//
you're reading...
Buletin Bukamata

027. Bangkit Bareng-bareng, Yuk!

“Pikiranmu pada suatu ketaatan akan memanggilmu untuk mengamalkannya.” (Ali bin Abi Thalib)

Satu abad lalu, kelahiran organisasi Boedi Oetomo (BO) dianggap sebagai tonggak kebangkitan Nasional. Sayangnya, saat itu BO cuman terima anggota orang Jawa dan Madura elit. Sehingga lebih pantas menyandang organisasi kesukuan dibanding simbol kebangkitan nasional. Apalagi BO keburu bubar pada tahun 1935 jauh sebelum kemerdekaan Indonesia digagas. Makanya menurut sejarawan Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, DR Nina Lubis, peletakkan BO sebagai simbol kebangkitan Nasional lebih dekat ke arah mitos dibanding fakta sejarah.

Sementara tiga tahun sebelum BO nongol, Haji Samanhudi dan kawan-kawan mendirikan Syarikat Islam (SI, awalnya Syarikat Dagang Islam, SDI) di Solo pada tanggal 16 Oktober 1905. Dalam pergerakannya, SI lebih nasionalis yang melibatkan semua suku. Dan perjuangannya berusaha membebaskan bangsa dari penjajahan kolonial Belanda. Nggak heran kalo ada yang bilang hari berdirinya SI pada 16 Oktober 1905 labih layak dijadikan titik kebangkitan Nasional menuju kemerdekaan.
Pren, terlepas dari kontroversi BO dan SI, pemerintah udah menetapkkan tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Dan kebetulan jatuhnya rezim orde baru yang mengawali orde reformasi juga terjadi di bulan Mei. Tahun ini, gaung kebangkitan kian gencar terdengar untuk memperingati satu dekade orde reformasi dan satu abad kebangkitan nasional. Yang jadi pertanyaan kita, apa bener bangsa kita udah bener-bener bangkit?

Penjajahan Gaya Baru

Tentara kolonial Belanda dan militer Jepang udah lama angkat kaki dari negeri kita. Teks proklamasi juga udah sering dibacakan di bulan Agustus. Bangsa kita emang udah merdeka dari penjajahan fisik. Tapi keadaan masyarakat dan ekonomi negara nggak jauh beda dengan masa penjajahan dulu. Persoalan datang silih berganti. Asli nggak ada abisnya.

Baru-baru ini pemerintah berencana menaikkan harga BBM sampe 30%. Alasannya, untuk menghemat subsidi agar kas negara masih bisa bernapas. Padahal mah pencabutan subsidi BBM bakal dipake buat bayar cicilan hutang luar negeri yang besarnya mencapai Rp 151,2 triliun (Beritasore.com, 25/11/2007). Gara-gara hutang luar negeri, rakyat yang kena getahnya. Subsidi banyak yang dikurangin, kehidupan rakyat tambah prihatin.
Keseimbangan alam nusantara banyak dirusak oleh tangan-tangan jahil. Mulai dari pembalakan liar, pembakaran hutan, hingga berkurangnya lahan serapan air di perkotaan akibat pembangunan yang nggak peduli ama lingkungan. Akibatnya, pada tahun 2006-2007 tercatat telah terjadi 840 kejadian bencana yang telah menelan korban 7.303 jiwa meninggal dan 1.140 dinyatakan hilang; sedikitnya 3 jta orang menjadi pengungsi dan 750 ribu unit rumah rusak atau terendam banjir.
Sumber daya alam kita juga banyak yang dicuri oleh negara lain. Selama 15 tahun terakhir, sekitar 2-4 jutan ton ikan diangkut tanpa permisi oleh nelayan asing. Lebih dari 90% ladang-ladang minyak dan gas bumi Indonesia dikuasai perusahaan asing. Belum lagi pengelolaan tambang mineral tembaga, timah, atau batubara yang juga banyak dinikmati pihak asing. Cuman gara-gara tekanan dari IMF atau Bank Dunia, pemerintah kita membuka kran swastanisasi di segala bidang, termasuk penguasaan sumber daya alam. Akibatnya, kita seperti budak di negeri sendiri.

Kenaikan harga sembako telah menekan daya beli masyarakat. Sebanyak 2,5% dari total penduduk Indonesia dalam kondisi rawan pangan. Artinya, sekitar 5 juta rakyat negara agraris ini makan kurang dari dua kali sehari. Tentu saja kondisi ini bisa mendongkrak penderita kurang gizi dan gizi buruk yang berdasarkan data Depkes, jumlahnya mencapai 4,1 juta jiwa (Kompas, 10/3/08).

Puncaknya, kemiskinan tak bisa dihindari oleh mayoritas masyarakat. Menurut Biro Pusat Statistik (BPS), jumlah rakyat miskin di tahun 2006 berjumlah 39,05 juta orang. Di tahun 2007, pemerintah bilang sih ada penurunan jadi 37,17. Tapi kalo didasarkan pada perhitungan penduduk yang hidup dengan penghasilan di bawah USD 2/hari/orang, jumlah penduduk miskin tetap di atas 100 juta orang atau 42,6%. (Antara, 15/11/07). Kondisi ini diperparah dengan kenaikan harga BBM sebesar 30% yang bisa mendongkrak jumlah rakyat miskin sebesar 8,55% atau sekitar 15,68 juta jiwa (Kompas, 07/05/08).

Pren, keliatannya kita mesti jujur kalo penjajahan masih bercokol di negeri kita. Bukan penjajahan militer, tapi penjajahan dalam bentuk budaya liberal, pemikiran sekuler, atau ekonomi kapitalis. Penjajahan gaya baru ini udah banyak makan korban. Nggak cuman sumber daya alam kita yang dikuras, pemerintah kita juga tak berkutik di bawah tekanan hutang luar negeri. Akibatnya, banyak kebijakan negara yang bikin rakyat sengsara. Makanya kita harus segera kumandangkan kebangkitan nasional jilid dua. Nggak pake lama. Biar kita bener-bener merdeka dan menjadi majikan di negeri sendiri. Mau dong?

Jalan Menuju Kebangkitan

Kebayang nggak, kalo kita kesasar di tengah padang pasir. Pasti bingung dong mau melangkah ke arah mana. Belum lagi bayangan fatamorgana yang menghadang dimana-mana. Keliatan indah padahal ngibul. Kaya gitu deh jalan menuju kebangkitan yang merajalela di negeri kita. Dari tahun ke tahun upaya kebangkitan digagas, tapi nggak ada satu pun yang beresin malah sampe tuntas..tas..tas…!.

Ada yang bilang kalo kebangkitan bangsa identik dengan kemajuan pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Sehingga pemerintah bikin program sekolah gratis, ngucurin dana bantuan operasional sekolah (BOS), atau naikkin batas kelulusan pelajar. Ini bagus. Tapi repot juga kalo biaya sekolah lanjutan melambung tinggi, harga buku pelajaran merangkak naik, kesejahteraan tenaga pengajar pun menyedihkan. Meski ada pelajar yang sukses menggondol banyak medali di berbagai ajang olimpiade sains tingkat dunia, tapi itu nggak cukup. Karena kebangkitan diukur dari banyaknya rakyat yang bisa mengenyam bangku sekolah, bukan dari banyaknya medali.

Ada juga yang bilang kalo kebangkitan akan diraih saat individu masyarakat maupun pejabat pemerintah berakhlakul karimah. Kita setuju. Tapi pejabat pemerintah negeri kita udah berulangkali ganti orang. Banyak perwakilan partai Islam yang berakhlak sukses menduduki kursi legislatif hingga menjuarai pilkada. Malah sempet juga negara kita dipimpin oleh ulama besar pribumi. Tapi hasilnya tetep nihil. Kebangkitan nasional jilid dua tak kunjung keliatan batang hidungnya.

Jalan menuju kebangkitan juga bisa diraih dengan meningkatkan taraf berpikir. Nggak harus minum nutrisi omega 3 yang menambah daya ingat, cukup dengan mempelajari dan memahami pemikiran paling mendasar dan menyeluruh yang mampu menggerakan akal dan jiwa manusia. Kayanya ini yang paling pas. Soalnya kita akan terbiasa untuk terus berfikir bagaimana cara beresin setiap persoalan hidup sampe ke akarnya.
Jalan kebangkitan ini yang dipake orang-orang Rusia untuk bangkit dan melakukan revolusi Bolshevik tahun 1917 di bawah pimpinan Lenin setelah sama-sama memeluk pemikiran komunis. Atau orang-orang kapitalis yang mengalami kebangkitan sejak revolusi Perancis dan revolusi industri di Inggris pada akhir abad 18 dan awal abad 19. Dan bangsa Arab yang sebelumnya bodoh dan terbelakang, mampu bangkit di masa Rasulullah SAW pada abad 7 setelah mereka sepakat memeluk pemikiran Islam selama berabad-abad.

Kebangkitan Hakiki, Hanya Dengan Islam!

Untuk meraih kebangkitan hakiki, nggak cukup hanya meningkatkan cara berpikir aja. Isi pikirannya juga mesti diperhatiin. Nggak boleh error apalagi melawan kodrat manusia. Kaya pemikiran sosialis komunis yang nggak percaya adanya Sang Pencipta. Kan nggak mungkin banget kalo makhluk hidup ada dengan sendirinya. Pemikiran kapitalis juga nggak jauh beda. Meski kapitalis percaya adanya Tuhan, tapi nggak jujur mengakui keterbatasan manusia. Jadinya mereka ngeyel untuk bikin aturan hidup sendiri tanpa campur tangan Tuhan. Hasilnya, hidup sengsara bin prihatin seperti yang tengah kita rasain di sekarang ini.

Sementara pemikiran Islam nggak menyalahi kodrat manusia karena meyakini adanya Allah swt. Selain itu, Islam juga mengakui keterbatasan manusia sehingga melibatkan sang Pencipta untuk ngatur hidup. Hasilnya, Islam mampu menguasai dunia hampir 14 abad. Kuncinya, karena Islam punya aturan yang jelas bin tegas untuk mengatasi dan mencegah setiap persoalan hidup kita.
Islam mematok kalo sumber daya alam yang menyangkut kepentingan hidup banyak orang seperti minyak bumi adalah kepemilikan umum. Tugas negara untuk mengelola dan mendistribusikannya kepada rakyat dengan mudah dan murah. Nggak ada alasan untuk dimiliki oleh individu. Apalagi dijual ke pihak asing. Sama aja ngasih ikan ke kucing garong dong.

Kemiskinan juga bisa diatasi sampe tuntas kalo aja pemerintah mau nerapin syariah Islam. Karena negara dalam Islam kudu menjamin penyediaan lapangan kerja serta terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan, dan papan rakyatnya dengan layak. Begitu juga dengan jaminan kemudahan bagi rakyat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, pendidikan, atau keamanan

Dan yang paling penting, Islam nggak akan ngasih pintu bagi rentenir dunia sekelas IMF atau Bank Dunia untuk menebar jerat hutangnya. Kekayaan alam negeri kita kalo dikelola oleh negara dengan bener dan syar’i tanpa privatisasi, bisa untuk memenuhi kebutuhan rakyat dan ngisi kas negara. Jadi nggak perlu ngemis-ngemis minta belas kasihan lembaga keuangan dunia yang menjadi pintu masuk neo liberalisme. Daripada negara kudu bayar hutang luar negeri yang jumlahnya lebih dari Rp. 85 Trilyun (APBN 2007) yang jelas-jelas haram, mendingan dipake buat ngurusin rakyatnya yang kurang pangan dan gizi buruk. Betul?
Terbukti, hanya Islam yang bisa mengantarkan bangsa kita menuju kebangkitan hakiki dan keluar dari persoalan hidup akibat neo liberalisme. Seperti ditegaskan Allah swt:

Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. Ath-Thaha [20]: 123-124)

Akhirnya, usaha untuk bangkit bakal jalan di tempat kalo nggak ada pelakunya. Pemikiran Islam juga nggak akan bisa membangkitkan kalo cuman mangkal di dalam buku. Semua pihak kudu ikut ambil bagian demi memuluskan jalan menuju kebangkitan nasional jilid dua, termasuk kita. Kita yang  mengkaji, memahami, dan menyampaikan pemikiran Islam untuk mencerahkan masyarakat. Masyarakat yang mengingatkan pemerintah untuk menerapkan syariah Islam. Dan pemerintah yang kudu berani menolak segala bentuk penjajahan dan beralih pada syariah Islam untuk ngatur urusan hidup rakyatnya. Dengan begitu, kebangkitan hakiki bakal segera kita temui. Makanya, ayo kita bangkit bareng-bareng bersama Islam. Yuk! [hafidz341@gmail.com]

About Hafidz341

Seorang islamic writepreneur yang suka menulis ttg dunia remaja dan Islam. Saat ini memegang amanah Pimpinan Redaksi Majalah Remaja Islam Drise (http://drise-online.com). Selain penulis, jebolan STIKOM Binaniaga Bogor ini juga dikenal sebagai praktisi internet dan sosmed marketing serta owner Ghofaz Computer.

Diskusi

2 thoughts on “027. Bangkit Bareng-bareng, Yuk!

  1. salam bukamata…
    bagaimana kabarmu??

    aku sekarang agak susah ya ngikutin bahasan kamu. berat2 temanya… gak kayak jaman buletin studia dulu. ngomong2, kemana sih buletin itu ya?
    aku nemuin buletin sejenis dengan kamu.. namanya gaulislam. http://www.gaulislam.com. tema2 remajanya malah bagus. Padahal bukamata kata agenmu adalah penerus studia. kok beda ama studia sih? studia malah sama persis dengan gaulislam….

    ayo bukamata.. jangan berat2 dong temanya. yg ringan2 saja yach…

    #okky
    makasih banget masukannya. kita mohon maaf kalo bahasan bukamata agak ‘berat’. pengen kita ngasih ‘pendidikan politik’ buat temen-temen remaja, tapi kalo bahasannya dianggap berat, nanti kita evaluasi lagi. sekali lagi makasih.
    oya, tentang gaulislam, itu juga penerus STUDIA. karena redaksinya mayoritas mantan redaksi studia sama seperti Bukamata. dan tentang STUDIA, karena satu dan lain hal harus tutup usia per Nopember 2007 lalu.
    semoga kehadiran Bukamata, gaulislam, atau media remaja lain bisa jadi alternatif bacaan yang membantu deketin remaja pada Islam sebagai aturan hidup.

    Posted by Okky | 19/05/2008, 07:53
  2. bagus juga kok isinya
    setting tampilannya juga easy and nice to view
    apapun bacaannya, yg penting Islam mabda’-nya
    bukan begitu kang hafidz ?

    Posted by abu izzah | 29/05/2008, 00:33

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Follow me on Twitter

%d blogger menyukai ini: