//
you're reading...
Buletin Bukamata

031. Fanatisme Si Kulit Bundar

“Tidak ada sesuatu pun di dunia yang lebih menolong, selain dari beruat baik terhadap saudara.” (Muhammad al-Baqir)

Trix dan Flix makin sering berseliweran di layar kaca. Mereka beraksi memainkan bola diiringi lagu ‘Like A Superstar’ yang dilantukan Shaggy. Dua sosok yang jadi maskot kejuaraan sepakbola negara-negara Eropa tahun 2008 ini siap nemenin para gila bola untuk begadang semalam suntuk. Trix dan Flix digambarkan sebagai anak kembar yang enerjik yang doyan maen bola. Trix pake seragam khas Austria berwarna putih dengan nomor 08, ia adalah anak yang serius dan bisa mengontrol diri. Sementara Flix adalah anak yang periang dengan seragam warna merah bernomor 20, warna yang merupakan simbol dari swiss.

Trix dan Flix sukses menyebarkan demam euro 2008 di seluruh dunia. Nggak cuman di Eropa, tapi di setiap jengkal permukaan bumi. Buktinya, Inggris aja yang nggak lolos ke ajang bergengsi empat tahunan ini, suporternya tetep hadir di Swiss dan Austria. Mereka mah jadi dukung siapa aja, yang penting bisa ikut senang dengan fans bola dari negara lain. Di dalam negeri, atmosfer perhelatan piala eropa udah jauh-jauh hari dikampanyekan oleh televisi swasta pemeganghak siar. Biar pemirsa bisa nonton siaran langsung gratis dari layar kaca. Kecuali listriknya kena giliran dimatiin oleh PLN yang lagi kekurangan BBM. Bete deh!

Dukungan Kaum Hooligan

Setiap pertandingan olahraga, apapun jenisnya tak bisa dilepaskan dari dukungan suporter. Terutama dalam pertandingan sepakbola yang jumlah penontonnya sering meluber sampe ke luar stadion. Sebagai bentuk dukungan terhadap tim idolanya, perilaku dan penampilan suporter sering terlihat unik. Ekspresi para soccer mania ini juga yang ikut melambungkan popularitas olahraga rakyat ini.

Nggak heran kalo dalam dunia sepak bola dikenal tujuh karakter penonton dilihat dari perilakunya. Ada kaum Hooligan yang brutal ketika tim idolanya kalah tanding; para Ultra yang selalu berisik dengan bernyanyi dan mendengungkan yel-yel tim favoritnya selama pertandingan berlangsung; kaum VIP yang nonton bola demi gengsi dan untuk pencitraan diri; Daddy/Mommy Fans yang menjadikan ajang nonton bola sebagai ajang rekreasi keluarga; Christmas Tree atau ‘Pohon Natal’ karena sekujur tubuh dan pakaiannya dipenuhi berbagai atribut tim mulai dari pin, badge, stiker, tato, corat-coret wajah dan rambut dengan aneka gaya;  The Expert yang doyan berjudi dan nyekek botol miras; atau Couch Potato lebih suka nonton bola dari layar kaca dibanding dayang ke stadion.

Di antara tujuh type fans bola diatas, kaum hooligan yang sering kedapetan menodai pertandingan bola sepak. Niat awalnya sih mau ngasih dukungan, tapi giliran timnya kalah nggak bisa terima. Malah emosi dan bertindak anarkis. Makanya banyak yang nggak rela kalo kaum hooligan ini nongol di stadion. Bukannya nggak boleh, khawatir aja terjadi kerusuhan. Soalnya catatan kriminal kaum hooligan lumayan panjang lho.
Seperti tragedi Heysel yang terjadi pada tanggal 29 mei 1985. Kala itu dua tim hebat Eropa Liverpool dan Juventus bertemu di final piala champions (sekarang berganti nama menjadi liga champions). Pertandingan final yang dimenangkan dengan skor 1-0 oleh Si Nyonya Besar (julukan-Juventus) itu mesti dibayar mahal dengan melayangnya nyawa 39 orang sebagai korban bentrokan para pendukung kedua tim.

Hooligan sering disematkan pada fans bola asal Inggris. Padahal menurut Jonathan Crowther (dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary, 1995: 572), hooligan berarti “seorang sosok pemuda yang melakukan kekerasan dan membuat keributan dalam wilayah-wilayah publik, biasanya dijalankan dengan sekelompok orang”. Kalo dikaitkan dengan dunia sepakbola, hooligan berarti kalangan pendukung yang berperilaku anarkis selama atau setelah pertandingan sepakbola. Jadi, hooligan berlaku untuk pendukung kesebelasan manapun yang membuat kekacauan.

Makanya fanatisme yang berlebihan dari kaum hooligan sering bikin was-was pihak penyelenggara pertandingan. Seperti yang dialami warga Austria sebagai tuan rumah dalam hajatan euro 2008 ini. Kecemasan itu terungkap lewat survei yang dipublikasikan Universitas Vienna, Jumat (1/2). Seperlima dari 1.500 warga Austria yang diminta pendapat dalam survei itu mengaku cemas dengan kehadiran para “hooligan” Inggris yang bisa mengacaukan perhelatan Piala Eropa 2008. (Kompas.com, 01/02/08)

Lahan Subur Ashobiyah

Pertandingan sepakbola dengan tingkat fanatisme yang tinggi, sering kali bikin semangat suporter-nya over dosis. Fenomena kaya gini sering dianggap wajar sebagai ekspresi dari sebuah cinta atas dasar rasa se-tanah air, sebangsa, senegara, atau sebuah komunitas semu (fans club). Padahal, sikap ashobiyah ini gampang memancing kerusuhan yang dilakukan suporter.

Seperti yang sering kita temui di dalam negeri. Kompetisi Liga Indonesia lebih banyak menghasilkan situasi fanatisme suporter kedaerahan dan prestise bagi daerah. Kerusuhan demi kerusuhan mewarnai penyelenggaraan kompetisi sepakbola dalam negeri. Bentrokan antara pendukung Persija dan pendukung Persita di Tanggerang, Rabu 14 Maret 2007 menjadi buktinya. Para pendukung ini kaya nggak kapok padahal seminggu sebelumnya juga terjadi aksi brutal penonton juga mewarnai bentrokan antara pendukung Persija dan pendukung Persikabo di Bogor.

Malah di Madrid Spanyol, dikenal sekelompok suporter fanatik yang kelewat beringas, “Ultra Sur” namanya. Mereka men-jadikan Stadion Santiago Bernabeu sebagai markas untuk berkumpul dalam merencanakan serangan. Mereka udah menyimpan semua alat ‘perang’ tersebut di sebuah toko di sekitar stadion. Nah lho! Ini mo nonton bola apa mo tawuran sih?

Di Piala Eropa 2008, perkelahian antarsuporter merebak pascakemenangan Jerman atas Polandia, 2-0, Senin (9/6) dini hari. Bentrokan pendukung kedua kesebelasan terjadi di luar Stadion Worthersee, Austria, saat Jerman unggul 1-0 atas Polandia. Penangkapan terhadap para hooligans Jerman juga terus dilancarkan Kepolisian Austria guna mencegah terjadinya kerusuhan. Sedikitnya 100 hooligans ditangkap polisi dalam dua kali razia. Empat puluh orang di antaranya ditangkap karena mengeluarkan ejekan berbau Nazi selama pertandingan antara Jerman dan Polandia.

Selain memancing kerusuhan, ashobiyah juga melahirkan sikap rasisme atau merendahkan orang lain karena perbedaan ras atau warna kulit. Nuansa rasisme ini kental sekali di English Premier League. Sebuah survei yang dilakukan ICM Research dan hasilnya dipublikasikan BBC pada Mei 2004 memperlihatkan 51% dari responden menyatakan kalau Inggris adalah negara yang rasis. Jumlah yang sama dari 1576 responden dengan berbagai background itu juga menyatakan kalau warna kulit membuat mereka diperlakukan secara diskriminatif di tempat kerja. Jumlah lebih besar lagi, yaitu 61%, bahkan menyatakan mereka mendapat pelecehan rasial saat berada di bangku sekolah (Jawa Pos.com, 25/11/04)

Pren, kerusuhan dan rasisme dalam sepakbola sesungguhnya lahir dari sikap superior (merasa paling unggul) antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Sehingga setiap anggota dituntut bersama-sama berusaha menunjukkan eksistensi kelompoknya. Kondisi ini yang sering terlihat dalam kehidupan hewan. Karena disana berlaku hukum rimba, yang terkuat dialah yang menang dan layak jadi penguasa. Sialnya, sikap superior ini malah dilestarikan di lapangan rumput. Emang ngiri ama kehidupan hewan ya?

Kartu Merah Untuk Ashobiyah

Pren, Islam ngelarang banget kita bersikap ta’ashub. Bangga dan fanatik buta ama kelompok kebanggaan kita. Fanatisme kelompok seperti kesukuan dan nasionalisme terbukti memecah belah manusia. Karena kita dipaksa untuk hidup terkotak-kotak dalam kungkungan daerah, negara, atau klub sepakbola. Selain itu, fanatisme kelompok juga bisa bikin kita ngerasa beda dengan orang lain dan mempersempit pergaulan. Makanya wajar kalo agama kita nggak ngasih celah sedikitpun untuk berkembangbiaknya sikap fanatik kelompok ini. Sabda Nabi saw.:

“Bukan golongan kami yang menyeru pada ashabiyyah, berperang karena ashabiyyah dan mati karena ashabiyyah.” (HR Abu Daud)

Islam sebagai ajaran yang benar dan mulia udah jauh-jauh hari masukkin perilaku rasisme dalam black list. Imam Bukhari meriwayatkan, bahwa Abu Dzar dan Bilal al-Habasyi saling bercaci-maki sampai memuncak kemarahannya. Kemudian Abu Dzar berkata kepada Bilal: Hai anaknya perempuan hitam! Mendengar ucapan itu, Bilal mengadu kepada Nabi. Maka kata Nabi kepada Abu Dzar:

“Hai Abu Dzar, apakah kau caci dia sebab ibunya? Kalau begitu sungguh kamu seorang yang masih diliputi perasaan jahiliah.” (HR Bukhari)

Kemudian Abu Dzar menjatuhkan dirinya ke tanah dan diratakan pipinya dengan debu serta meminta Bilal menginjak kepalanya sebagai balasan atas kesombongannya tadi.

Islam membenci sikap superior seperti yang dimiliki para pelaku rasis di Eropa. Mentang-mentang nenek moyang mereka pernah memperbudak nenek moyang ras afrika. Ngakunya manusia beradab, tapi masih aja mewarisi perilaku biadab. Rasulullah pernah bersabda:

“Sesungguhnya nasab-nasabmu ini bukan menjadi sebab kamu boleh mencaci kepada seseorang; kamu semua adalah anak-cucu Adam … Tidak ada seorangpun yang melebihi orang lain, melainkan karena agama dan taqwanya …” (HR Ahmad)

Sebagai seorang muslim, jangan sampai deh kita gontok-gontokan cuman lantaran sepak bola yang nggak ada pahalanya. Aduh, malu deh dengernya. Itu sama aja menodai keislaman kita. Allah swt berfirman:

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS. Ali-Imrân [3]: 103).

Pren, kalo kamu suka nonton sepak bola, nikmati saja permainannya. Bukan sikap ashobiyahnya. Kalo kamu ngefans ama satu tim, bagusnya simpan dalam hati saja. Biar nggak terkesan menyeru pada ashobiyah. Yang perlu kita sadari, ajang kompetisi sepakbola selain menyuburkan ashobiyah juga bisa banyak menyita waktu dan perhatian umat. Akibatnya, umat nggak peduli lagi dengan masalah yang menimpanya selain urusan sepakbola. Kalo tetep dibiarin, kehidupan umat akan semakin terpuruk. Makanya tugas kita untuk menyadarkan umat akan bahaya ashobiyah. Meski tampang Trix dan Flix cukup imut, nggak berarti bikin kita terhanyut. Priiit…! Kartu merah untuk ashobiyah! [hafidz341@gmail.com]

About Hafidz341

Seorang islamic writepreneur yang suka menulis ttg dunia remaja dan Islam. Saat ini memegang amanah Pimpinan Redaksi Majalah Remaja Islam Drise (http://drise-online.com). Selain penulis, jebolan STIKOM Binaniaga Bogor ini juga dikenal sebagai praktisi internet dan sosmed marketing serta owner Ghofaz Computer.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Follow me on Twitter

%d blogger menyukai ini: