//
you're reading...
Buletin Bukamata

032. ‘Kejamnya’ Ujian Nasional

“Tuntutlah ilmu dan manfaatkanlah. Jangan menuntut ilmu agar dapat menyombongkan diri.”
(Ubbay bin Kaab)

Pendidikan sungguh kejam, 3 tahun blajar dan mbyar mti2an administrasi tp kelulusan hanya ditentukan dgn 3 mta plajaran dan wkt yg singkat..tlong dengarkan rintihan siswa. [0856-9272xxxx]

Itulah bunyi sms tanpa identitas yang sempet mampir ke meja redaksi. Mungkin dari salah satu secret admirer alias pengagum rahasia buletin bukamata (geer banget ya?). Terlepas siapa yang udah merelakan pulsanya untuk ngirim sms di atas, kita bisa nangkep isi curhat dari pengirim. Dan boleh jadi, uneg-uneg yang sama juga mangkal di benak temen-temen kita kelas 3 SMA/SMP yang menunggu ’lonceng kematian’ dari hasil Ujian Nasional. Lulus gak ya?

Suka Duka Ujian Nasional

Sabtu, 14 Juni lalu jadi hari yang memancing jutaan pasang mata pelajar SMU untuk melototin media massa. Bukan untuk nonton piala Eropa atau mantengin gosip seleb yang nggak ada abisnya, tapi harap-harap cemas menanti pengumuman kelulusan UN serentak di seluruh pelosok nusantara. Departemen Pendidikan Nasional melansir, siswa SMA yang tidak lulus tahun ini di bawah 8 persen atau sekitar 112.000 siswa dari 1,4 juta siswa SMA/MA dan 700 ribu siswa SMK yang ikut UN 2008.

Otomatis berbagai ekspresi siswa mewarnai pengumuman hasil UN. Ada yang berbahagia tapi tak sedikit yang berduka. Aksi corat-coret baju dan konvoi kendaraan roda dua jadi agenda yang paling banyak dilakukan pasca pengumuman. Ini yang bikin repot polantas dan dicemberutin para pengguna jalan raya. Gimana nggak, mentang-mentang lulus serasa jadi raja sehari. Rame-rame turun ke jalan memadati ruas jalan raya dengan wajah dan seragam dipenuhi coretan cat pylox. Asli kagak ada pantesnya.

Ada juga siswa yang lebih bijaksana-bijaksini dalam meluapkan kegembiraannya. Di Sidoarjo, Jawa Timur, para siswa Madrasah Aliyah Kholid Bin Walid, Desa Renokenongo, Kecamatan Porong sujud syukur di halaman sekolah. Di kota Yogyakarta, siswa yang lulus diwajibkan menanam pohon penghijauan secara berkelompok di sekolah masing-masing. Ada juga yang menyumbangkan seragam sekolah milik mereka yang masih layak pakai ke panti asuhan. Atau membagi-bagikan nasi bungkus kepada pengemudi becak, pedagang asongan, pedagang koran dan pengemis.

Sementara bagi mereka yang nggak lulus, cuman bisa menelan kekecewaan mendalam. Ngerasa nggak puas kalo kelulusan mereka cuman diukur dari hasil UN. Padahal banyak diantara mereka yang prestasi hariannya di kelas cukup memuaskan. Bahkan ada diantara mereka yang udah lolos Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) dan diterima di Perguruan Tinggi Negeri, tapi kudu kandas lantaran nggak lulus UN. Meski yang nggak lulus bisa ikut ujian paket C, nggak semua Perguruan Tinggi menerima ijazah paket C. Gimana nggak sedih coba..!

Seperti yang pernah dialami oleh Siti Hapsah, Siswi SMA Panglima Besar Sudirman, Jakarta Timur. Doi sudah dinyatakan lulus PMDK dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Sayangnya, doi nggak lulus UN karena nilai matematika di bawah 4,25. Nasib serupa juga dialami Bayu, siswa SMA Negeri 71 Jakarta. Siswa yang cukup berprestasi dikelasnya ini udah diterima di Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang. Sayang, impiannya pupus karena doi nggak lulus UN. Dan yang nggak kalah ngenesnya, dialami oleh Melati, siswa SMA Negeri 6 Jakarta Selatan. Pasalnya, doi sudah lulus program beasiswa dari sebuah perguruan tinggi di Jerman. Sayang, nilai matematika tidak mencapai 4,25. Ujungnya, Melati pun urung ke negeri orang. (Sinar Harpan, 24/06/06).

Wajar, kalo banyak pihak yang protes dengan kebijakan Ujian Nasional produk Badan Standar Nasional Pendidikan ini. Terlalu gegabah kalo mutu pendidikan pribadi siswa hanya dinilai dari hasil UN. Lagian, yang paling tahu tingkat intelektual tiap siswa sehingga layak diberikan predikat lulus atau ngulang kan guru dan pihak sekolahnya. Bukan pemerintah.

Dan kalo pemerintah tetep ngotot dengan kebijakan Ujian Nasional, kenapa nggak sekalian aja dibikin aturan cuman mata pelajaran yang diujikan saja yang diajarkan di sekolah. Seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, atau Matematika aja. Nggak perlu pihak sekolah repot-repot bikin kurikulum untuk pelajaran selain yang diujikan secara nasional. Toh nggak ngaruh ama kelulusan siswanya dan nggak diakui oleh pemerintah. Betul?

Riwayat Hidup Ujian Nasional

Jaman penulis SMP dulu, belon ada tuh yang namanya Ujian Nasional. Yang ada Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional alias Ebtanas. Nilai Ebtanas Murni alias NEM ini nggak langsung menentukan kelulusan siswa. NEM lebih banyak dipake biar bisa masuk sekolah atau perguruan tinggi negeri (PTN). Saat itu, sekolah dan PTN pamornya lumayan tinggi. Selain biayanya lebih murah (saat itu lho), kualitasnya dan gengsinya lumayan bikin bangga. Tapi sekarang, kayanya udah nggak deh.

Tahun 2003, Ebtanas tutup usia dan diganti dengan Ujian Akhir Nasional dengan standari kelulusan nilai minimal 3,01. Tahun 2004, Depdiknas menaikkan standar kelulusan dari 3,01 menjadi 4,01. tahun 2005, Depdiknas kembali menaikkan standar kelulusan dari 4,01 menjadi 4,25 dan merubah nama Ujian Akhir Nasional (UAN) menjadi Ujian Nasional (UN). Dan kini, standar kelulusan kembali didongkrak menjadi 5,25.
Mendiknas bakal tetep mempertahankan kebijakan UN meski menuai banyak protes. Karena penyelenggaraan UN dianggap bisa”memaksa” siswa dan guru untuk disiplin belajar demi mendongkrak mutu pendidikan di Indonesia. “Masyarakat kita itu perlu dipaksa dulu untuk mau belajar. Inilah mengapa UN itu mampu membuat semua pihak jadi sungguh-sungguh belajar. Jika semua sekolah sudah bagus mutunya, UN tidak diperlukan lagi,” kata Bambang. (UNP, 05/05/08). Emang nggak ada cara lain yang lebih mengena dan tanpa paksaan ya Pak?

Tapi menurut pengamat pendidikan Darmaningtyas, kebijakan ujian nasional (UN) SMA yang diterapkan pemerintah tidak berguna. Artinya, meski memiliki nilai kelulusan sempurna, seorang siswa belum tentu lolos ujian masuk PTN. “Malah ada yang tidak lulus UN tapi berhasil tes ujian masuk perguruan tinggi negeri, justru yang lulus ujian nasional tidak berhasil tes masuk perguruan tinggi negeri,” pungkasnya. (Okezone.com, 16/06/08)

Pren, kita setuju aja kalo pemerintah perlu bahan evaluasi biar bisa menggerek mutu pendidikan nasional. Tapi kalo harus mengandalkan UN, kayanya nggak deh. Masalahnya, terpuruknya kualitas pendidikan di negeri kita dipengaruhi banyak faktor. Nggak cuman prestasi akademis pelajarnya aja.

Kalo pemerintah tetep ngotot mempertahankan UN, bagusnya pemerintah juga kudu berani menarik kebijakan pencabutan subsidi pendidikan, mendukung sepenuh hati pemenuhan kelengkapan sarana dan prasarana proses belajar tiap sekolah, plus perbaikan kesejahteraan tenaga pengajar. Dengan begitu, perhatian pelajar, sekolah dan guru bisa lebih terfokus terhadap peningkatan mutu pendidikan dan disiplin belajar. Nggak perlu dipaksa-paksa. Betul ?

Mutu Pendidikan Dalam Islam

Dalam ilmu kependidikan, kemampuan peserta didik seharusnya mencakup tiga aspek yakni pengetahuan (kognitif), keterampilam (Psikomotor ) dan sikap (Afektif). Sayangnya, Ujian Nasional cuman menilai satu aspek kemampuan saja yaitu kognitif sebagai penentu kelulusan. Dua aspek lainnya dianggap nggak penting. Padahal tiga aspek di atas yang mensukseskan tujuan pendidikan untuk membentuk manusia cerdas penuh kreativitas dan mandiri serta dapat mengatasi segala persoalan yang dihadapi.

Dalam sistem pendidikan Islam, tiga aspek pendidikan di atas terpenuhi secara maksimal. Secara kognitif, pelajar dirangsang untuk tahu banyak ilmu. Terutama ilmu-ilmu Islam yang mengokohkan benteng akidah dari serangan pemikiran sekuler. Di tingkat sekolah atas dan perguruan tinggi, pelajar dikenalkan dengan ilmu-ilmu umum seperti filsafat, fisika, kedokteran, teknik dan engineering, atau optik dan astronomi. Rangsangan ini ditunjang dengan fasilitas perpustakaan yang super lengkap dan gratis.

Secara psikomotor, pendidikan Islam menekankan bahwa setiap ilmu yang dipelajari bukan untuk memuaskan dahaga intelektual aja. Tapi dipake untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi manusia. Ilmu-ilmu Islam digunakan untuk menggali hukum Islam yang berhubungan dengan kemajuan teknologi dan perkembangan sarana pemenuhan kebutuhan hidup. Dan ilmu umum bermanfaat untuk menciptakan peralatan yang membantu kerja manusia.

Rasulullah saw pernah mengutus dua orang sahabatnya untuk mempelajari teknik pembuatan senjata mutakhir yang dinamakan dababah. Sejenis tank pelembar batu untuk menyerang benteng pertahanan musuh. Rasul juga mendorong kaum Muslimin untuk mengembangkan teknik pembuaatn busur panah dan tombak. Nggak ketinggalan, Rasul juga menganjurkan kaum wanita mempelajari ilmu tenun, menulis, dan merawat orang-orang sakit (pengobatan).

Secara afektif, akidah Islam yang menjadi dasar kurikulum pendidikan Islam menjaga perilaku para pelajarnya. Kesadaran akan hubungannya dengan Allah swt, menggiring anak didik untuk selalu menjadikan aturan hidup Islam sebagai standar perbuatan mereka. Bukan tren budaya atau penilaian orang lain.
Dan sebagai petunjuk keberhasilan pelajar, Islam nggak menjadikan nilai ujian tulis sebagai satu-satunya tolok ukur. Bahkan dalam sejarah panjang kejayaan khilafah Islam, nggak dikenal namanya ujian tulis bagi anak didik. Karena ujian tulis hanya akan mematikan daya cipta dan kreatifitas siswa. Sebagai gantinya, dalam pendidikan Islam dikenal teknik munadhoroh (diskusi). Ini semacam ujian lisan bagi pelajar untuk mengetahui kemampuan siswa dalam memahami dan kreatifitasnya dalam menciptakan atau mengerjakan sesuatu berdasarkan pengetahuan yang dia pelajari. Teknik diskusi ini nggak dibatasi oleh waktu. Tergantung dari kesiapan anak didik. Dan hasil diskusi ini, anak didik diberikan semacam ijazah atau bentuk pengakuan tertulis dari guru terhadap kecakapan muridnya.

Dengan penerapan sistem pendidikan Islam, tuntutan bagi pelajar untuk menjadi pribadi-pribadi berilmu lebih nendang. Allah swt berfirman:

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Mujâdalah [58]: 11)

Jadi, kalo pemerintah kita pengen meningkatkan mutu pendidikan, bisa bercermin pada sistem pendidikan Islam. Lebih bagus lagi kalo pemerintah nggak cuman ngaca, tapi pake sistem pendidikan Islam untuk membenahi carut-marut pendidikan dalam negeri. Bukan ngandelin Ujian Nasional yang ’kejam dan tak berkeprimanusiaan’ seperti dikeluhkan banyak pihak. Saatnya keluar dari jeratan pendidikan kapitalis sekuler yang berorientasi nilai dan beralih pada sistem pendidikan Islam dalam bingkai daulah khilafah islamiyah yang mengikuti jejak kenabian. Berangkaat! [hafidz341@gmail.com]

About Hafidz341

Seorang islamic writepreneur yang suka menulis ttg dunia remaja dan Islam. Saat ini memegang amanah Pimpinan Redaksi Majalah Remaja Islam Drise (http://drise-online.com). Selain penulis, jebolan STIKOM Binaniaga Bogor ini juga dikenal sebagai praktisi internet dan sosmed marketing serta owner Ghofaz Computer.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Follow me on Twitter

%d blogger menyukai ini: