//
you're reading...
Buletin Bukamata

047. Budaya Malu yang Kumau

Ketika manusia sudah tidak memiliki rasa malu lagi maka tidak ada bedanya dengan binatang.
(Al Fudleil bin ‘iyadh)

Gimana perasaan kamu ketika tengah tebar pesona di hadapan temen-temen bak seorang model pasta gigi, tiba-tiba sahabat sebelah ngasih kamu kalo ada potongan kulit cabe merah nempel di gigi depan? Atau saat berjalan dengan dandanan rapih pake setelah kemeja dipadukan jas layaknya calon penganten pria gak taunya seleting celana masih terbuka? Atau pas lagi angkat tangan di kelas untuk jawab soal ternyata temen sebangku yang wajahnya tepat berhadapan dengan ketiak kamu bersi-bersin sebelum pingsan? Hmm… pastinya tengsin berat dong!

Yaps, rasa malu emang udah mendarah daging dalam diri kita. Banyak kondisi yang bisa bikin pipi kita tersipu atau wajah kita memerah seperti kepiting rebus pake saos tomat. Kalo udah malu, rasanya pengen banget kepala ini dimasukkin kantong plastik warna item biar orang-orang lupa. Atau kita hentikan waktu sejenak biar bisa lari sembunyi dan menghilang dari perhatian orang. Karena perasaan malu bisa bikin kita salah tingkah, kikuk, atau canggung. Dan kalo diliat orang, rasanya gimana gitu…..

Gaya Hidup Anti Malu

Dalam dunia remaja, perasaan malu lambat laun mulai banyak dikikis. Terutama dalam berpenampilan. Dulu, remaja bakal ngibrit kalo ketauan saltum alias salah kostum. Warna baju dan celana tabrakan satu sama laen. Atau pake kaos kaki dan sepatu yang model dan warnanya nggak matching karena terburu-buru. Persis kaya pakaian badut. Pastinya tengsin dong. Nah kini, busana model saltum gitu yang banyak digandrungi remaja. Katanya sih lagi tren. Biar harus nanggung malu, yang penting keren dan jadi pusat perhatian. Perkara kagak pantes, itu mah urusan belakangan!

Tren fashion juga menyeret remaja untuk bergaya hidup anti malu sehingga tanpa  risih memamerkan auratnya. Dulu, remaja putri malu kalo –maaf- bayangan buah dadanya tercetak dibalik kaos atau kalo tali branya terlihat di pundak. Kini, banyak diantara remaji yang justru lebih ‘provokatif’ dalam berpenampilan. Pake kaos tang top yang jelas-jelas mencetak ‘aset beharganya’, t-shirt yang memperlihatkan tali bra di kedua pundaknya, atau bawahan yang membiarkan bagian atas celdalnya mengintip keluar. Yang cowok juga sama. Dengan tren celana hipster, nggak sungkan mengobral karet CD-nya kemana-mana. Idih!

Gaya hidup anti malu remaja juga merembet dalam perilaku maksiat yang jadi konsumsi publik. Sering kita ngeliat sepasang remaja yang pacaran kelewat hot di dalam angkot atau mojok di taman kota. Dari sekedar pegangan tangan, grapa-grepe, sampe french kiss. Bahkan banyak juga remaja yang bugil di depan kamera ponsel. Dari sekedar mempertontonkan tubuh polos mereka hingga merekam aksi mesumnya.

Sialnya, sering kali gaya hidup anti malu remaja dikasih label trendi biar banyak diminati. Remaja putri yang berani malu mengumbar auratnya dianggap keren sehingga layak dikasih tempat dalam kontes-kontes kencantikan. Perilaku pacaran remaja yang menjurus ke arah seks bebas pun dianggap wajar sehingga banyak diperlihatkan oleh idola-idola remaja di layar kaca.

Makanya kita mesti hati-hati pren dengan opini gaya hidup anti malu yang banyak membidik remaja. Kalo rasa malu dikikis untuk hal yang positif seperti dalam latihan public speaking alias berbicara di depan umum sih gak papa. Bagus malah. Tapi kalo harus mengikis sisi perasaan malu yang menjaga martabat kita sebagai manusia, nggak banget deh. Bisa-bisa entar disamain ama hewan lagi. Sorry ya pren!

Masih Adakah Budaya Malu?

Di masyarakat barat, Budaya malu udah lama dikarantina. Prinsip kebebasan individu dalam keseharian mereka dengan sendirinya mengeliminasi perasaan malu. Sehingga mereka bebas untuk gonta ganti agama dan keyakinan. Mereka bebas berbuat apa saja, dimana saja, dan kapan saja. Free sex pun bukan lagi perkara tabu. Mereka bebas mengungkapkan opini di media massa. Terang-terangan menunjukkan kebenciannya terhadap satu pihak. Mereka juga bebas mengeruk keuntungan dengan jalan apa saja. Nggak malu meski harus terjun dalam bisnis syahwat.

Dan sepertinya gaya hidup anti malu yang tengah menjangkiti remaja en remaji lahir dari pola hidup masyarakat barat yang individualis. Gencarnya serangan budaya Barat melalui media massa menggoda remaja untuk menanggalkan rasa malu. Stempel anak gaul menuntut mereka untuk lebih bebas berekspresi, bebas berbusana, dan bebas berperilaku. Karena mereka menganggap, perasaan malu itu bikin kita nggak produktif, nggak gaul, dan makan ati. Lho kok makan ati? Iya, coba aja bayangin. Saat kita bertamu, terus ditawarin makan kita bilang nggak usah makasih, udah kenyang. Padahal mah emang lapar, tapi malu untuk menerima tawaran. Makan ati kan? Hehehe….

Padahal, rasa malu itu lho yang cukup efektif menjaga kita dari perilaku yang nggak pantas. Makanya di masyarakat Jepang, mereka sangat menjaga dan mempertahankan tradisi budaya malu secara turun temurun. Dalam kamus hidup penduduk negeri matahari terbit itu, daripada menanggung malu lebih baik bunuh diri. Ini yang dikenal dengan sebutan hara kanan, eh hara kiri. Karena prinsip mereka, kalo bikin malu nggak cukup ditebus dengan permintaan maaf. Tapi kudu dibayar dengan nilai sepadan. Kalo ada pejabat pemerintah yang gagal mengemban tugasnya, lebih baik mundur.

Seperti ditunjukkan oleh menteri pertanian Jepang yang mengundurkan diri pada paruh kedua September 2008 lalu akibat permasalahan beras yang tercemar pestisida dan jamur. Bukan malah nyari kambing hitam atau menimpakan kesalahan pada bawahannya. Tingginya angka bunuh diri pelajar di negeri sakura juga tak bisa dilepaskan dari kuatnya prinsip hara kiri. Tuntutan untuk selalu berhasil membuat mereka hidup di bawah tekanan. Kalo gagal, bunuh diri sering jadi pilihan daripada menanggung malu.

Pren, budaya malu emang patut kita tumbuhkan dalam diri sehingga kita terdorong untuk lebih berhati-hati dalam berbuat. Dengan sendirinya, rasa malu juga akan membedakan kita dengan hewan. Selama rasa malu masih menempel di hati kita, selama itu pula kita masih layak menyandang predikat sebagai manusia. Karena hanya hewan yang nggak risih ‘berbuat mesum’ seenaknya di tempat umum. Hanya hewan yang doyan mengumbar auratnya. Ya iyalah, mana ada ayam betina pake tangtop atau rok mini. Betul?

Karena Malu Kita Mulia

Dalam Islam, rasa malu berhubungan erat dengan keimanan kita. Rasulullah SAW bersabda,

“Malu itu termasuk keimanan dan keimanan membawa ke surga. Sedangkan perbuatan keji termasuk kejelekan dan kejelekan tempatnya di neraka.” (HR Tirmidzi).

Dalam hadits lain dinyatakan:

“iman dan rasa malu merupakan pasangan dalam segala situasi dan kondisi. Bila rasa malu tidak ada maka imanpun akan sirna”(HR Al Hakim)

Karena itu, Islam meminta kita agar menjadikan rasa malu sebagai penghias dalam setiap perbuatan. Hiasan yang membawa kebaikan bagi pemiliknya dan menjadi jalan menuju surga. Kalo kita sudah berani menanggalkan rasa malu sama saja membuka pintu masuk syetan untuk mengajak bermaksiat. Dan akhirnya nggak peduli dengan nasihat dari orang-orang yang menyayangi kita. Imam Ibnul Qoyyim berkata,

“Antara dosa dan sedikitnya rasa malu ada keterkaitan yang sangat erat, maka setiap dari keduanya akan menuntut yang lain. Barang siapa malu kepada Allah ketika berbuat maksiat, Allah pun akan malu menyiksanya pada hari kiamat kelak. Dan barang siapa tidak punya rasa malu kepada Allah ketika berbuat maksiat, maka Allah tidak akan malu menyiksanya kelak.” (Ad?Da’u Wad Dawa’, hal 111).

Untuk menumbuhkan rasa malu dalam diri kita, yang mesti kita tanamkan adalah keyakinan kalo Allah swt selalu melihat apa yang kita perbuat. Baik ketika sendiri di kamar mandi, mojok bareng gebetan, atau rame-rame di diskotik. Allah swt berfirman:

perbuatlah apa yang kamu kehendaki; Sesungguhnya dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Fushilat [41]: 40)

Kalo kita sudah menyadari akan kehadiran Allah swt dan malaikat Raqib dan Atid dalam keseharian, insya Allah kita malu untuk melanggar aturan Allah swt yang udah ngasih banyak kenikmatan selama hidup di dunia. Diriwayatkan dari abdillah ibni Mas’ud r.a. ia berkata, Rasulullah telah bersabda pada suatu hari:

“Milikilah rasa malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya.! Kami (para sahabat) berkata: Wahai rasulullah sesungguhnya kami alhamdulillah telah memiliki rasa malu. Rasulullah bersabda: “Bukan sekedar itu akan tetapi barangsiapa yang malu dari allah dengan sesungguhnya, hendaknya menjaga kepalanya dan apa yang ada di dalamnya, hendaknya ia menjaga perut dan apa yang didalamnya, hendaknya ia mengingat mati dan hari kehancuran. Dan barangsiapa menginginkan akhirat ia akan meninggalkan hiasan dunia . Barangisapa yang mengerjakan itu semua berarti ia telah merasa malu kepada allah dengan sesungguhnya. (Musnad Ahmad)

Kebayang nggak pren, pastinya asyik ya kalo budaya malu juga tersemai dalam diri orang-orang yang duduk di pemerintahan. Sehingga mereka malu kalo kebijakan yang ditelorkannya bakal bikin rakyat sengsara. Malu kalo pake aturan kapitalis sekuler untuk ngurus rakyatnya. Syeikh Muhammad Al Ghazali berkata dalam bukunya Khuluqul Muslim:

“Bila seorang tidak mampunyai rasa malu dan amanah, ia akan menjadi keras dan berjalan mengikuti kehendak hawa nafsunya. Tak peduli apakah yang harus menjadi korban adalah mereka yang tak berdosa. Ia rampas harta dari tangan-tangan mereka yang fakir tanpa belas kasihan, hatinya tidak tersentuh oleh kepedihan orang-orang lemah yang menderita. Matanya gelap, pandangannya ganas. Ia tidak tahu kecuali apa yang memuaskan hawa nafsunya. Bila seorang sampai ke tingkat prilaku seperti ini, maka telah terkelupas darinya fitrah agama dan terkikis habis jiwa ajaran Islam” (Khuluqul Muslim, hal.171).

Nah pren, saatnya bagi kita untuk menghadirkan budaya malu dalam keseharian kita. Sehingga kita pantas malu kalo nggak ikut menyuarakan kebenaran Islam dalam barisan dakwah. Kita juga pantas malu kalo mengkaji Islam hanya untuk konsumsi sendiri. Padahal Allah swt mewajibkan kita untuk mengenal Islam lebih dalam dan menyampaikannya kepada orang lain. Gaya hidup anti malu cuman bikin hidup kita nggak bermutu. Karena malu menjadikan kita mulia dunia dan akherat. Mau? Yuks! [hafidz341@gmail.com]

About Hafidz341

Seorang islamic writepreneur yang suka menulis ttg dunia remaja dan Islam. Saat ini memegang amanah Pimpinan Redaksi Majalah Remaja Islam Drise (http://drise-online.com). Selain penulis, jebolan STIKOM Binaniaga Bogor ini juga dikenal sebagai praktisi internet dan sosmed marketing serta owner Ghofaz Computer.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Follow me on Twitter

%d blogger menyukai ini: