“Seorang terpelajar dihukum karena mempunya hati yang mati”. (Hasan al-Basri)

Bak! Buk! Bak! Buk!… Adu jotos itu bukan terjadi di atas ring tinju atau antar pemain sepakbola. Tapi di halaman kampus. Malah terkadang di jalan raya, di depan gerbang sekolah, di pusat perbelanjaan, atau di tengah keramaian kota.

Swiiing! Pletak!… Lemparan batu itu bukan berasal dari para calon jemaah haji yang sedang latihan melempar jumroh. Juga bukan dari para pejuang intifadah di Palestina. Tapi berasal dari tangan-tangan pelajar dan kaum intelektual yang seharusnya memegang alat tulis.

Tes! Tes! Tes! Tetesan darah itu bukan darah mujahid Irak atau Afghanistan. Bukan juga darah seorang Ibu yang berjuang mempertaruhkan hidup demi melahirkan buah hatinya. Tetesan darah itu milik pelajar yang tengah ‘berjuang’ di medan tawuran demi solidaritas, gengsi, atau predikat seorang jagoan yang ditakuti dan akhirnya disegani.

Seraang..! Teriakan lantang itu bukan suara panglima perang kemerdekaan. Tapi berasal dari seorang ‘pentolan’ yang ngasih komando kepada para ‘prajurit putih abu-abu’ untuk memulai ‘perang kolosal’. Siapa yang dapat melukai lawan, dia hebat. Siapa yang dapat menjatuhkan lawan, dia pahlawan. Dan siapa yang kurang persiapan, bersiaplah jadi korban… itulah fenomena tawuran.

Cerita Serial Generasi Tawuran

Dari tahun ke tahun, praktik adu jotos liar kaum terpelajar nggak ada abisnya. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan, tawuran ini sering terjadi. Data di Jakarta misalnya, tahun 1992 tercatat 157 kasus perkelahian pelajar. Tahun 1994 meningkat menjadi 183 kasus dengan menewaskan 10 pelajar. Tahun 1995 terdapat 194 kasus dengan korban meninggal 13 pelajar dan 2 anggota masyarakat lain. Tahun 1998 ada 230 kasus yang menewaskan 15 pelajar serta 2 anggota Polri. Dan tahun berikutnya korban meningkat dengan 37 korban tewas. (Bimmas Polri Metro Jaya).

Pada tahun 1999 hingga Maret 2000 tercatat 26 pelajar tewas, 56 luka berat, dan 109 luka ringan. Dan, pelaku yang terlibat dalam tawuran tersebut sebanyak 1.369 orang,  sekitar 0,08% dari siswa di Jakarta yang berjumlah 1.685.084 (Galamedia, 9/3/00).

Tahun 2008 ini, temen-temen mahasiswa yang sering kedapetan menggelar aksi tawuran. Baik dengan universitas lain maupun antar fakultas. Seperti terjadi pada Februari lalu. Terjadi tawuran di pelataran perkuliahan tepat di depan perpustakaan kampus Unhas Tamalanrea, pada Selasa (26/2). Tawuran ini melibatkan mahasiswa fakultas teknik melawan fakultas ilmu sosial dan ilmu politik, fakultas ilmu ilmu budaya, dan ekonomi. Sedikitnya 11 orang mengalami luka-luka, baik dari pihak mahasiswa, staf maupun petugas pengamanan kampus. (Tempointeraktif.com, 05/03/08)

Dan di bulan November, tercatat tawuran antarmahasiswa Universitas 45 Makassar sudah terjadi tiga kali. Pertama, terjadi pada 3 November lalu yang dipicu ketersinggungan antarmahasiswa. Akibatnya, 2 mahasiswa terluka dan 3 mahasiswa Fakultas Teknik (FT) dipecat. Buntutnya, pada 6 November, temen-temen mahasiswa FT ngegelar unjuk rasa di pintu gerbang kampus sebagai protes atas pemecatan kawan mereka. Pada saat yang sama, beberapa mahasiswa Fakultas Hukum yang akan mengikuti mid test otomatis terhalang oleh mahasiswa teknik yang sedang aksi. Hal ini yang kemudian memicu tawuran terjadi antardua fakultas ini.  (Tempointeraktif.com, 19/11/08)

Pren, episode tawuran pelajar dan mahasiswa persis sinetron televisi. Selalu berulang dan terus diulang dari waktu ke waktu. Inti ceritanya sama: saling pukul, adu jotos, kejar-kejaran, dan unjuk kekuatan dengan senjata rakitan. Yang beda cuman para pemainnya aja gonta-ganti. Mentang-mentang tanpa casting, regenerasi aktivis tawuran di sekolah atau kampus berjalan mulus setiap tahun. Mau sampai kapan?

Dapat Apa dari Tawuran?

Akibat tawuran jelas-jelas merugikan banyak pihak. Mulai dari pihak keluarga yang kehilangan anaknya yang menjadi korban tawuran. Rusaknya fasilitas umum atau sarana sekolah yang sering jadi sasaran amuk masa tawuran. Hingga terganggunya proses belajar di sekolah atau kampus. Kita jadi penasaran. Apa sih yang memancing para aktivis tawuran untuk menekuni ‘profesinya’?

Pertama, solidaritas. Rasa setia kawan yang tinggi biasanya paling sering memicu tawuran. Nggak bisa terima kalo temennya ‘dikerjain’ ama pelajar lain. Baru denger kabar burungnya aja, emosi udah naik ke ubun-ubun. Langsung dibentuk panitia kerja yang mengumpulkan konco-konco aktivis tawuran. Lalu mempersiapkan berbagai amunisi. Dan akhirnya menentukan waktu penyerangan. Persis kaya mau perang beneran.

Kedua, prestise. Ajang tawuran udah menjadi media unjuk kekuatan untuk dapet pengakuan dari lawan. Kalo ada yang berani ngejelek-jelekin nama sekolah atau mencemari nama baik komunitas, ditantang duel fisik bareng-bareng. Sebagai pembuktian, siapa yang berhasil membuat lawan kocar-kacir, dialah pemenangnya dan lawan tanding mesti tunduk dihadapannya.

Ketiga, warisan turun-temurun. Bagi para pelajar junior biasanya dapet warisan dari kakak kelasnya berupa informasi seputar dunia tawuran. Siapa musuh bebuyutannya, dimana tempat-tempat nongkrong lawan, sampe tip en trik kalo ada serangan tiba-tiba dari lawan. Juniornya selalu dipanas-panasin oleh kisah perseteruaannya di masa lalu dengan pihak lawan. Pokoknya, hubungan dengan musuh bebuyutan mereka itu cuman satu yang dibolehkan, perang!

Keempat, lingkungan. Selama ini, kekerasan bukan perilaku aneh di lingkungan kita. Saban hari, kita dicekokin informasi seputar tindak kekerasan. Mulai dari bentrok fisik antara warga miskin yang terkena gusuran dengan satpol PP, kericuhan antar mahasiswa dan aparat saat berunjuk rasa, hingga  adu jotos pun sering ditunjukkan oleh anggota dewan legislatif pusat maupun daerah. Belum lagi tontonan bullying yang dikemas dalam konflik sinetron remaja, makin menanamkan dalam benak pemirsa remaja akan kekerasan sebagai cara untuk memecahkan persoalan. Walhasil, emosi kawula muda gampang tersulut dan otaknya jarang dipake buat pecahin masalah. Bawaannya pengen ribut mulu!

Pren, dari tawuran cuman satu yang kita dapatkan, korban. Yaps, baik korban secara fisik maupun perasaan. Kalo kita terluka atau malah meregang nyawa, hanya kesedihan keluarga yang kita peroleh. Predikat jagoan atau gelar pahlawan dari komunitas nggak bisa mengobati kesedihan keluarga. Perasaan bersalah karena telah melukai/membunuh pun akan terus menghantui. Hidup kita jadi nggak nyaman. Selalu dibayangi oleh perasaan takut kalo-kalo ada musuh yang membalas. Kita sering berprasangka buruk ama orang lain. Paranoid tuh!

Putuskan Budaya Tawuran!

Pren, udah banyak kesulitan yang kita hadapi dalam hidup. Jangan ditambah lagi dengan turut melestarikan budaya tawuran. Kalo tawuran terbukti mampu menyelesaikan masalah, kamu boleh tuh wariskan sama anak cucu. Kenyataannya, tawuran malah membuat masalah tambah runyam dan merugikan banyak pihak. Apalagi, masa depan kita juga bisa berantakan karena budaya tawuran ini. Jadi, sangat beralasan kalo kita segera putuskan budaya tawuran!

Nggak mudah untuk memutuskan mata rantai budaya tawuran. Tapi bukan berarti mustahil. Yang diperlukan hanya kerjasama semua pihak untuk memangkas pemicu pelajar terjun ke dunia tawuran. Baik pemerintah, masyarakat, keluarga, sekolah, dan tentunya pelajar itu sendiri.

Pemerintah berperan untuk meminimalkan informasi tentang kekerasan yang mendominasi pemberitaan media massa. Akan lebih baik jika media masssa pun tidak berlepas tangan dengan berita kekerasan yang jadi andalan mereka. Tetap kedepankan faktor edukasi agar masyarakat paham kalo cara kekerasan bukan satu-satunya jalan memecahkan persoalan. Peran pihak sekolah/kampus tidak kalah pentingnya. Pola pendidikan yang tak sekedar transfer ilmu tapi juga transform (membentuk) kepribadian, akan membantu pelajar untuk pake otaknya dibanding ototnya dalam menghadapi masalah.

Dan ujung tombak yang sangat diharapkan bisa memutus rantai budaya tawuran, adalah kita sendiri selaku pelajar. Untuk itu, beberapa hal bisa kita lakukan:

Pertama, jangan umbar emosi kita. Meskipun kita jago bela diri atau badan kita macho, bukan berarti kudu selalu mengumbar emosi. Justru kalo kita mudah mengumbar emosi, tandanya kita kalah oleh hawa nafsu sebelum bertanding layaknya seorang pecundang. Kalo kita bukan seorang pecundang, hadapi setiap persoalan dengan kepala dan hati dingin. Rasul saw bersabda:

“Siapa yang menahan marah, padahal ia dapat memuaskan pelampiasannya, maka kelak pada hari kiamat, Allah akan memanggilnya di depan sekalian makhluk. Kemudian, disuruhnya memilih bidadari sekehendaknya.” (HR. Abu Dawud – At-Tirmidzi)

Kedua, tabayyun alias cek en ricek berita. Berita burung tak selamanya gosip, berita dari seorang kawan terpercaya pun tak selamanya dijamin benar. Nggak ada ruginya kita biasakan untuk ngecek berita yang sampe ke kita. Terutama berita yang bisa memancing adrenalin. Biar persoalannya jelas dan nyari solusinya juga lebih pas. Allah swt berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS. Al-Hujurat [49]: 6)

Ketiga, maafkan dan lupakan. Kalo ada temen kita dari luar jurusan, fakultas, atau lain sekolah dan kampus, yang berbuat salah sebaiknya dimaafkan dan dilupakan. Nggak usah diungkit-ungkit apalagi diceritain ama temen sambil dikasih bumbu panas pemancing emosi. Asli, nggak bagus kok punya dendam kesumat. Selain nambah beban dan pikiran, dendam kesumat cuman jadi bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak dan menghancurkan diri kita. Menjadi seorang pemaaf nggak bikin reputasi kita hancur. Justru kita menjadi lebih manusiawi dalam menghadapi persoalan. Karena setiap orang tak luput dari kesalahan. Dan kesalahaan terbesar adalah ketika kita tak mau memaafkan kesalahan orang lain. Catet tuh!

Pren, ayo kita ingatkan diri kita dan teman-teman kita untuk berhenti dari rutinitas tawuran. Tawuran nggak bikin diri kita mulia dihadapan manusia, apalagi dihadapan Allah swt. Yang ada, justru diri kita jadi terhina karena dikalahkan oleh hawa nafsu. Tawuran juga nggak bikin persoalan tuntas. Yang ada, tambah runyam. So, daripada sibuk mikirin aksi balas dendam lebih baik salurkan gelora jiwa muda kita ke arah positif. Seperti dengan aktif mengenal Islam lebih dalam. Selain bisa membentengi diri dari godaan hawa nafsu, dengan mengaji juga membuat peran kita sebagai generasi harapan umat lebih maksimal. Ayo, tinggalkan tawuran dan aktif di pengajian! [hafidz341@gmail.com]