//
you're reading...
Buletin Bukamata

029. Nyandu Baca is Powerfull!

“Orang yang berilmu tidak akan mudah tertipu. Sebaliknya, yang tidak berilmu akan mudah tertipu” (Al-Ghazali)

Hoaahmm…! Baru aja beberapa lembar halaman yang dibaca, tapi mata udah harus diganjal pake batang korek api. Mulut menguap terus kaya kekurangan oksigen. Kalo udah gini, nggak perlu waktu lama untuk memejamkan mata. Hehehe….Ini emang penyakit umum kalo kita lagi baca buku. Apalagi kalo buku yang dibaca termasuk kategori ’kelas berat’ sejenis buku ilmiah yang bertaburan istilah aneh bin ajaib. Bukannya nambah wawasan malah nambah ngantuk. Ups!

Nggak heran kalo kebanyakan kita paling nggak betah dikasih tugas membedah buku. Jangankan untuk ngulik daleman tuh buku, untuk baca halaman pendahuluannya aja perlu perjuangan penuh. Dan kayanya, kita lebih asyik window shopping, ngeceng, atau ngegosip dibanding mojok berduaan ama buku. Padahal waktu kecil dulu kita bela-belain belajar di sekolah biar bisa baca. Giliran udah lancar, minat baca malah kendor. Taros kunaon (baca: tanya kenapa)?

Popularitas Budaya Baca

Pada masa kejayaan Islam, negara perhatian banget ama minat baca rakyatnya. Seperti saat khalifah Al-Makmun yang memerintah pada 813-833 M. Beliau sangat antusias mendorong penerjemahan berbagai karya filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani dan Syria ke dalam bahasa Arab. Ditambah sarana perpustakaan yang punya koleksi buku lengkap, tempatnya nyaman, bahkan dapet makan dan bisa fotocopy tulisan gratis. Hasilnya, mayoritas masyarakat jadi kecanduan membaca dan melahirkan banyak pemikir Islam. Inilah salah satu bentuk penghargaan Islam terhadap budaya baca.

Pada masa sebelum kemerdekaan, setiap siswa didorong untuk jadi pembaca aktif. Seperti seorang remaja dari Padang yang masuk sekolah dagang menengah di Batavia pada tahun 1919. Wajib buku sastra di sekolahnya bikin dia ketagihan membaca. Tapi dia lebih banyak baca buku ekonomi sebelum akhirnya jadi ekonom dan ahli koperasi. Sementara di AMS Surabaya, seorang siswa sebaya juga penggemar buku. Kasur, kursi, dan lantai kamarnya ditebari buku. Tapi dia lebih suka politik, sosial, dan nasionalisme. Dan akhirnya menjadi politikus. Kamu tahu siapa kedua remaja itu? Mereka adalah proklamator negeri ini. Muhammad Hatta yang ahli ekonomi dan Soekarno sang politikus ulung.

Kini, bangsa kita udah merdeka. Tapi sayang, popularitas budaya baca seolah hilang ditelan bumi. Cuman ada sebagian kecil aja makhluk yang masih betah mengisi waktunya dengan melototin buku ampe tuntas. Seperti Andrea Hirata anggota gank ’Laskar Pelangi’. Atau Habiburrahman El Shirazy yang sukses menghipnotis pencinta novel melalui buku masterpiece-nya, Ayat-ayat Cinta. Nggak ketinggalan, Asma Nadia alias Asmarani Rosalba yang biasa baca 1-2 buku perhari dengen ketebalan 400-500 halaman. Itu sebagian kecil lho.

Sementara mayoritas, masih asing dengan kebiasaan ’ngemil’ buku. Menurut data majalah komputer aktif (no.50/26 maret 2003) berdasarkan survei siemens mobile lifestyle III menyebutkan bahwa 60% remaja usia 15-19 tahun dan pascaremaja lebih senang mengirim dan membaca SMS daripada membaca buku, majalah atau koran. Dan menurut penelitian siemens mobile phone, 58% orang indonesia lebih suka mengirim SMS daripada membaca buku. (sumber: buku sistem komunikasi indonesia). Nggak heran kalo minat baca masyarakat Indonesia dalam lingkup kawasan Asia Tenggara menduduki peringkat keempat, setelah Malaysia, Thailand, dan Singapura. (Ahmad bukhori, 2005).

Kenapa Nggak Populer?

Banyak kondisi yang mempengaruhi turunnya minat baca remaja. Terutama terhadap buku selain komik, novel, atau majalah. Beberapa diantaranya:

Membaca sekadar hiburan. Kalo prinsip ini yang dipake, kita bisa terperangkap dalam bacaan ringan dan menghibur sejenis komik, novel, atau majalah. Bukannya gak boleh, cuman sayang aja. Kita bisa alergi dengan bacaan yang perlu mikir dikit untuk menikmatinya. Padahal bacaan non hiburan itu bagus lho untuk mendongkrak wawasan intelektual kita.

Tren budaya digital. Kecanggihan teknologi banyak membantu manusia dalam kemudahan mendapatkan informasi. Kondisi ini melahirkan budaya dengar dan lihat yang perlahan menggeser budaya baca untuk dapetin informasi. Kita lebih suka dapetin ilmu dengan mendengar dan menonton daripada baca sumbernya. Gak papa sih, cuman kita jadi terbiasa pasif menunggu info datang dibandingkan aktif menjemput info dengan membaca. Masa udah gede masih pengen disuapin mulu. Malu ah…

Predikat kutu buku. Julukan kutu buku bagi remaja bukan suatu kebanggaan. Justru bisa menyudutkan mereka sebagai makhluk anti sosial bin kurang pergaulan. Soalnya kutu buku dianggap cuman temenan ama buku, bukan dengan manusia. Makanya agak tengsin kalo remaja dapet julukan kutu buku. Rasanya kaya dikutuk jadi ponsel jadul. Daripada dikucilin ama temen, lebih baik ’musuhan’ ama buku.

Nggak heran kalo data International Association for Evaluation of Educational (IEA) pada tahun 1992 menempatkan Indonesia di urutan ke-29 setingkat di atas Venezuela dalam hal kemampuan membaca murid-murid sekolah dasar kelas IV dari 30 negara di dunia. Begitu juga dengan studi Vincent Greannary yang dikutip oleh World Bank dalam sebuah Laporan Pendidikan  “Education in Indonesia from Crisis to Recovery” tahun 1998. Hasilnya, kemampuan membaca anak-anak kelas VI sekolah dasar kita hanya mampu meraih kedudukan paling akhir dengan nilai 51,7 setelah Filipina (52,6), Thailand (65,1), Singapura (74,0), dan Hongkong (75,5). (penulislepas.com, 12/08/07). Hiks…hiks..hiks..

Asyiknya Membaca

Nyandu baca keliatannya emang nggak populer bin trendi. Padahal dengan membaca, kita bisa mendulang banyak informasi tentang segala hal. Menjelajahi berbagai tempat di belahan dunia, mengenal berbagai kecanggihan teknologi, meneladani biografi tokoh-tokoh dunia, termasuk berita sosial-politik dan perkembangan gaya hidup. Semuanya bisa dengan mudah dan cepat kita peroleh dengan baca koran, buku, atau majalah.

Dengan membaca, kita juga bisa belajar banyak hal. Mulai dari penyaluran hobi yang positif hingga berkenalan dengan ilmu lain yang nggak kita dapetin di sekolah. Seperti kisah motivasi, resep masakan, hingga berbagai keterampilan kerja. Asyiknya lagi, banyak buku yang sifatnya tutorial yang membimbing kita langkah demi langkah. Jadi nggak usah ngiri kalo ngeliat temen kamu yang pinter masak, piawai merajut kain, jago nyablon, atau terampil berbicara di depan publik. Semuanya bisa diraih hasil belajar sendiri alias otodidak akibat doyan melahap buku.

Bukan perkara mudah untuk keluar dari masalah keseharian yang kita hadapi. Mulai dari kesehatan hingga kejiwaan. Tapi dengan membaca, kita bisa tahu profil setiap masalah. Penyebabnya, akibatnya, sampe jalan keluar terbaiknya. Karena banyak buku, majalah, sampe buletin remaja kaya bukamata yang peduli dan empati dengan permasalahan remaja. Makanya nggak heran kalo mereka yang hobi baca lebih siap menghadapi dan berani menjalani proses biar bebas dari masalah.

Kutu buku sama dengan kuper? Kayanya nggak deh. Dengan banyak baca, kita jadi banyak tahu. Dan kalo udah banyak tahu, banyak informasi bermanfaat yang bisa kita bagi ama temen. Itu berarti, menjadi kutu buku nggak identik dengan anti sosial bin kuper. Justeru kita jadi tambah pede dalam bergaul karena nggak ketinggalan informasi. Semakin banyak juga kosa kata baru dan trendi yang bisa kita tabung. Bisa jadi, yang nyandu baca lebih gaul dari anak gaul. Kan keren tuh!

Sebagai muslim yang udah baligh, setiap sisi perilaku kita bakal ada hitungannya di akhirat nanti. Dan kita nggak bisa berkelit dengan alasan nggak tahu saat disidang oleh Allah swt kelak. Lantaran aturan Islam udah sempurna sampe pada manusia diantaranya melalui buku dan bacaan Islam. Karenanya, malaikat Jibril meminta Muhammad membaca ayat-ayat Allah swt saat menerima wahyu pertamanya di gua Hira. Allah swt berfirman:

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-Alaq [96]: 1-5)

Mendongkrak Minat Baca

Pren, banyaknya keuntungan yang bisa kita panen dari hobi membaca berarti layak kita bilang kalo membaca adalah investasi berharga. Di dunia maupun di akhirat. Apalagi selama hayat dikandung badan, selama itu pula kita perlu belajar. Dan hobi baca sangat baik untuk kesehatan proses belajar kita. Untuk itu, kita mau ngasih beberapa tips untuk mendongkrak minat baca. Semoga bermanfaat.

Pertama, pupuk rasa penasaran dan ingin tahu. Tahu nggak kenapa kita sering cepet bete kalo membaca buku-buku ilmiah dibanding buku cerita? Jawabannya karena tingkat ingin tahu dan rasa penasaran ama isi buku cerita lebih tinggi ketimbang buku ilmiah. Makanya banyak remaja yang betah melototin bukunya JK. Rowling atau novelnya kang Abik meski tebelnya sampe ratusan halaman. Yup, keingintahuan kita bisa ngalahin rasa kantuk saat membaca sampe betah melahap berbagai bacaan. Jadi, jangan kucilkan rasa penasaran dan keingintahuan kita oleh sikap egp bin individualis yang bikin kita miskin ilmu.

Kedua, menulis. Kita sering belepotan untuk menuangkan ide ke dalam bentuk tulisan. Biasanya karena tabungan kosa kata bahasa tulisan kita yang pas-pasan. Nah dengan membaca dan terus membaca, kita bakal punya banyak stok kosa kata. Dengan sendirinya akan sangat membantu kita dalam menuliskan tugas belajar, pendapat pribadi, atau kerjaan kantor. Nggak cuman itu, menulis juga bisa menjaga ingatan kita tentang informasi yang kita peroleh dari bacaan. Makanya ada pepatah bilang, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”. Jadi, bacalah apa yang ingin kamu tulis dan tulislah apa yang pernah kamu baca. Akur?

Ketiga, berdakwah. Menyampaikan informasi bermanfaat ke orang lain, bukan cuman berpahala. Tapi juga secara tidak langsung mendorong kita untuk aktif membaca. Karena dakwah perlu ilmu dan ilmu bisa kita peroleh dengan membaca, terutama buku-buku Islam. Asyiknya, bacaan Islam juga punya topik dan gaya bahasa yang beragam. Kita bisa pilih sesuai selera. Yang penting, jangan hanya dikonsumsi sendiri. Sampaikan walau satu ayat, gitu kata Rasul saw.

Pren, semoga tips di atas bisa memelihara minat baca kita. Kamu bisa baca buku, majalah, buletin, koran, e-book, atau tulisan-tulisan yang berseliweran di dunia maya. Yang penting, isinya bermanfaat dan ngasih pengaruh positif buat kamu. Bukan bacaan yang bikin otak kamu mesum, doyan ngehayal, memicu kekerasan, atau melecehkan Islam. Lebih bagus lagi kalo porsi bacaan Islam yang kamu banyakin. Biar lebih mengenal Islam lebih dalam sehingga perilaku tetep terjaga dan mulia. Banyak baca, banyak tahu, banyak ilmu. Yuk! [hafidz341@gmail.com]

About Hafidz341

Seorang islamic writepreneur yang suka menulis ttg dunia remaja dan Islam. Saat ini memegang amanah Pimpinan Redaksi Majalah Remaja Islam Drise (http://drise-online.com). Selain penulis, jebolan STIKOM Binaniaga Bogor ini juga dikenal sebagai praktisi internet dan sosmed marketing serta owner Ghofaz Computer.

Diskusi

2 thoughts on “029. Nyandu Baca is Powerfull!

  1. banyak baca banyak tahu setuju…..~!

    Posted by adit | 08/07/2008, 17:13
  2. hallooooo.. artikelnya bagus2 yhnks ya atas info nya…

    Posted by ricky | 12/02/2009, 06:33

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Follow me on Twitter

%d blogger menyukai ini: