//
you're reading...
Keep on Spirit!

Maksiat, No Way ! (Abdurrahman Al-Jauzi)

Ibrahim bin Adham bercerita bahwa ia pernah didatangi seorang lelaki :

“Wahai Abu Ishak (Ibrahim)! Saya seorang yang banyak berdosa, seorang yang zhalim. Sudikah kiranya tuan mengajari saya hidup zuhud, agar Allah menerangi Jalan hidup saya dan melembutkan hati saya yang kesat ini.”

Ibrahim bin Adham menjawab:

“Kalau kau dapat memegang teguh enam perkara berikut ini, niscaya Engkau akan selamat.” “Apa itu?” Tanyanya.

Pertama, bila kau hendak bermaksiat, janganlah engkau memakan rizqi Allah.” Tukas lelaki itu “Jika seluruh penjuru (bumi ini), baik di Barat maupun di Timur, di darat maupun di laut, di kebun dan gunung-gunung, ada rizqi Allah, maka dari mana aku makan.” “Wahai saudaraku, pantaskah engkau memakan rizqi Allah sementara engkau melanggar peraturanNya?”. “Tidak, demi Allah! Lalu apa yang kedua?”

“Kedua, bila engkau bermaksiat kepada Allah, janganlah tinggal di negeri-Nya.” Lelaki itu menukas, “Tuan Ibrahim, demi Allah, yang kedua ini lebih berat. Bukankah bumi ini milik-Nya?. Kalau demikian halnya, dimana aku harus tinggal?” “Patutkah engkau makan rizqi Allah dan tinggal di bumi-Nya padahal engkau melakukan maksiat kepada-Nya?”. “Tidak tuan guru”

“Ketiga, jika engkau hendak berbuat maksiat, janganlah engkau lupakan Allah yang Maha Melihat dan beranggapan Dia lalai kepadamu”. “Tuan guru, bagaimana mungkin bisa begitu, padahal Allah Maha Mengetahui segala rahasia dan Melihat setiap hati nurani.” “Layakkah engkau menikmati rizqi-Nya, tinggal di bumi-Nya dan  maksiat kepada-Nya sedangkan Allah melihat dan mengawasimu.” “Tentu saja tidak, wahai tuan guru, lalu apa yang keempat?”

“Yang keempat, apabila datang kepadamu malaikat maut hendak mencabut nyawamu, maka katakanlah kepadanya ‘tunggulah dulu, aku akan bertaubat.” Lelaki itu menjawab “Tuan guru itu tak mungkin. Dan ia tidak mungkin mengabulkan permintaanku.” Ibrahim bertutur “Engkau sadar bahwa engkau tidak mungkin menolak keinginannya, maka tentu ia akan datang kepadamu kapan saja, mungkin sebelum kamu bertaubat.” “Benar ucapanmu. Sekarang apa yang kelima?”

“Kelima, bila datang Munkar dan Nakir kepadamu, lawanlah kedua malaikat itu dengan segenap kekuatanmu, bila kau mampu.” “Itu tak mungkin, mustahil, Tuan” Ibrahim bin Adham kemudian melanjutkan.

“Keenam, bila esok engkau berada di sisi Allah SWT dan ia menyuruhmu masuk neraka, katakanlah : ‘Ya Allah, Aku tidak bersedia.” “Wahai Tuan Guru, cukuplah. Cukuplah nasihatmu!” Jawab lelaki itu, dan ia pun pergi.

Pren, nasihat di atas amat pantas ditujukan juga pada kita. Masih beranikah kita bermaksiat kepada ALLAH yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui? Sejatinya nggak ada tempat untuk bermaksiat dalam kehidupan kita sebagai seorang Muslim. Keep on spirit![]

About Hafidz341

Seorang islamic writepreneur yang suka menulis ttg dunia remaja dan Islam. Saat ini memegang amanah Pimpinan Redaksi Majalah Remaja Islam Drise (http://drise-online.com). Selain penulis, jebolan STIKOM Binaniaga Bogor ini juga dikenal sebagai praktisi internet dan sosmed marketing serta owner Ghofaz Computer.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Follow me on Twitter

%d blogger menyukai ini: