//
you're reading...
Buletin Bukamata

025. Gemuruh Suara Buruh

Orang kikir mempercepat kemiskinan bagi dirinya. Ia hidup di dunia laksana orang miskin dan akan dihisab kelak diakhirat dengan hisaban orang kaya. (Ali bin Abi Thalib)

Potret buram di awal Mei, nggak cuman menghiasi dunia pendidikan kita yang masih aja terjadi kebocoran soal UAN. Tapi juga mengabadikan nasib buruh yang tak kunjung beruntung di dunia kerja. Hampir tiap hari kita disodorin aksi protes dari kaum buruh yang gajinya ditahan atau hak-haknya kurang dapet perhatian dari majikan. Kasian banget deh.

Tapi ngomong-ngomong, tahu kan siapa itu buruh? Biar kamu tahu aja, yang dimaksud  buruh berdasarkan UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan adalah mereka yang bekerja atau menerima upah/imbalan dalam bentuk lain. Atau “setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan atau jasa, baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat”. Buruh dibagi ke dalam kelompok pekerja kerah putih dan kerah biru. Gitu.

Lalu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), dari sekitar 95 juta tenaga kerja tahun 2005, sebesar 70,22 juta orang masuk kategori pekerja kerah biru yang kerjanya ngandelin tangan atau dengan tenaga fisik. Sementara 24,78 juta lainnya masuk kelompok pekerja kerah putih yang ngandelin kemampuan intelektual untuk mencari nafkah. Karena pendidikannya yang pas-pasan, posisi tawar buruh kerah biru terhadap perusahaan biasanya jadi lebih lemah. Akibatnya, banyak hak-hak buruh yang dikebiri demi efisiensi pengeluaran perusahaan. Puncaknya, setiap tanggal 1 Mei buruh rame-rame turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasinya. Buruh juga manusia!

Mayday…mayday!!!

Ini bukan panggilan darurat dari pilot pesawat yang ngalamin kerusakan lho. Kalo belum tahu, Mayday adalah nama lain dari hari buruh internasional yang jatuh pada tanggal 1 Mei setiap tahunnya. Konon kabarnya, mayday lahir sebagai bentuk perjuangan kelas pekerja pada awal abad 19 untuk menuntut hak-haknya yang tidak terpenuhi. Mulai dari disiplin yang ketat, jam kerja yang nggak kenal libur, minimnya upah, sampe buruknya kondisi kerja di lingkungan pabrik. Kondisi model gini yang sering memicu aksi mogok dari para pekerja.

Pemogokan pertama kaum buruh terjadi di tahun 1806 oleh pekerja Cordwainers, Amerika Serikat. Karena mereka kudu kerja selama 19 sampai 20 jam seharinya. Gile bener, kerbau aja ada istirahatnya pas lagi ngebajak sawah. Nggak heran kalo sejak saat itu, tuntutan pengurangan jam kerja menjadi agenda bersama kaum buruh di Amerika Serikat. Aksi mogok pun berlanjut pada tahun 1872 yang dilakukan oleh Seorang pekerja mesin dari Paterson, New Jersey, Peter McGuire bersama 100.000 pekerja.

Pada tanggal 5 September 1882, parade Hari Buruh pertama diadakan di kota New York dengan peserta 20.000 orang dengan membawa spanduk bertuliskan “8 jam kerja, 8 jam istirahat, 8 jam rekreasi”. Tahun-tahun berikutnya, gagasan ini menyebar dan semua negara bagian ikut merayakannya. Pada tahun 1887, Oregon menjadi negara bagian pertama yang menjadikannya hari libur umum. Dan pada 1894, Presiden Grover Cleveland menandatangani sebuah undang-undang yang menjadikan minggu pertama bulan September hari libur umum resmi nasional.

Klimaksnya, pada tanggal 1 Mei tahun 1886, sekitar 400.000 buruh di Amerika Serikat mengadakan demonstrasi besar-besaran untuk menuntut pengurangan jam kerja mereka menjadi 8 jam sehari. Aksi ini berlangsung selama 4 hari sejak tanggal 1 Mei. Pada tanggal 4 Mei 1886. Para Demonstran melakukan rally besar-besaran. Polisi Amerika kemudian menembaki para demonstran tersebut sehingga ratusan orang tewas dan para pemimpinnya ditangkap kemudian dihukum mati. Para buruh yang meninggal dikenal sebagai martir.

Dan pada bulan Juli 1889, Kongres Sosialis Dunia yang diselenggarakan di Paris menetapkan peristiwa di AS tanggal 1 Mei 1886 itu sebagai hari buruh sedunia dan mengeluarkan resolusi bahwa “Sebuah aksi internasional besar harus diorganisir pada satu hari tertentu dimana semua negara dan kota-kota pada waktu yang bersamaan, pada satu hari yang disepakati bersama, semua buruh menuntut agar pemerintah secara legal mengurangi jam kerja menjadi 8 jam per hari, dan melaksanakan semua hasil Kongres Buruh Internasional Perancis.”

Resolusi ini mendapat sambutan yang hangat dari berbagai negara di dunia. Dan sejak tahun 1890, tanggal 1 Mei, yang diistilahkan dengan May Day, diperingati oleh kaum buruh di berbagai negara meskipun mendapat tekanan keras dari pemerintah mereka. Di Indonesia sendiri, peringatan hari Buruh tanggal 1 Mei udah dimulai sejak tahun 1920.

Nggak apa-apa jika buruh turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasinya. Tapi kalo harus menciptakan kelas sosial antara proletar (buruh) dan kelas bojuis (pemilik modal) yang saling bertolak belakang, kayanya nggak deh. Soalnya kondisi ini yang dikehendaki oleh paham sosialis yang rawan bentrok fisik. Makanya dalam setiap aksi buruh, terutama dalam jumlah massa yang besar, selalu dapet pengawalan ketat dari aparat. Malah nggak sedikit yang diwarnai kericuhan dan makan korban. Ini yang mesti diwaspadai jangan sampe terjadi. Boleh sampaikan aspirasi, tapi nggak pake emosi. Betul?

Antara Buruh, Majikan, Dan Pemerintah

Kini, udah 118 tahun sejak ditetapkannya tanggal 1 Mei sebagai hari buruh internasional. Tapi nasib kaum buruh, nggak banyak berubah. Upah murah dan minimnya kesejahteraan hidup sering jadi pemicu unjuk rasa para pekerja. Belum lagi kalo pembayaran gaji dan uang lembur telat sampe berbulan-bulan. Lengkap deh penderitaan mereka. Makanya peringatan labour day alias hari Buruh nggak pernah sepi dari tahun ke tahun..

Meski buruh berjasa besar dalam menggerakkan roda ekonomi, tapi kedudukan mereka nggak terlalu istimewa.  Masih banyak para pemilik modal yang menganggap kaum buruh sebatas ’alat produksi’ yang mesti tunduk dengan aturan perusahaan. Untuk mendongkrak jumlah stok barang, buruh kudu rela jam kerjanya diperpanjang. Untuk menyehatkan ekonomi perusahaan, buruh kudu siap kalo sewaktu-waktu kena PHK atau dirumahkan. Dan perusahaan easy going aja kalo harus kehilangan karyawan yang nggak mau tunduk dengan aturan kerja, toh diluar masih banyak pengangguran yang bisa ’diangkat’ derajatnya.

Nasib kaum buruh makin suram ketika pemerintah merevisi UU Ketenagakerjaan No. 13 tahun 2003 yang lebih peduli dengan masa depan pemilik modal dibanding para pekerja. Sistem tenaga kerja kontrak yang ditetapkan pemerintah ngasih angin segar bagi para pengusaha. Karena status buruh kontrak nggak punya kepastian kerja, kepastian upah, jaminan sosial, THR dan tujang-tunjangan kesejahteraan lainnya. Sehingga jaminan masa depan dan kesejahteraan hidup buruh bagai telur di ujung tanduk. Gak jelas dan bikin was-was.

Begitu juga dengan ketentutan Upah Minimun dari pemerintah yang didasarkan pada kemampuan sektor usaha yang paling lemah. Itu berarti, pengusaha dengan gampang ngasih upah murah walaupun sebenernya bisa ngasih lebih. Otomatis, kemiskinan yang sering menghinggapi kaum buruh makin lestari. Kondisi ini melengkapi penderitaan buruh yang juga harus kehilangan hak cuti haid dan tahunan, hak cuti panjang, hak peserta jamsostek, upah pensiun, uang pesangon, atau hak perlindungan bagi anggota organisasi buruh.
Pren, nggak harmonisnya hubungan buruh dan majikan terjadi akibat kentalnya aturan kapitalis di negeri kita. Aturan yang mendewakan para pemilik modal ini menganggap keuntungan materi sebagai harga mati dalam sebuah kerjasama. Untuk itu, pengusaha berusaha menekan pengeluaran biar dapet untung gede. Termasuk dengan jalan memangkas hak-hak pekerjanya. Dan sialnya, pemerintah yang dekat dengan para pengusaha seolah lepas tangan dengan nasib buruh. Walhasil, daripada kehilangan pekerjaan, buruh lebih milih diam seribu basa meski diperlakukan tidak adil. Gini deh kalo hidup kita diatur oleh sistem kapitalis sekuler. Nestapa abis!

Islam Menghargai Dunia Kerja

Dalam kehidupan Islam, nggak dikenal adanya masalah perburuhan. Lantaran Islam punya aturan yang rinci tentang ketenagakerjaan dan pastinya nggak ada pihak yang dizhalimi. Kalo ada perselisihan antara pekerja dan majikan, solusinya dikembalikan pada aturan Islam. Nggak melulu buruh di pihak yang benar atau sebaliknya majikan yang selalu salah. Sehingga hubungan pekerja dan majikan dalam Islam layaknya persahabatan. Saling melengkapi, saling memahami, dan saling memberikan kebaikan satu sama lain.

Bagi pekerja dan majikan, keduanya terikat dengan aturan kerja yang disepakati di awal kerjasama. Allah swt berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu Mengetahui. (QS. Al-Anfal [8] : 27)

Pekerja kudu fair ngikutin jam kerja atau deskripsi kerja yang udah ditetapkan. Nggak bagus tuh kalo nyolong waktu kerja atau ngerjain kerjaan lain diluar yang seharusnya. Majikan juga kudu on time bayar upah kerja karyawannya. Jangan sampe telat. Lantaran Rasul saw ngingetin dalam sabdanya:

“Allah swt befirman: Tiga orang yang Aku musuhi pada hari kiamat nanti adalah orang yang telah memberikan karena Aku, lalu berkhianat; dan orang yang memberli barang pilihan, lalu ia makan kelebihan harganya; serta orang yang mengontrak pekerja kemudian pekerja tersebut menunaikan transaksinya sedangkan upahnya tidak diberikan.” (HR. Imam Bukhari)

Dalam hal jaminan sosial, Islam nggak ngasih beban ke majikan atau sektor usaha. Majikan hanya wajib ngasih upah yang layak plus penghargaannya kepada pekerja sebagai manusia seperti pemberitan hak cuti atau waktu libur. Sementara urusan kesehatan dan jaminan sosial, tanggung jawab utamanya ada di tangan pemerintah untuk ngasih kemudahan bahkan gratis. Termasuk juga pemerintah yang mesti menjamin terpenuhinya pendidikan, keamanan, serta kesejahteraan hidup yang layak bagi semua rakyatnya.

Selain jaminan sosial, pemerintah juga yang mesti sigap membuka lapangan kerja, memfasilitasi pendidikan keterampilan, atau memberikan modal untuk mendorong rakyatnya berusaha. Sehingga bisa meningkatkan jumlah angkatan kerja dan mengurangi pengangguran. Dan dengan sendirinya roda ekonomi akan berjalan dengan wajar tanpa harus menciptakan kelas sosial proletar dan borjuis yang rawan konflik.

Pren, kalo saja syariah Islam diterapkan oleh negara, tentu pemandangan aksi unjuk rasa buruh yang menuntut perbaikan nasibnya bisa dikurangi. Begitu juga perlindungan negara terhadap pemilik modal dari keamanan usaha atau pungutan liar bisa menyuburkan iklim investasi. Inilah salah satu bentuk penghargaan Islam terhadap dunia kerja.

Karenanya, cukup beralasan kalo kita amat sangat merindukan sekali (saking ngebetnya) tegaknya pemerintahan Islam yang ngasih kebaikan pada semua. Jadi, selain menyuarakan kepentingan buruh, bagusnya suarakan juga kebenaran Islam untuk beresin masalah yang dihadapi kaum buruh, pengusaha, pengangguran, rakyat, dan umat manusia. Lets safe our life with Islam! [hafidz341@gmail.com]

About Hafidz341

Seorang islamic writepreneur yang suka menulis ttg dunia remaja dan Islam. Saat ini memegang amanah Pimpinan Redaksi Majalah Remaja Islam Drise (http://drise-online.com). Selain penulis, jebolan STIKOM Binaniaga Bogor ini juga dikenal sebagai praktisi internet dan sosmed marketing serta owner Ghofaz Computer.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Follow me on Twitter

%d blogger menyukai ini: