//
you're reading...
Buletin Bukamata

043. Kapitalisme Kena Batunya

 Dunia adalah surga orang kafir. Sesuatu yang cepat (dunia) itu adalah cita-citanya, kematian adalah kesengsaraannya, dan neraka adalah tujuannya. (Ali bin Abi Thalib)

Belakangan ini, negeri Paman Sam tengah kebakaran jenggot. Gimana nggak, krisis ekonomi yang biasanya jadi langganan negara berkembang semisal Indonesia, kini mampir di Amerika Serikat. Padahal selama ini, AS bangga banget dengan keberhasilan tatanan ekonomi kapitalismenya. Sampe-sampe dengan arogannya dia memaksa setiap negara di dunia untuk ngikutin jejak ekonominya. Tapi kini, ekonomi kapitalis ambruk juga dihempas badai krisis. Makanya jangan sok. Kena batunya deh!

Gonjang-ganjing kegoncangan pasar modal ramai diberitakan media massa. Bursa saham dunia banyak yang tekor dihantam krisis keuangan global. Bank-bank dan lembaga keuangan di Amerika banyak yang gulung tikar. Kepanikan juga menghantui masyarakat Amerika dan dunia lantaran banyak yang menyimpan uangnya di lantai bursa. Sementara harga saham-saham pada rontok. Otomatis duit mereka juga pada angus. Inikah saat-saat sakaratul maut ekonomi kapitalisme? Hmm….bisa jadi!

Buah Ekonomi Kapitalis

Dunia tersentak ketika Lehman Brothers, sebuah lembaga keuangan terbesar ke-empat di dunia pada hari Rabu 14 September 2008 resmi gulung tikar. Lehman tak berkutik dengan kerugian yang dideritanya sepanjang tahun 2008 yang mencapai $6,6 milyar. Saham Lehman turun 94% menjadi $4,30 sejak hari Senin 8/9/08 dibanding harga sahamnya pada bulan November 2007 yang mencapai $67,73. Dan kini, harga saham Lehman Brothers per 15 September 2008 tinggal 30 sen/lembar (BBCINDONESIA.com).

Bangkrutnya beberapa raksasa finansial AS seperti Lehman Brothers, Merril Lynch, atau American International Group (AIG) makin memperjelas krisis keuangan yang dialami AS saat ini. Walhasil, pemerintahan Bush sendiri sampe harus ngucurin dana sebesar $700 milliar biar pasar modal negerinya yang sekarat bisa bernapas lagi. Padahal, dalam konsep ekonomi kapitalis yang dibanggakan Bush, tabu banget negara campur tangan dalam urusan pasar bebas. Itu berarti, sama saja bush menelan kembali muntah yang udah dikeluarin. Whueks!

Pemerintah Bush bela-belain ‘murtad’ dari prinsip ekonomi kapitalisnya demi menyelamatkan wajah sang adidaya. Soalnya dampak paling nyata dari bangkrutnya Lehman Brothers adalah meningkatnya jumlah pengangguran di AS dan di berbagai belahan dunia. Lantaran jumlah pegawai jaringan perusahaan Lehman Brothers di seluruh dunia mencapai 25.000 orang. Pada bulan Agustus 2008, Lehman sudah ancer-ancer bakal memecat 5 persen dari jumlah pegawainya atau sekitar 1.500 orang.

Bahkan sebelum Lehman, sejumah perusahaan di AS sudah memangkas jumlah karyawannya. Seperti perusahaan penerbitan koran Gannett Co. Inc. yang merumahkan 600 karyawannya dan Ford Motor Co. yang megurangi 300 orang karyawannya. Para analis mempekirakan tingkat pengangguran AS sampai pertengahan tahun 2009 akan meningkat dari 5, 7 persen menjadi 6, 5 persen.

Bukan cuman masalah pengangguran, krisis ekonomi di negeri Paman Sam juga mendongkrak jumlah penduduk yang depresi. Soalnya, kebanyakan mereka hidup dalam cengkeraman hutang kartu kredit atau cicilan rumah yang berbunga ganda. Banyak juga yang menyimpan hartanya di pasar Bursa saham. Giliran pasar bursa kolaps, otomatis harta simpanan mereka ludes. Padahal bunga cicilan hutang mereka kian menjerat. Gimana gak stress coba?

Hasil temuan American Psychological Association, delapan dari sepuluh orang Amerika bilang kondisi ekonomi menjadi sumber utama stress dalam kehidupan mereka. Nggak heran kalo sejak krisis keuangan melanda AS, banyak terjadi kasus usaha bunuh diri di kalangan masyarakat AS.

Karthik Rajaram, seorang manager keuangan berusia 45 tahun menembak mati lima anggota keluarganya, sebelum akhirnya menembak dirinya sendiri akibat krisis keuangan di Wall Street membuatnya kehilangan semua simpanannya yang tersisa. Seminggu sebelum peristiwa ini terjadi, seorang perempuan lansia berusia 90 tahun di Ohio, juga bunuh diri dengan menembak dirinya sendiri setelah terancam diusir dari rumah yang sudah dihuninya selama 38 tahun. (eramuslim.com, 10/10/08)

Keroposnya Bangunan Ekonomi Kapitalis

Krisis keuangan yang menghantam negeri Paman Sam menelanjangi rapuhnya bangunan ekonomi Kapitalis. Ternyata urusan dapur ekonomi AS nggak kalah berantakannya dengan negeri kita lantaran sama-sama dibangun dari ekonomi berbasis hutang. Malah lebih parah. Bayangin aja, total utang AS (pemerintah dan swasta) dari tahun ke tahun semakin meningkat. Pada tahun 1998 jumlahnya ‘baru’ 5,5 triliun dolar AS, dan pada tahun 2002 jumlahnya menjadi 6,2 triliun dolar AS. Jauh lebih banyak dibandingan utang negara kita yang ‘hanya’ 120 miliar dolar AS (1998) dan turun menjadi 98 miliar dolar AS (2002).

Selain utang, bangunan ekonomi kapitalis juga ditopang oleh uang kertas (fiat money) yang nggak kalah keroposnya. Soalnya uang kertas kan diakui lantaran dilegalkan aja ama pemerintah. Dan kita dipaksa oleh negara untuk percaya kalo uang itu bernilai sesuai nominal yang tercantum. Padahal ‘ongkos cetak’nya nggak seberapa tuh.

Misal: untuk bikin uang dengan nilai nominal 1 dolar AS ongkos cetaknya cuman 4 sen dolar AS. Jadi, nilai intrinsik uang 1 dolar sebenarnya cuman 4 sen dolar atau senilai 400 rupiah kalo kurs 1 dolar AS = Rp 10.000. Sekarang kalau mau bikin uang 100 dolar AS, ternyata ongkos cetanya juga gak jauh beda dengan uang 1 dolar AS. Ongkos cetak sama, tapi nilainya berbeda. Ini jelas nggak adil.

Lantaran jaminan uang kertas cuman kepercayaan rakyat dan pengakuan resmi dari negara. Jadinya bisa sering dicetak ulang saking best sellernya. Kalo cetak ulang buku sih bagus. Lha kalo cetak ulang duit, akibatnya nilai uang kertas rawan inflasi dari tahun ke tahun. Bayangin aja, punya uang seribu jaman kakek nenek kita masih muda dulu serasa jadi konglomerat. Kini, duit seceng cuman jadi ongkos parkir doang. Itu lantaran uang kertas mengalami depresiasi (penurunan nilai) karena inflasi permanen. Inilah kelemahan mendasar uang kertas.

Terakhir, kebobrokan ekonomi kapitalis juga diakibatkan oleh sektor keuangan non-real yang jadi andalannya. Uang dijadikan komoditi bisnis di pasar modal, valuta asing, kredit perbankan serta jual-beli surat berharga seperti saham dan obligasi. Akibatnya, sedikit sekali yang diputar dalam kegiatan kegiatan investasi produktif seperti produksi barang dan jasa.

Pertumbuhan ekonomi dunia saat ini dikamuflase oleh transaksi maya di bursa saham dunia. Menurut data, diperkirakan transaksi maya di pasar uang dunia mencapai US $ 750 trilyun setahun, sedangkan kegiatan perdagangan dan jasa (sektor real) hanya US $ 7,5 trilyun saja. Meski uang berkembang biak dengan cepat, tapi ia bagaikan gelembung (bubble) saja. Keliatannya besar, padahal dalemnya kosong. Giliran gelembung itu pecah, pada kebingungan dengan jumlah uang yang banyak tapi kenyataanya nggak ada. Ini yang bikin kembang kempis ekonomi kapitalis.

Keunggulan Ekonomi Islam

Setelah ekonomi kapitalis rontok dimangsa krisis, saatnya kita melirik ekonomi Islam sebagai jalan keluar dari krisis. Karena nggak ada pilihan sistem ekonomi lain yang tangguh dan anti krisis selain sistem ekonomi Islam. Ini bukan sekedar cuap-cuap lho. Biar kamu tamba kenal, berikut beberapa keunggulan ekonomi Islam dibanding ekonomi kapitalis yang jelas-jelas rapuh bin keropos.

Pertama, Islam dengan tegas menolak utang luar negeri terutama yang dikucurkan oleh lembaga keuangan dunia seperti IMF atau Bank Dunia. Soalnya, pinjaman berupa utang selalu disertai dengan syarat jeratan bunga ribawi yang jelas dan tegas diharamkan oleh Islam. Selain itu, pinjaman utang juga dijadikan jalan bagi negara adidaya untuk menghancurkan kedaulatan negara penerima utang. Seperti yang terjadi di negeri kita. Akibatnya, kekayaan alam negeri kita yang berlimpah dengan seenaknya dikuras habis oleh investor asing. Sementara subsidi bagi rakyat malah dicabut.

Kedua, mata uang Islam (dinar dan dirham) berbeda dengan mata uang kertas dalam Kapitalisme. Dinar dan dirham terbukti dalam sejarah sangat kecil sekali inflasinya. Pada masa Rasulullah saw., dengan uang 1 dinar (4,25 gram emas) orang dapat membeli seekor kambing, dan dengan uang 1 dirham (2,975 gram perak) dapat dibeli seekor ayam. Saat ini, pake uang senilai 1 dinar kita masih bisa beli seekor kambing. Dan pake uang senilai 1 dirham kita masih bida dapatin seekor ayam. Karena dibuat dari logam mulia, dengan sendirinya nilai sebenarnya (intrinsik) dari mata uang dinar dan dirham sebanding dengan nominalnya. Makanya dinar dan dirham memperkokoh ekonomi karena tahan inflasi. Sebaliknya, dolar AS justru bakal merapuhkan ekonomi lantaran rentan inflasi. Catet tuh!

Ketiga, dalam ekonomi Islam nggak mengakui keberadaan sektor non-real. Nggak ada tuh yang namanya pasar modal, bursa saham, atau valuta asing. Karena uang bukanlah komoditi bisnis yang boleh diperjualbelikan. Tapi sebagai alat tukar yang menggerakkan roda ekonomi sehingga bisa mendongkrak produktifitas barang dan jasa.

Pren, ketangguhan sistem ekonomi Islamlah yang menjadi rahasia keberhasilan para khalifah di masa lalu memenuhi kebutuhan hidup rakyatnya secara layak. Dan menjadi resep jitu dalam melindungi ekonomi negara dari serangan badai krisis. Nggak kaya sistem ekonomi kapitalis yang jadi biang keladi krisis berulang di setiap negara. Allah swt berfirman:

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS. Al-Mâidah [5]: 40)

Kalo ekonomi kapitalis udah jelas bobrok dan ngerusak, pastinya nggak ada alasan untuk tetep dipake. Udah waktunya ekonomi kapitalis diceburin ke dalam samudera atlantik sembari diiket rantai yang beratnya satu ton biar tenggelam dan nggak nongol lagi ke permukaan. Sebagai gantinya, ekonomi Islam siap mengantarkan penduduk dunia pada kehidupan yang jauh lebih baik dalam bingkai negara Khilafah Islamiyah. Untuk itu, sambil meneriakkan ekonomi Islam sebagai jalan keluar dari krisis, teriakkan juga saatnya khilafah memimpin dunia. Monggo….! [hafidz341@gmail.com]

About Hafidz341

Seorang islamic writepreneur yang suka menulis ttg dunia remaja dan Islam. Saat ini memegang amanah Pimpinan Redaksi Majalah Remaja Islam Drise (http://drise-online.com). Selain penulis, jebolan STIKOM Binaniaga Bogor ini juga dikenal sebagai praktisi internet dan sosmed marketing serta owner Ghofaz Computer.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Follow me on Twitter

%d blogger menyukai ini: