//
you're reading...
Buletin Bukamata

035. Potret Pilu Anak Jalanan

“Tidak ada sesuatu pun di dunia yang lebih menolong, selain dari berbuat baik terhadap saudara.” (Muhammad Al-Baqir)

“Saya Anak Indonesia Sejati, Mandiri dan Kreatif”. Itulah tema Hari Anak Nasional (HAN) tahun 2008. Perayaan tahunan setiap tanggal 23 Juli ini nggak pernah luput dari perhatian pemerintah. Berbagai acara udah disiapin baik di pusat maupun di daerah. Mulai dari festival kreatifitas seni anak, pameran, seminar, lomba karya tulis, bantuan bagi anak kurang mampu, kegiatan mendongeng untuk anak, dan diakhiri dengan Jambore Nasional Anak Indonesia. Semuanya digelar sebagai bentuk kepedulian negara akan nasib anak-anak Indonesia yang kian terabaikan hak-haknya. Oo…jadi pedulinya cuman setahun sekali ya Pak?

Meski perayaan HAN tiap tahun selalu diagendakan, tapi faktanya masih berkeliaran anak-anak yang hidup terlantar dan luput dari perhatian nasional. Hak-hak mereka sebagai warga negara dan generasi penerus bangsa banyak terabaikan. Mulai dari hak pendidikan, kasih sayang dari orang tua, perlindungan dari negara, termasuk porsi bermain mereka yang kudu ditukar dengan jam kerja. Potret buram ini yang tergambar jelas dalam kehidupan anak jalanan. Ketika teman-teman sebayanya asyik bergembira dalam peringatan HAN, mereka justru kudu banting tulang demi sesuap nasi. Padahal mereka juga bagian dari Anak-Anak  Nasional. Sayangnya, sedikit saja yang peduli dengan nasib mereka. Kasian yaa…

Ancaman Mengepung Anak Jalanan

Di setiap daerah, desah napas anak-anak jalanan mengisi ruang sempit sudut-sudut perkotaan. Setiap hari, mereka kudu memeras keringatnya di persimpangan jalan untuk bertahan hidup. Ada yang ngamen bermodalkan kecrekan kaleng tutup botol, jadi pedagang asongan, pemulung barang bekas, atau menengadahkan tangan memohon belas kasihan. Buat mereka yang nggak sabaran, jalan pintas yang nggak pantas sering jadi pilihan. Mencuri, mencopet, malakin anak sekolah, atau nyicipin tindakan kriminal lainnya. Ini yang bikin masyarakat ngasih cap jelek dengan kehadiran kumbang-kumbang metropolitan ini.

Kini, kehadiran anak jalanan telah menjelma menjadi sebuah komunitas. Mereka hidup berkelompok yang diikat dengan perasaan senasib sepenanggungan. Saat itulah kekuatan kelompok menjadi jaminan biar tetep bertahan hidup di tengah kerasnya kehidupan perkotaan. Tak jarang, gara-gara urusan perut memicu pertumpahan darah antar kelompok maupun individu. Karena dalam dunia mereka berlaku hukum rimba. Siapa yang kuat, dialah yang akan tetap hidup dan menjadi raja. Sementara yang lemah, siap-siap jadi mangsa. Iih….syerem!

Liarnya kehidupan anak jalanan selalu menebarkan ancaman bagi para penghuninya. Bukan satu dua kali media massa memberitakan perihal anak jalanan yang jadi korban kekerasan. Baik kekerasan fisik maupun kekerasan seksual. Data dari Komnas Anak periode Januari-Juni 2006, menunjukkan terdapat 426 kasus kekerasan terhadap anak, 52 persen di antaranya merupakan kasus pencabulan anak. Tak adanya pelindung menjadikan anak jalanan sering jadi sasaran empuk pelaku pedofilia (orang yang secara seksual tertarik pada anak-anak) atau sindikat prostitusi gadis-gadis belia.

Hidup di jalanan yang cenderung bebas tanpa aturan pun turut mendekatkan anak-anak pada perilaku negatif. Salah satunya kebiasaan merokok yang banyak menyita duit hasil jerih payahnya. “Sebanyak 61 persen anak jalanan mengkonsumsi rokok,” kata Ketua Badan Khusus Pengendalian Tembakau Widiastuti Soeroyo. Data diperoleh dari survei yang melibatkan 400 anak jalanan berusia 10-18 tahun pada 11-16 Mei 2008 di 25 titik survei sepanjang jalur kereta api Jakarta-Bogor. (Tempointeraktif.com, 28/05/08)

Banyak cara dilakukan anak-anak jalanan untuk melepaskan penat mereka. Ada yang maen dingdong di pusat perbelanjaan atau nongkrong di tempat rental PS. Ada yang suka menghisap aroma menyengat dari lem aibon yang bisa bikin nge-fly dan bikin bolong paru-paru mereka. Ada yang doyan menenggak minuman keras, nyicipin narkoba, bahkan tak sedikit yang terhanyut dalam kehidupan seks bebas. Ujung-ujungnya, HIV/AIDS siap bersarang di tubuh-tubuh ringkih mereka.

Eksploitasi terhadap anak jalanan kerap kali ditemukan aparat. Diantara mereka ada yang dimanfaatkan untuk menjadi kurir alias pengantar narkoba dari bandar ke konsumennya. Ada yang dibayar untuk ikut berteriak lantang dalam aksi unjuk rasa atau ngeramein kampanye pemilihan kepala daerah. Apalagi menjelang pemilu 2009, alamat kebanjian order tuh. Yang lebih ngeri lagi, ketika akidah anak-anak jalanan yang Muslim banyak yang coba didongkel dengan iming-iming makanan, sekolah, hingga pekerjaan. Seperti Rasul saw bilang, kefakiran mendekatkan pada kekafiran. Waspadalah!

Emang sih kehidupan jalanan nggak selalu diliputi awan mendung. Ada juga sisi lain yang menghadirkan kreatifitas dan geliat anak jalanan dalam kegiatan positif. Tapi kenyataannya, lebih banyak ancaman yang mengepung temen-temen kita yang hidup di jalanan. Meski begitu, bukannya berkurang jumlah anak jalanan malah meningkat dari tahun ke tahun. Tanya kenapa?

Dari Rumah Turun Ke Jalan

Pengamat masalah sosial mengelompokkan anak jalanan menjadi dua kategori. Yaitu anak yang bekerja di jalan dan anak yang hidup di jalan. Perbedaan keduanya berdasarkan kontak dengan keluarganya. Anak yang bekerja di jalan masih memiliki kontak dengan orang tua sedangkan anak yang hidup di jalan sudah putus hubungan dengan orang tua. Dan secara umum, jumlah anak jalanan yang tercatat di lembaga sosial atau pemerintah mengacu pada kedua kategori ini.

Menurut data yang diperoleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dari Departemen Sosial menunjukkan jumlah anak jalanan di beberapa kota besar di Indonesia pada tahun 2005 adalah 150.000 anak. Dari jumlah tersebut, sekitar 30.000 anak jalanan berada di DKI Jakarta. Jumlah ini belum termasuk jumlah anak dan balita telantar. (Sinarharapan.co.id, 27/10/06)

Di kota-kota besar lain, jumlah anak jalanan juga meningkat. Data terbaru pada 2007, Yayasan Setara mencatat selama tiga tahun terakhir ini di Kota Semarang terdapat 416 anak jalanan. Di wilayah Kota Tangerang, Banten, jumlahnya “membengkak” setiap tahun sekitar 10 persen. Dari hasil pendataan pihak Kantor Pemberdayaan Masyarakat (KPM) Pemkot Tangerang, jumlah anak jalanan Tahun 2007 sebanyak 149 orang kemudian bertambah menjadi 165 orang. (Antara, 01/07/08)

Selidik punya selidik, ada tiga faktor yang memancing anak-anak untuk ngerasain hidup bebas di jalanan. Pertama, kondisi ekonomi keluarga yang miskin. Biar ekonomi keluarga tetap menunjukkan tanda-tanda kehidupannya, banyak anak-anak yang ikut mencari nafkah di jalanan. Baik atas kesadaran sendiri atau dipaksa oleh orang tuanya.

Kedua, masalah dalam keluarga. Umumnya, anak brokenhome paling mudah terpancing untuk lari dari rumah dan hidup di jalanan. Mereka jenuh dengan suasana keluarga yang nggak nyaman. Bisa jadi karena kesibukan orang tua yang melupakan curahan kasih sayang pada anaknya, hubungan ayah-ibu yang udah nggak harmonis, atau malah jadi korban kekerasan fisik dalam rumah tangga.

Ketiga, faktor teman sebaya. Bagi remaja, teman adalah segalanya. Ngumpul bareng sohib sambil curhat secara terbuka jauh lebih menyenangkan dibanding blak-blakan ke ortu. Kehidupan jalanan yang bebas dan penuh solidaritas, mampu memalingkan anak-anak dari ikatan keluarga. Bukan karena alasan ekonomi, tapi lebih kepada kebutuhan emosi yang tak terpenuhi.

Pren, ternyata faktor lingkungan lebih banyak memancing anak-anak menjadikan jalanan sebagai tempat bernaung sambil menikmati gaya hidup semau gue. Itu berarti, nggak pantas rasanya kita ngasih label negatif pada temen-temen anak jalanan. Karena boleh jadi kita pun bakal berbuat sama jika berada dalam kondisi mereka. Betul?

Kapitalisme Biang Keladinya

Pren, kayanya jumlah anak jalanan emang nggak akan pernah surut deh. Bukannya nyumpahin, cuman faktor-faktor yang melestarikan anak jalanan sampe sekarang tetep awet tuh. Mulai dari kemiskinan yang menjerat mayoritas keluarga, kesibukan kedua orang tua yang mencari nafkah, hubungan yang nggak harmonis antar anggota keluarga, hingga pengaruh teman sebaya yang menggantikan peran orang tua.
Kondisi-kondisi di atas lahir dari penerapan aturan kapitalisme oleh negara. Kapitalisme yang merampok kekayaan alam dan menjerat negara kita dalam lilitan hutang luar negeri. Kapitalisme yang memaksa orang tua hidup untuk bekerja dan melupakan kewajibannya mendidik anak dengan kasih sayang. Kapitalisme juga yang mengenalkan gaya hidup hedonisme dalam seks bebas dan narkoba pada remaja. Walhasil, selama kapitalisme mengatur negeri kita, selama itu pula potret pilu anak jalanan selalu menghiasi perayaan Hari Anak Nasional. Capek deh!

Makanya, kita mesti jeli dalam beresin masalah anak jalanan. Jangan sampe kecele. Niatnya mau menyelesaikan eh malah ikut melestarikan. Kan berabe. Boleh aja individu yang peduli ngurus anak jalanan dengan mendirikan rumah singgah. Tapi kayanya, itu bisa bikin pemerintah keenakan dan pelan-pelan lepas tangan. Padahal negara adalah penanggung jawab utama dan pertama dalam setiap masalah yang dihadapi rakyatnya.

Makanya dalam Islam, seorang pemimpin itu akan dimintai tanggungjawabnya dalam mengatur rakyat. Ia seharusnya menjadi pelindung rakyat, bukan malah menyengsarakan rakyat. Sabda Rasulullah saw.:

“Sesungguhnya seorang imam (pemimpin) itu merupakan pelindung. Dia bersama pengikutnya memerangi orang kafir dan orang zalim serta memberi perlindungan kepada orang-orang Islam. Sekiranya dia menyuruh supaya bertaqwa kepada Allah dan berlaku adil maka dia akan mendapat pahala, akan tetapi sekiranya dia menyuruh selain dari yang demikian itu, pasti dia akan menerima akibatnya” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kini saatnya bagi kita untuk terus ngingetin para pemimpin agar lebih merhatiin rakyatnya. Jangan melulu sibuk ngurusin pilkada atau menghindari kejaran KPK. Enyahkan kapitalisme beserta anak cucunya dari bumi pertiwi. Biar nggak jadi parasit yang menggerogoti sumber daya alam dan ikut ngerecokin kebijakan-kebijakan pemerintah. Terakhir, tetep kampanyekan Islam sebagai aturan negara. Di bawah naungan Islam, insya Allah kebaikan dunia akhirat tercurah pada semua. Termasuk perlindungan dan pemenuhan hak anak-anak negeri. Peduli anak jalanan, kampanyekan penerapan syariat Islam. Yuk! [hafidz341@gmail.com]

About Hafidz341

Seorang islamic writepreneur yang suka menulis ttg dunia remaja dan Islam. Saat ini memegang amanah Pimpinan Redaksi Majalah Remaja Islam Drise (http://drise-online.com). Selain penulis, jebolan STIKOM Binaniaga Bogor ini juga dikenal sebagai praktisi internet dan sosmed marketing serta owner Ghofaz Computer.

Diskusi

One thought on “035. Potret Pilu Anak Jalanan

  1. minta data-data tentang pekerja anak dan anak jalanan yang paling up to date ada gak??
    mohon dikirim ke email saya. saya memerlukannya untuk penelitian saya
    kalau bisa minta juga landasan teori dan penelitian yang pernah di lakukan
    trimakasih

    Posted by eko hadi nurcahyo | 14/03/2009, 13:12

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Follow me on Twitter

%d blogger menyukai ini: