//
you're reading...
Uneg Kwadrat

056. Sekolah Barbar? Iih..Takuut!

image “Murah senyum itu bukti kasih, dan sabar itu kuburan aib”. (Ali bin Abi Thalib)

Anastasia. Ini bukan nama tokoh kartun Walt Disney lho. Tapi geng pelajar cewek yang beranggotakan siswi SMA N 1 Kupang. Satu lagi bernama Arroyo. Nggak ada hubungan kekerabatan dengan Presiden Filipina. Yang pasti, Arroyo yang satu ini adalah geng pelajar cewek yang beranggotakan siswi SMA Negeri 5 dan SMK Negeri 1 Kupang. Dua geng ini belakangan popularitasnya cukup melejit. Setelah aksi adu jotos mereka yang terekam kamera ponsel gencar mengisi pemberitaan di layar kaca.

Sebelum kasus geng Anastasia dan Aroyo, aksi kekerasan geng Nero dari kota Pati Jawa Tengah udah duluan populer. Terus diikuti video-video lain yang nggak kalah ngerinya. Bayangin aja, video amatir dari ponsel itu dengan vulgar menampilkan aksi baku hantam antar pelajar. Ada yang satu lawan satu, ada juga yang keroyokan. Malah dalam duel geng Anastasia dan Arroyo, temen-temennya yang lain asyik aja nonton. Persis kaya di arena sabung ayam. Parah tenan iki!

Genk Pelajar dan Premanisme

Maraknya aksi duel antar pelajar yang terekam media melengkapi potret premanisme di sekolah yang makin mengkhawatirkan. Sekretaris Jenderal Komisi Nasional Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait menyatakan kekerasan terhadap anak di dunia pendidikan cukup banyak terjadi. Dari 1.926 kasus yang dilaporkan sepanjang 2008, 28 persennya terjadi di lingkungan sekolah. Guru dan sesama siswa menjadi pelaku utama terjadinya kekerasan di sekolah. "Sebanyak 48 persen kekerasan dilakukan oleh guru, 42 persen oleh teman sekolah dan sisanya dari unsur sekolah lain seperti penjaga sekolah," kata Arist. (Tempointeraktif.com, 14/12/08)

Premanisme pelajar di sekolah banyak yang melibatkan oknum anggota geng dikalangan siswa-siswi yang bertingkah demi gengsi. Seperti geng Nero. Mereka nggak suka kalo ada anak cewek lain yang menyaingi dan melebihi apa yang dimilikinya. Terutama soal pakaian atau gaya rambut. Kalo ada cewek pelajar yang dianggap tengil, mereka ciduk terus dianiaya bareng-bareng. Karena itulah mereka menamakan gengnya Nero alias neko-neko dikeroyok (macam-macam dikeroyok). Huh, beraninya keroyokan!

Premanisme pelajar juga tumbuh subur saat fanatisme angkatan tertanam kuat di sekolah. Hubungan adik kelas dan kakak kelas dibatasi sekat senioritas. Yunior kudu sopan dengan senior. Kalo ada yunior tingkahnya dianggap ngelunjak, urusannya bisa bogem mentah. Nggak cuman saat MOS (masa orientasi siswa) aja, tapi juga selama mereka sekolah. Apa jadinya kalo suasana sekolah serasa di sarang penyamun. Pastinya nggak nyaman dong. Seperti kejadian di SMA 34 Jakarta. Geng senior (kakak kelas) yang berjuluk Gazper itu tega menganiaya yuniornya secara psikis maupun fisik kalo nggak mau gabung dalam komunitas mereka. Sampe ada korban yang patah tulang dan nggak mau sekolah lagi karena sering jadi objek penganiayaan.

Boleh aja pelajar bikin geng untuk memenuhi kebutuhan sosialnya. Yang jadi masalah, ketika kehadiran geng mengarah pada tindakan bullying biar diakui, disegani, sampe ditakuti. Tindakan bullying itu berupa pemaksaan atau usaha menyakiti secara fisik maupun psikologis terhadap seseorang atau kelompok yang lebih ‘lemah’ oleh seseorang atau sekelompok orang yang mempersepsikan dirinya lebih ‘kuat’. Jadi kaya hukum rimba. Siapa yang kuat, dia yang berkuasa. Secara nggak sadar, eksistensi geng bisa menggiring pelajar untuk berperilaku barbar. Kalo ada masalah, diberesin pake otot dan emosi. Ih syereem!

Pren, maraknya premanisme pelajar nunjukkin ama kita kalo ini bukan masalah biasa. Bukan juga cuman gara-gara oknum pelajar yang kurang ajar. Tapi produk dari lingkungan sekitar remaja yang kental dengan kekerasan. Lihat aja, aksi bullying kerap kali dipertontonkan sinetron remaja sebagai bumbu konflik. Dari mulai pelecehan harga diri sampe penganiayaan fisik. Pada akhirnya tontonan itu menjadi tuntunan untuk dipraktekkan dalam keseharian remaja. Begitu juga dengan kekerasan yang disajikan oknum guru di depan anak didiknya. Niatnya ngasih hukuman, yang terjadi malah kampanye kekerasan sebagai solusi untuk setiap masalah. Berabe kan?

Saat Guru Hilang Kesabaran

Seorang guru adalah urat nadi dunia pendidikan. Selain ujung tombak dalam melahirkan generasi intelek, guru juga menjadi figur tauladan anak didiknya. Namun apa jadinya kalo ternyata ada oknum guru yang mungkin khilaf terus melakukan kekerasan terhadap siswa. Sekretaris Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Hadi Supeno menilai kekerasan yang dilakukan guru terhadap anak-anak cenderung mengalami peningkatan. Pada 2007 tercatat 555 kasus kekerasan, 11,8 persen diantaranya dilakukan guru. Sedangkan pada 2008 sebanyak 86 kasus, 39 persen pelakunya guru. (Vivanews.com, 24/10/08)

Seperti terekam dalam video ponsel milik seorang siswa SMPN 1 Mojoagung, Jombang, 20 Desember 2008 lalu. Seorang guru kesenian menampar siswanya di depan kelas di hadapan temen-temannya. Sementara di Jember, seorang oknum kepala sekolah memukuli 5 muridnya hingga mengalami luka agak serius. Dan di Tapanuli, seorang guru Matematika menghajar muridnya hingga babak belur. Kok tega sih pak?

Pastinya bukan tanpa alasan seorang guru bertindak kasar ama muridnya. Biasanya tindakan kasar guru dipicu oleh kenakalan siswa. Jadi ceritanya mau ngasih hukuman biar muridnya jera. Tapi yang terjadi malah kebablasan. Akhirnya timbul korban. Beberapa kenakalan siswa yang sering memancing emosi guru bisa dikategorikan menjadi:

1) Attention getting behaviours (tingkah laku untuk menarik perhatian orang lain). Biasanya murid suka bertingkah caper alias cari perhatian yang over akting biar dikenal oleh temen-temennya. Suka nyeletuk, bikin lelucon, atau asyik ngobrol ama teman sebangku ketika guru lagi ngasih pelajaran. Ini yang sering bikin guru jengkel.; 2) Power seeking behaviours (tingkah laku untuk menguasai orang lain). Biasanya siswa sok jagoan dengan berusaha mendominasi temen-temennya. Tingkahnya suka ngelawan, emosional, dan parahnya suka cuek bebek dengan aturan sekolah. Dalam kondisi ini, guru merasa dikalahkan atau terancam; 3) Revenge seeking behaviours (perilaku untuk membalas dendam). Kondisi ini terjadi ketika emosi guru udah sampe di ubun-ubun. Guru ngerasa tersinggung atau sakit hati dengan tingkah polah anak didiknya yang udah kelewatan. Akhirnya dendam dan kebablasan.

Pren, senakal apapun perilaku murid nggak bisa jadi alasan bagi guru untuk bertindak kasar. Selain bisa ikut melestarikan budaya kekerasan di sekolah, sang guru juga bisa masuk bui lho. Lantaran dianggap melanggar UU Perlindungan Anak No. 23 Tahun 2002 Pasal 80 dengan hukuman minimal tiga tahun dan maksimal 12 tahun. Aduuh..jangan sampe deh. Makanya sebagai guru, kesabaran tetep kudu dijaga dalam mengajar. Udah nggak jaman ngasih hukuman cuman mikirin biar murid kapok dan takut. Bagusnya, pikirkan juga aspek edukasinya demi perbaikan perilaku siswa ke depannya. Betul?

Stop Premanisme di Sekolah

Pren, bukan perkara mudah menghentikan budaya premanisme di sekolah. Masalahnya bukan cuman oknum murid atau guru aja yang bikin gerah. Tapi juga faktor diluar pendidikan yang ikut memicu lahirnya budaya premanisme di sekolah juga mesti distop. Itu berarti, semua pihak kudu ikut ambil bagian demi menjaga sehatnya pola pendidikan di negeri kita.

Pemerintah berperan menghapuskan tayangan berbaru kekerasan yang merajalela di layar kaca. Jangan tunggu Komisi Penyiaran Indonesia teriak-teriak dulu. Soalnya itu udah tugas negara untuk menjaga mental rakyatnya dari informasi media massa yang merusak. Sekolah bertanggung jawab untuk membentengi anak didik dari perilaku barbar. Caranya bisa dengan mengadakan pengajian untuk memperkuat akidah atau mengeluarkan murid yang menjadi biang keladi premanisme. Dan tak lupa, tenaga pengajar juga diberikan pemahaman untuk tidak berperilaku barbar.

Semua upaya di atas, bakal ngasih hasil yang maksimal kalo negara mau pake syariah Islam untuk ngatur rakyatnya. Islam punya resep jitu untuk mencegah lahirnya premanisme dalam dunia pendidikan. Diantaranya:

Pertama, nggak ada senioritas dalam belajar. Setiap orang yang menuntut ilmu punya hak dan kewajiban yang sama dari sekolah. Mentang-mentang senior, bukan berarti punya hak istimewa dan bisa semena-mena terhadap yuniornya. Untuk hubungan antara yang senior dan junior sendiri, Rasul udah ngingetin kita dalam sabdanya:

“Barangsiapa yang tidak menyayangi anak-anak muda dan tidak mengetahui hak (dalam riwayat yang lain: tidak menghormati) orang-orang dewasa, maka ia bukanlah golongan kami” (HR Abu Dawud)

Kedua, anti bullying. Dalam Islam, nggak ada celah untuk bertindak bullying alias penganiayaan secara fisik maupun mental terhadap sesama muslim. Rasul saw bersabda:

Janganlah saling mendengki, saling menipu, saling membenci, saling memutuskan hubungan dan janganlah sebagian kamu menyerobot transaksi sebagian yang lain, jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim itu saudara muslim yang lain, tidak boleh menzhaliminya, membiarkannya (tidak memberikan pertolongan kepadanya), mendustainya dan tidak boleh menghinakannya. Taqwa itu berada di sini, beliau menunjuk dadanya tiga kali. Cukuplah seorang (muslim) dianggap (melakukan) kejahatan karena melecehkan saudara muslimnya. Setiap muslim atas muslim lain haram darahnya, hartanya dan kehormatannya”. (HR. Muslim dan Ibnu Majah)

Ketiga, penghargaan terhadap guru. Secara ekonomi, negara menjamin kesejahteraan hidup guru dan keluarganya secara layak. Sehingga guru bisa fokus untuk mentransfer ilmu dan membentuk (transform) pola pikir dan pola sikap Islami pada anak didik. Guru juga nggak dituntut menjadikan pelajar pintar dan berprestasi. Karena itu tanggung jawab masing-masing pelajar yang dimanjakan negara dengan terpenuhinya segala kebutuhan dalam menuntut ilmu. Mulai dari buku, asrama, perpustakaan, alat tulis, hingga biaya hidup. Guru hanya membimbing dan mengarahkan pelajar untuk meraih tujuannya.

Pren, kita semua berharap premanisme dikikis habis dalam dunia pendidikan kita. Jangan sampe lahir sekolah-sekolah barbar yang menjadikan kekerasan sebagai tradisi dalam menyelesaikan persoalan. Untuk itu, kita mesti nyadar kalo premanisme di lingkungan pendidikan adalah produk aturan kapitalis sekuler yang dipelihara negara. Mau nggak mau, aturan kapitalis sekuler mesti hengkang dari bumi pertiwi agar sistem pendidikan bisa kita benahi dengan syariah Islam. Disinilah tugas kita bersama untuk membongkar kebobrokan sistem kapitalisme sekuler dan mengkampanyekan syariah Islam sebagai solusi untuk setiap permasalahan umat. Tunggu apa lagi. Yuk![hafidz341@gmail.com]

Dapat pengasilan dari ngenet. Cuman klik, dapet duit deh. Mau?

EARN WITH INDOPTC.COM info lengkapya DISINI NIH

About Hafidz341

Seorang islamic writepreneur yang suka menulis ttg dunia remaja dan Islam. Saat ini memegang amanah Pimpinan Redaksi Majalah Remaja Islam Drise (http://drise-online.com). Selain penulis, jebolan STIKOM Binaniaga Bogor ini juga dikenal sebagai praktisi internet dan sosmed marketing serta owner Ghofaz Computer.

Diskusi

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: 056. Sekolah Barbar? Iih..Takuut! - 01/03/2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Follow me on Twitter

%d blogger menyukai ini: