sakit. Cape deh!

Kapitalisme Biang Kerihatinan

Aturan ekonomi kapitalis ngasih kebebasan kepada siapa aja untuk memiliki apa aja asalkan punya duit berlimpah. Orang kaya bisa seenaknya ngeborong bahan kebutuhan pokok, menimbunnya, terus ngejualnya dengan harga tinggi. Konglomerat dengan mudah menguasai sumber daya alam. Pemilik modal gampang aja memonopoli fasilitas umum seperti rumah sakit atau sekolah. Para kapitalis pun ikut nimbrung nentuin kebijakan negara agar menaikkan harga BBM atau mencabut subsidi pendidikan.

Sementara wong cilik, cuman bisa gigit jari. Mereka dilarang sakit karena obat-obatan dan biaya rumah sakit mahal. Mereka juga dilarang pintar karena hak pendidikan hanya untuk orang berduit. Nggak sekalian dilarang hidup karena biaya hidup semakin melangit. Watau!

Aturan ekonomi kapitalis ngejadiin duit sebagai komoditi bisnis di pasar bursa saham, valuta asing, atau deposito di bank-bank ribawi. Siapa yang nggak ngiler, dengan tingginya bunga deposito yang ditawarkan bank bagi nasabahnya. Cuman ongkang-ongkang kaki, bisa dapet duit tiap bulan dan simpenan juga tetep utuh. Akibatnya, duit yang jadi penggerak roda ekonomi cuman muter di antara orang-orang kaya. Masyarakat banyak yang kepentok modal untuk bangun usaha. Kalo pinjem ke Bank, kudu siap dengan bunga riba pinjaman yang lumayan mencekik dan dibenci Allah swt. Nggak jauh bedanya ama rentenir. Endingnya, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Persis kaya lirik lagunya bang Rhoma.

Menurut Biro Pusat Statistik (BPS), jumlah rakyat miskin di tahun 2006 berjumlah 39,05 juta orang. Di tahun 2007, pemerintah bilang sih ada penurunan jadi 37,17. Tapi Bank Dunia menyatakan jumlah penduduk miskin di Indonesia tetap di atas 100 juta orang atau 42,6%. Ini didasarkan pada perhitungan penduduk yang hidup dengan penghasilan di bawah USD 2/hari/orang (Antara, 15/11/07).

Amartya Sen salah seorang peraih nobel tahun 1998 bidang Ilmu Ekonomi bilang kalo masalah kelaparan di kebanyakan negara nggak selalu berkaitan dengan masalah kekurangan pangan. Yang pasti lantaran kegagalan negara untuk mendistribusikan barang, jasa, dan harta secara merata ke tengah masyarakat.

Akibatnya, wong cilik makin menderita dari hari ke hari. Beban ekonomi yang ditanggung semakin besar. Daya beli semakin menurun. Dan jurang pemisah antara si kaya dan si miskin semakin ternganga lebar. Inilah potret ketidakadilan yang lahir dari rahim kapitalisme sekular. Emang waktunya aturan kapitalisme sekluar ini kita buang ke tempat sampah, kita bakar, terus abunya kita kubur dalem-dalem biar diurai oleh bakteri tanah. Puas…puas..puas!

Kepedulian Kita, Kemuliaan Kita

Selain bikin hidup prihatin, aturan kapitalisme juga melahirkan gaya hidup nafsi-nafsi alias individualis. Nggak peduli dengan kondisi lingkungan sekitarnya. Yang dipikirin cuman dirinya sendiri. Padahal sebagai seorang Muslim, Rasulullah saw mengharuskan kita untuk berbuat baik dan peduli dengan tetangga. Seperti yang dikatakannya kepada Abu Dzar,

“Wahai Abu Dzar, jika kamu memasak sayur, maka perbanyaklah airnya, dan berilah tetanggamu bagian dari sayur itu.” (HR. Muslim)

Kebaikan kita pada tetangga, bukan semata-mata solidaritas. Lebih dari itu, merupakan bagian dari keimanan kita. Rasul saw mengingatkan,

“Tidak beriman kepadaku orang yang tidur malam dalam keadaan kenyang, sedang tetangga yang di sampingnya kelaparan, dan diapun mengetahuinya dan menyadarinya.” (HR. Tabrani dan al-Bazzar dengan isnad hasan)

Nggak heran kalo Abu Dzar al-Ghiffari begitu peduli dengan tetangganya. Seringkali beliau tidur dalam keadaan lapar yang melilit, untuk membuat kenyang tetangga dan tamu-tamunya. Ini yang layak kita teladani. Dan ternyata, bersikap dermawan nggak bikin kita kere. Harta kita emang berkurang, tapi kemuliaan kita justru bertambah dihadapan Allah swt. Dan tentunya sangat beralasan bagi kita untuk memupuk jiwa dermawan. Terhadap tetangga, temen sekolah, atau siapa saja yang membutuhkan. Itu baru keren!

Tanggung Jawab Pemimpin

Apapun penderitaan rakyat, pemimpin bangsa ini berada di urutan teratas yang paling bertanggung jawab. Rasulullah saw bersabda:

“Imam adalah ibarat penggembala dan hanya dialah yang bertanggung jawab terhadap gembalaannya (rakyatnya)” (HR. Muslim).

Rakyat udah ngasih kepercayaan penuh pada pemimpin untuk ngatur hidupnya. Dan para pemimpin sendiri yang ’menggoda’ rakyat untuk memilihnya saat kampanye pilpres atau pilkada dengan menjanjikan kesejahteraan dan perbaikan hidup. Jadinya nggak usah bete kalo rakyat sering menagih janji mereka dalam aksi-aksi protesnya.

Sebagai pelayan rakyat, udah seharusnya pemimpin aktif mencari tahu kondisi rakyatnya. Seperti yang ditunjukkan oleh khalifah Umar bin Khaththatb. Hampir setiap malam Umar melakukan perjalanan diam-diam masuk keluar kampung ditemani salah seorang sahabatnya. Beliau khawatir khawatir jika ada hak-hak rakyat yang belum ditunaikan oleh aparat pemerintahannya.

Di suatu kampung yang terpencil di tengah gurun yang sepi, beliau menemukan seorang Ibu tengah merebus batu untuk menenangkan anaknya yang menangis terus-menerus menahan lapar. Ibu itu mengadu tentang kejahatan Umar yang tidak peduli dengan rakyat jelata seperti dirinya. Tanpa berpikir panjang, Umar bergegas kembali ke Madinah dan mengambil sekarung gandum untuk diberikan pada Ibu itu.

Kemuliaan akhlak pemimpin juga ditunjukkan oleh Umar ibnu Abdul Azis. Setelah khutbah kedua pasca pelantikannya sebagai khalifah, beliau menangis tersedu-sedu. Istrinya menanyakan dan Umar menjawab:

“Wahai isteriku, aku telah diuji oleh Allah dengan jabatan ini dan aku sedang teringat kepada orang-orang yang miskin, ibu-ibu yang janda, anaknya ramai rezekinya sedikit. Aku teringat orang-orang dalam tawanan, para fuqara’ kaum muslimin. Aku tahu mereka semua ini akan mendakwaku di akhirat kelak dan aku bimbang aku tidak dapat jawab hujah-hujah (alasan-alasan, red) mereka, karena aku tahu yang menjadi pembela di pihak mereka adalah Rasulullah saw.”

Pemerintah emang udah berbuat banyak dengan kebijakan beras untuk rakyat miskin (raskin), jaringan pengaman sosial (jps), atau program pemberian makanan tambahan (PMT) bagi balita penderita gizi buruk. Tapi kenyataannya, korupsi para pejabat bikin aliran dana untuk rakyat bocor ke kantong pribadi mereka. Ditambah lagi privatisasi BUMN, kenaikkan harga BBM, atau pencabutan subsidi pendidikan dan kesehatan yang dampak buruknyanya lebih kerasa dibanding raskin, JPS, atau PMT. Semuanya ini gara-gara jeratan hutang luar negeri yang dikucurkan oleh IMF dan Bank Dunia. Akibatnya, demi melunasi hutang, hak-hak rakyat dikorbankan.

Pren, jangan tunggu esok untuk mengingatkan para penguasa akan sabda Rasulullah saw:

“Siapa saja seorang pemimpin yang mengurusi kaum muslimin, kemudian ia meninggal sedangkan ia berbuat curang terhadap mereka maka Allah mengharamkan surga baginya.” (HR. Bukhari Muslim).

Dan kalo pemimpin tetep ngeyel dan cuek bebek dengan penderitaan rakyatnya, kita bisa panjatkan doa seperti yang diajarkan Rasul saw.

“Ya Allah, siapa saja yang menjadi pengatur urusan umatku kemudian ia memberatkan mereka, maka beratkanlah ia” (HR. Muslim)

Oke deh pren, kita berharap kisah tragis keluarga Aco adalah yang terakhir. Sayangnya, kalo pemerintah kita tetep bermesraan dengan aturan kapitalis sekular untuk ngatur rakyat, kayanya harapan itu hanya angan-angan. Tapi, ceritanya akan lain kalo pemerintah nyadar dengan kegagalan kapitalis dan berpaling pada syariah Islam sebagai sandaran kebijakan negara. Selain melahirkan pemimpin yang amanah seperti khalifah Umar bin Khathab atau Umar bin Abdu Aziz, episode kemiskinan dan kelaparan pun akan segera berakhir. Insya Allah. So, tunggu apalagi. Saatnya kita suarakan dengan lantang, “Safe our live with Islam!!!” [hafidz341@gmail.com].

About Hafidz341

Seorang islamic writepreneur yang suka menulis ttg dunia remaja dan Islam. Saat ini memegang amanah Pimpinan Redaksi Majalah Remaja Islam Drise (http://drise-online.com). Selain penulis, jebolan STIKOM Binaniaga Bogor ini juga dikenal sebagai praktisi internet dan sosmed marketing serta owner Ghofaz Computer.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Follow me on Twitter

%d blogger menyukai ini: