//
you're reading...
Buletin Bukamata

020. Wajah Islam di Layar Lebar

“Seseorang yang tidak sabar menghadapi teguran yang tidak menyenangkan,
harus belajar lebih banyak mendengar.”
(Ahnaf bin Qays)

maafkan bila ku tak sempurna
cinta ini tak mungkin ku cegah
ayat-ayat cinta bercerita
cintaku padamu…

bila bahagia mulai menyentuh
seakan ku bisa hidup lebih lama
namun harus ku tinggalkan cinta
ketika ku bersujud…

Nggak usah ditanya, kamu-kamu pastinya udah kenal ama lirik lagu mellow di atas. Malah bukan cuman kenal, tapi udah hapal di luar kepala dan di dalam ponsel. Hare gene gitu lho, siapa yang nggak terhanyut ama lantunan suara Rossa yang mendendangkan lagu besutan Melly Goeslaw ini. Apalagi kalo udah baca novelnya atau nonton filmnya, langsung deh inget ama Fahri, Maria, atau Aisha. Inilah sebuah original soundtrack dari film drama percintaan Islami yang tengah naik daun (ulet kali…) bertajuk ‘ayat-ayat kursi, eh cinta’. Maklum, masih terhanyut nih hehehe…

Sebuah kesuksesan besar bagi Hanung Bramantyo. Sutradara terbaik dalam FFI 2007 ini telah berhasil memvisualisasikan novel best seller pembangun jiwa karya kang Ebik alias Habibburrahman el-Shirazy. Walau ada yang kecewa karena beda dengan novelnya, tetep mayoritas penonton acungi empat jempol (plus jempol kaki) untuk film yang masuk kategori kantor kotak (baca: box office hehehe…) ini.

Saking kuatnya, magnet ayat-ayat cinta (AAC) mampu menarik jutaan penonton dari berbagai kalangan. Dari anak-anak, remaja, sampe orang tua. Mulai dari selebriti hingga politisi. Semuanya pada ikut antrian panjang di depan loket tiket. Kecuali politisi kali ya. Soalnya mereka biasanya dapet ‘hak istimewa’ tanpa harus ngantri. Nggak heran kalo total penontonnya di bioskop mencapai angka 2,3 juta (Jawa Pos, Minggu 16 Maret 2008). Ck…ck…ck…!

Film Religi yang Dinanti

Awalnya, sinema cuma gambar idoep tanpa suara yang pertama kali dikenal di Indonesia tanggal 5 Desember 1900 (Dah lama banget ya. kamu pasti belon lahir tuh hehehe..). Kini, film udah bisa bunyi. Malah lebih keren lantaran ngegabungin seni-seni yang lain seperti sinematografi, sound effect, atau visual effect. Hasilnya, cerita audio visual yang disajikan bisa lebih dahsyat mempengaruhi penonton. Nggak heran kalo film sering dipake untuk menyampaikan pesan-pesan islami baik secara samar-samar sampe yang vulgar. Dari pesan moral hingga propaganda yang bermuatan politis bin ideologis. Tepi tentunya tetep dengan kemasan yang menarik dan menghibur dong. Biar gak bete. Betul? Yuk!

Film-film produk dalam negeri bernuansa religius pun bermunculan. Para sineas Muslim berusaha mendakwahkan Islam sesuai dengan kapasitasnya sebagai sutradara. Agar penonton terkesan dengan nilai-nilai Islam, tertarik mengenal Islam lebih dalam, dan nggak islamophobia. Hasilnya, sinetron “Kiamat Sudah Dekat” yang diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama cukup diminati masyarakat. Sampe-sampe Pak Presiden pun terkesan dengan kisah islami yang sederhana tapi mengena dalam film yang digawangi oleh aktor senior Deddy Mizwar dan dibintangi artis Andrey Stinky ini.

Begitu juga dengan film “Rindu Kami PadaMu” besutan sineas gaek, Garin Nugroho. Rindu kami PadaMu berkisah tentang kehidupan tiga orang anak di pasar kecil dengan berbagai persoalan orangtua. Masing-masing anak tersebut berusaha mencari orang-orang yang mereka cintai lewat telur, sajadah, dan kubah masjid. Cerita keseharian ‘rakyat jelata’ di tengah hiruk pikuk perkotaan dalam film yang dibuat dalam waktu dua minggu ini tak hanya jago kandang. Buktinya, Film Rindu Kami PadaMu (Love and Eggs), berhasil meraih penghargaan sebagai film terbaik Asia pada Osian’s Cinefan Festival ke-tujuh di New Delhi, India, yang dilangsungkan pada 16-24 Juli 2005 (Kompas.com, 25/07/05). Plok… plok…plok…!

Dan kini, prestasi film religi kembali dituai oleh ‘Ayat-ayat Cinta’. Karya yang dipersembahkan Hanung untuk sang Ibu tercinta ini cukup banyak menyita perhatian publik. Baik lokal maupun interlokal, eh mancanegara. Meski udah ngabisin dana sampe 8 Milyar, kayanya nggak perlu waktu lama bagi Dhamoo Punjabi dan Manoj Punjaabi selaku produsennya untuk bisa balik modal. Bayangin aja, drama percintaan mengharu biru antara Fahri bin Abdullah Shiddiq (Fedi Nuril), Aisha Greimas (Rianti Cartwright), Maria Girgis (Carissa Putri) dan Nurul binti Ja’far Abdur Razaq (Melanie Putria) yang dibalut nuansa Islami ala eksotisme Mesir ini udah memancing 3 juta lebih penonton. Pastinya selain balik modal, juga untung segunung. Betul?

Pren, rahasia kesuksesan film “Kiamat Sudah Dekat”, “Rindu Kami Padamu”, atau “Ayat-Ayat Cinta” boleh dibilang lantaran masyarakat, terutama umat Islam udah jenuh dengan film religi yang isinya cuman hantu, azab, atau mistik. Di satu sisi, film-film di atas bisa menjadi oase di tengah kehausan akan nilai-nilai Islam yang sejuk dan damai. Tapi di sisi lain, umat Islam semakin terlena dengan sajian ‘Islam audio visual’ yang hanya mengupas kulit ajaran Islam. Daripada duduk dengerin ustadz ceramah tentang idealisme Islam dan aturan hidup, kebanyakan remaja kayanya lebih rela tuk antri tiket demi film religi yang dinanti. Inikah potret lain kehidupan sekuler di sekitar kita? Hmm..bisa jadi!

Bioskop dan Euphoria Massa

Konsekuensi popularitas dari sebuah film layar lebar adalah antusias yang berlebih alias euphoria massa yang membanjiri bioskop. Kondisi ini yang kini tengah dihadapi oleh AAC. Sejak launchingnya tanggal 21 Februari 2008 lalu, antrian panjang plus desak-desakkan nggak pernah absen di setiap bioskop yang memutarnya. Saking membludaknya penonton, beberapa bioskop kudu nyediain dua sampe tiga studio untuk memutar AAC. Weleh-weleh…!

Kalo saja testimoni dari orang yang udah nonton AAC nggak di ekspos, mungkin gejala tren sesaat ini bisa dihindari. Tapi kenyataannya, justru promosi gratis dari mulut ke mulut yang gencar baik di dunia nyata maupun di dunia maya bikin penasaran semua orang. Ditambah lagi apresiasi positif juga datang dari tokoh dan seleb idola. Mulai dari wapres Jusuf Kalla dan Istri, mantan presiden BJ Habibie, Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, hingga anggota legislatif yang ikut nonton bareng. Nggak heran kalo ada sebagian ibu-ibu pengajian, aktivis dakwah, atau santri ponpes yang seumur-umur jarang mendaratkan kakinya di bioskop, ngerasa penting untuk ikut ngantri tiket sampe berjam-jam demi AAC. Ampe segitunya?

Padahal euphoria massa gampang banget bikin kita terlena. Karena ngebet banget pengen nonton, sebagian kita lupa atau pura-pura lupa dengan ikhtilat yang nggak bisa dihindari dalam bioskop. Siapa tuh ikhtilat? Apa ada hubungannya dengan ‘ih..telat!’? yee..asal deh! Yang dimaksud ikhtilat itu adalah campur baru laki perempuan non muhrim pada satu tempat untuk saling berkomunikasi satu sama lain.

Dalam aturan gaul Islam, ada ikhtilat yang dibolehkan karena ada kepentingan bersama dengan tetep menjaga batas interaksi satu sama lain. Seperti dalam kegiatan pendidikan, transaksi jual beli, atau kesehatan. Diluar itu, ikhtilat dilarang dalam Islam. Seperti dalam bioskop atau di kolam renang. Dan kalo kita ada disana, pilihan kita cuman dua. Berusaha merubah kondisi kemaksiatan yang ada di depan mata atau angkat kaki dari tempat itu. Nggak ada pilihan lain kalo kita merasa seorang muslim. Allah swt befirman:

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya Telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya Maka sungguhlah dia Telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab [33]: 36).

Menampilkan Wajah Islam Sebenarnya

Sebagai sebuah uslub atau cara berdakwah, media film emang layak dijajaki. Sajian kisah yang melibatkan indera penglihatan dan pendengaran, otomatis dengan mudah menggugah emosi dan perasaan. Kalo racikannya pas, pesan yang ditangkap penonton pun nggak bias. Ini yang diharapkan.

Sayangnya, kalo udah masuk dunia hiburan, idealisme Islam yang mau disampaikan sering kali luntur. Lantaran banyak kepentingan yang ikut bermain dibalik layar lebar. Nggak cuman pernyebaran Islam, pertimbangan materi juga suka ikut nimbrung. Dan biasanya, pertimbangan materi sering mendominasi. Ujung-ujungnya, demi memenuhi selera pasar atau agar bernilai seni, nilai-nilai Islam pun banyak yang dikurangi. Cukup disajikan dalam bentuk simbol aktor utama yang shalat, busana muslimah, atau lantunan ayat suci. Malah banyak juga film religi yang mengupas ajaran Islam dari sisi akhlak dan moral doang sebagai senjata pamungkan untuk beresin masalah. Padahal aturan Islam kan lengkap, nggak cuman akhlak.

Dan satu lagi yang kita nggak boleh lupa. Efek dari sebuah film sifatnya sementara dan terkadang emosional. Cuman meninggalkan kesan, bukan pemahaman. Makanya, kita jangan cuman ngandelin media film untuk menjaring ketertarikan masyarakat terhadap Islam. Karena Islam bukan komoditi hiburan yang berkesan, tapi sebuah pemahaman yang membentuk perilaku. Makanya, untuk melengkapi syiar dakwah dari para sineas Muslim, kita getolkan penyampaian Islam secara langsung. Face to face. Biar umat mengenal Islam nggak sepotong-sepotong cuman dari film aja. Ini yang mesti kita utamakan. Allah swt berfirman:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl [16]: 125).

Kita berharap kelak sineas muslim bisa lebih ‘vulgar’ menampilkan wajah Islam di layar lebar. Nggak cuman kulitnya aja. Tapi lebih proporsional menyajikan ajaran Islam sebagai sebuah aturan hidup yang sempurna. Selain itu, lebih bagus lagi kalo film religi cukup dipasarkan via kepingan vcd atau dvd dengan harga terjangkau. Selain berupaya menghindari euphoria massa yang berujung ikhtilath yang diharamkan, harga yang terjangkau juga dengan sendirinya meredam aksi pembajakan. Dan jangan lupa, pihak produsen juga bisa ngasih pesan mujarab di akhir film kaya di iklan obat. “Jika belum paham dengan muatan Islam dalam film ini, segera hubungi ulama dan pemuka agama”. Kan oke tuh! [hafidz341@gmail.com]

About Hafidz341

Seorang islamic writepreneur yang suka menulis ttg dunia remaja dan Islam. Saat ini memegang amanah Pimpinan Redaksi Majalah Remaja Islam Drise (http://drise-online.com). Selain penulis, jebolan STIKOM Binaniaga Bogor ini juga dikenal sebagai praktisi internet dan sosmed marketing serta owner Ghofaz Computer.

Diskusi

One thought on “020. Wajah Islam di Layar Lebar

  1. SEBAIK-BAIK MANUSIA ADALAH YANG BERMANFAAT BAGI ORANG LAIN

    Posted by fitri | 09/04/2008, 02:37

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Follow me on Twitter

%d blogger menyukai ini: