//
you're reading...
Buletin Bukamata

030. Yang Naik Vs Yang Tercekik

Kekurangan dan kelebihan seseorang akan tampak jika kita terus-menerus menginstropeksi diri. (Imam Ibnu al-Jauzy)

Seru sekaligus prihatin. Begitu deh gambaran kondisi negeri kita pasca pemerintah ngasih hadiah kejutan buat rakyatnya akhir Mei kemaren. Mentang-mentang memperingati seratus tahun kebangkitan nasional, eh harga BBM juga ikut bangkit. Seperti yang diberitain media, tanggal 24 Mei lalu pemerintah naekkin harga penjualan bahan bakar minyak sekitar 28.7%. Dan ibaratnya serbuk mesiu, kenaikan harga BBM otomatis memicu kenaikan harga lainnya. Harga kebutuhan pokok ikut naik, ongkos transportasi naik, jumlah rakyat miskin naik, dan angka kejahatan pun beranjak naik. Kalo udah gini, kehidupan rakyat kian tercekik. Endingnya, naik harga, naik pitam juga deh.

Aksi protes kenaikan BBM pun terjadi di semua daerah. Mahasiswa yang jadi corong suara rakyat pun kudu berhadapan dengan aparat yang bertindak represif. Makanya nggak sedikit demo mahasiswa yang berujung anarkis bin kisruh. Meski udah banyak makan korban, pemerintah tetep aja tak bergeming. Malah sibuk ngurusin konversi minyak tanah ke gas yang bermasalah, ’nyogok’ warga miskin lewat program BLT, atau membungkam suara mahasiswa lewat program bantuan pendidikan 500 ribu per semester.  Emang nggak ada cara lain yang lebih gentle ya….

Jangan Bo’ong Dong!

Berulang kali iklan layanan masyarakat ditayangkan untuk menguatkan opini ’sisi baik’ kenaikan harga BBM. Katanya, alokasi subsidi BBM bisa untuk mengurangi rakyat miskin dengan program BLT alias Bantuan Langsung Tape deh….! Tapi kenyataannya, ada fakta lain seputar subsidi BBM dan angka kemiskinan yang nggak nongol ke permukaan. Apa ya?

Pertama, tentang subsidi BBM. Saat ini, kebutuhan BBM dalam negeri kita itu jumlahnya sekitar 1.200 barrel/hari (1 barrel = 159 liter). Sementara produksi BBM-nya sekitar 910 barrel/hari. Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, negara kudu mengimpor BBM sekitar 290 barrel/hari. Menurut mantan Kepala Bappenas, Kwik Kian Gie, kalo itungannya bener pemerintah dapet untung dari selisih harga jual BBM dalam negeri (Rp. 4500/liter) dengan subsidi impor minyak mentah. Besarnya bisa mencapai Rp. 35 Triliun. Ini sangat logis karena produksi minyak dalam negeri jauh lebih besar jumlah yang diimport. Jadi agak ganjil kalo subsidi BBM dijadikan kambing hitam untuk menaikkan harga BBM.

Kedua, sumber daya BBM. Lebih dari 90% migas Indonesia dikuasai asing. Bayangin aja, di Indonesia ada 60 perusahaan kontraktor migas. Enam di antaranya masuk kategori super majors yang menguasai cadangan minyak 70% dan gas 80%. Yaitu, Exxon Mobil, Chevron, Shell, Total Fina Elf, Bp Amoco Arco, dan Texmaco. Kalo aja pemerintah mengelola sendiri sumber daya BBM, negara kita bakal untung segunung. Harga minyak mentah di luar negeri yang melonjak justru jadi kabar baik bagi kita sebagai negara pengeskpor minyak. Bukan malah jadi kabar duka dan harus mengorbankan mayoritas rakyat yang hidup sengsara sepanjang masa.

Ketiga, mengurangi kemiskinan. Pemerintah selalu bilang kalo alokasi dana subsidi BBM akan dialihkan ke program BLT untuk rakyat miskin. Seperti yang pernah dilakukan 3 tahun lalu pasca kenaikan BBM sebesar 126% pada bulan Oktober tahun 2005.

Tapi kenyataannya, BLT boro-boro mengurangi kemiskinan. Malah cuman ngasih ‘angin surga’ yang membuai rakyat miskin. Sekali terima BLT untuk tiga bulan, dalam sekejap udah ludes dipake belanja. Nggak heran kalo angka kemiskinan tetep meningkat. Dari 31,1 juta jiwa (2005) menjadi 39,3 juta jiwa (2006). Dan untuk tahun 2008 ini, Lembaga Kajian Reformasi Pertambangan dan Energi memperkirakan, kenaikan harga BBM sebesar 30 persen berpotensi mengakibatkan orang miskin bertambah sebesar 8,55 persen atau sekitar 15,68 juta jiwa. (Kompas Online, 08/05/08). Yang ada, bukan menekan angka kemiskinan tapi ‘mengurangi’ rakyat miskin karena bunuh diri dan mati kelaparan. Nah lho?

Pren, kalo ngeliat fakta di atas, kayanya opini yang mendukung kenaikan harga BBM cuman akal-akalan pemerintah deh. Kalo saja mereka yang ngatur negara ini hidup miskin, pasti kerasa banget sengsaranya. Makanya, kita kecewa banget deh ama pemerintah yang berulang kali menaikkan harga BBM. Sakiiiitt….! (sambil mengelus dada dengan wajah memelas khas Ruben Onsu)

Untuk Apa Subsidi Dicabut?

Pren, kalo kenyataannya kenaikan harga BBM bikin rakyat tambah melarat, sebenarnya untuk apa subsidi itu dicabut?

Kalo menurut Serikat Pekerja Indonesia, kenaikan harga BBM ini gara-gara campur tangan Bank Dunia. Hal ini terungkap dalam dokumen utang pemerintah Indonesia kepada Bank Dunia pada program energy and mining development, Loan No. 4712-IND mulai tahun 2003 hingga Desember 2008. Dimana program utang sebesar $ 141 juta USD, bertujuan untuk menghilangkan subsidi bahan bakar kepada rakyat. Ini juga ditegaskan seorang ekonom, Ichsanuddin Noorsy. (TVOne, 26/05/08).

Selain kepada Bank Dunia, negara kita juga punya hutang ke lembaga rentenir dunia alias IMF. Dalam APBN tahun 2008 ini, cicilan pembayaran utang plus bunganya mencapai Rp. 151,2 triliun (Beritasore.com, 25/11/07). Gara-gara utang luar negeri ini, pemerintah nggak berkutik didikte IMF untuk ngikutin kemauannya demi perbaikan ekonomi negara. Padahal kenyataannya, program IMF cuman bikin porak poranda perekonomian negara-negara berkembang. Seperti yang dialami negeri kita.

Dalam Water Privatization Fact Sheet, disebutkan bahwa 40 negara yang diberikan pinjaman IMF pada tahun 2000, 12 negara di antaranya diharuskan menaikkan harga jasa pelayanan air dan melakukan privatisasi air. Di bidang ketenagakerjaan, IMF memaksa agar para pekerja disektor publik diberhentikan dan memaksa sejumlah negara untuk mengendalikan tingkat upah tetap rendah (John Capanagh, et.al: 2003).

Akibatnya, IMF bikin 8 juta orang Ethiopia kelaparan. Padahal produksi pangan di negara tersebut memenuhi 90% kebutuhannya. Bahkan di beberapa tempat terjadi surplus produksi pangan (Michel Chossudovsky: 2003). Dan sepanjang tahun 1980-1997, kebijakan IMF mendongkrak hutang negara-negara berpendapatan rendah sebesar 544% dan hutang negara-negara berpendapatan menengah sebesar 481% (John Capanagh, et.al: 2003). Bukannya untung dibantu IMF, malah buntung!

Jadi sebenernya, kelahiran IMF dan Bank Dunia adalah untuk melanjutkan penjajahan negara-negara maju terhadap negara-negara berkembang dan miskin yang baru melepaskan diri dari penjajahan fisik. Seperti tercantum dalam Konsensus Washington (KW) yang digagas Amerika, IMF dan Bank Dunia. Inilah yang terjadi di negeri kita. Pemerintah terjebak dalam jeratan penjajahan gaya baru alias neo liberalisme melalui pinjaman hutang luar negeri dari IMF dan Bank Dunia.

Prinsip neoliberalisme sendiri adalah pasar bebas, peran negara yang terbatas, dan individualisme. Karena peran negara terbatas, maka neoliberalisme memandang intervensi pemerintah sebagai “ancaman yang paling serius” bagi mekanisme pasar. (Adams, 2004). Dalam neoliberalisme, pelayanan publik oleh negara harus mengikuti mekanisme pasar alias mesti pake prinsip untung-rugi dalam pelaksanaannya. Pelayanan publik murni seperti dalam bentuk subsidi, dianggap pemborosan dan inefisiensi. (http://id.wikipedia.org).
Pren, kayanya makin jelas sekarang untuk siapa pencabutan subsidi BBM dilakukan pemerintah. Yang pasti bukan untuk kebaikan rakyat, tapi lebih pas untuk ngikutin penjajah berkedok IMF dan Bank Dunia.

Makanya, dalam Islam negara nggak boleh berhutang pada rentenir dunia. Karena jelas-jelas itu bisa jadi pintu masuk penjajahan asing. Allah swt berfirman:

“…Sekali-kali Allah tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai kaum Mukmin.” (QS. An-Nisâ [4]: 141).

Masih Ada Pilihan Lain Kok

Pemerintah bilang kalo kebijakan pencabutan subsidi BBM ini pilihan terakhir untuk menyelamatkan kas negara. Kedengerannya sih heroik banget. Padahal sebenernya, masih ada pilihan lain yang lebih bijak dan nggak bikin rakyat mencak-mencak.

Pertama, hentikan privatisasi kekayaan migas. Ini penting banget nih. Biar kekayaan negeri bisa dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Seperti tercantum dalam UUD 1945. Juga bisa jadi sumber pendapatan negara dengan mengekspornya ke luar negeri. Dengan begitu, kas negara nggak selalu kembang kempis alias cekak setiap saat. Dan nggak perlu mengemis hutang ke lembaga rentenir dunia sebangsa IMF dan Bank Dunia.

Kedua, jangan bayar bunga hutang luar negeri. Kalo negara kita dipinjemin duit, emang udah kewajiban untuk ngebalikin. Tapi kalo pake bunga, no..no..no. Selain termasuk riba yang diharamkan, bunga bikin hutang awet dan menjerat ekonomi negara kita. So, bayar aja pokok hutangnya terus putuskan hubungan dengan lintah darat IMF dan Bank Dunia. Biar tingkah rentenir dunia itu nggak menginjak-injak harga diri bangsa kita.

Ketiga, terapkan hukum Islam. Kalo neo liberalisme menganggap subsidi sebagai pemborosan dan merusak pasar, Islam justru menilai sebaliknya. Dalam Islam, subsidi adalah bagian dari pelayanan negara kepada rakyatnya. Bukan urusan bisnis yang pake prinsip untung rugi. Seperti dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khaththab yang pernah memberikan harta dari Baitul Mal (Kas Negara) kepada para petani di Irak agar mereka dapat mengolah lahan petanian mereka. (An-Nabhani, 2004:119).

Dan untuk urusan BBM, hukum Islam menetapkan kalo kekayaan migas termasuk milik umum yang nggak boleh diprivatisasi dengan alasan apapun. Negara wajib mengelolanya dari bahan mentah sampe bahan siap pakai. Baik untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya atau dijual ke luar negeri sebagai sumber pemasukkan kas negara sebagai penopang kebutuhan subsidi. So, kenaikan harga BBM dan dampaknya yang bikin rakyat merana emang cuman ada dalam kehidupan kapitalisme kaya di negeri kita. Seperti yang Allah swt tegaskan dalam firman-Nya:

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. Thaha [20]: 124).

Nah pren, kalo aja pemerintah nyadar dan berani ambil tindakan di atas untuk keluar dari neo liberalisme, kehidupan kita tentu akan lebih baik. Tapi kalo pemerintah tetep ngeyel pake kapitalisme sekuler bin liberal untuk ngatur kehidupan kita, kayanya kenaikan harga BBM bakal terus berulang. Dan selama harga BBM terus naik, selama itu pula kehidupan kita terus tercekik. Inilah buah dari neo liberalisme. Makanya, jangan diem aja. Udah kewajiban kita untuk ngingetin pemerintah akan bahaya neo liberalisme dan mengajak umat bersama-sama berjuang demi tegaknya hukum Islam dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyah. Yuk ah! [hafidz341@gmail.com]

About Hafidz341

Seorang islamic writepreneur yang suka menulis ttg dunia remaja dan Islam. Saat ini memegang amanah Pimpinan Redaksi Majalah Remaja Islam Drise (http://drise-online.com). Selain penulis, jebolan STIKOM Binaniaga Bogor ini juga dikenal sebagai praktisi internet dan sosmed marketing serta owner Ghofaz Computer.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Follow me on Twitter

%d blogger menyukai ini: