//
you're reading...
Buletin Bukamata

057. Khilafah Berdiri Lagi, Ngarep!

image “Ujub itu ialah orang yang diundang lalu ia melambat-lambatkannya” (Ali bin Abi Thalib)

Rakyat udah jenuh dengan berondongan masalah yang bikin hidup nelangsa. Pemerintah kita yang sekuler bukannya nggak peduli dengan nasib rakyatnya yang senen kemis. Tapi kayanya negara kehabisan cara buat nyari jalan keluar. Belon kelar satu masalah, eh temen-temennya udah nggak sabar pengen ikut ngerecokin. Menjelang pemilu, para politisi berlomba-lomba ngegombalin rakyat kalo mereka punya cara jitu buat beresin masalah kemiskinan, pendidikan, atau sembako. Padahal tiap pemilu, menu yang sama juga diobral di depan rakyat. Hasilnya, cuman ganti pemimpin dan ganti kebijakan. Masalahnya? Teuteup!

Bukannya ikut ngegombal kalo Islam punya resep mujarab untuk beresin urusan umat. Syariah Islam siap menjawab masalah yang disodorkan sistem kapitalis sekuler. Karena Islam juga punya aturan politik, sosial, pendidikan, ekonomi, budaya, pertahanan, atau keamanan yang nggak kalah komplitnya dengan aturan shalat, zakat, puasa, atau ibadah haji. Semuanya bisa diterapkan dimana saja dan kapan saja asalkan negaranya, Khilafah Islamiyah. Eits, Khilafah Islamiyah, apaan tuh?!

Runtuhnya Khilafah Terakhir

Khilafah adalah bentuk sistem pemerintahan Islam. Kepala negaranya dikenal dengan sebutan khalifah. Khilafah atau khalifah berasal dari kata dasar ’khulafa’ yang artinya pengganti. Maksudnya, pengganti Rasulullah saw dalam memimpin urusan umat. Seperti yang dilakukan Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib yang silih berganti memimpin umat pasca Rasul saw wafat. Kepemimpinan empat shahabat ini yang populer dengan julukan Khulafaur Rasyidin.

Estafet kepemimpinan umat Islam terus bergulir sepanjang tahun selama kurang lebih 14 abad. Setelah masa Khulafaur Rasyidin berakhir, dilanjutkan para khalifah di masa dinasti Umayyah mulai dari Muawiyyah bin Abi Sufyan hingga Marwan bin Muhammad. Kemudian diteruskan para khalifah di masa dinasti Abbasiyah mulai dari Abul Abbas as Safah hingga Al Mutawakkil Alallah. Dan berakhir di masa dinasti Utsmaniyah dari Sultan Salim I hingga Sultan Abdul Madjid Kan II.

Sedih deh kali kita inget saat-saat terakhir menjelang keruntuhan Khilafah. Awalnya, Inggris berhasil menduduki Istambul, Turki pada perang Dunia I (1914 M). Lalu seorang agen Inggris keturunan Yahudi Dunamah dari Salonika, Mustafa Kemal Pasha, ditugaskan untuk menjalankan agenda Inggris di Turki sebagaimana tercantum dalam “pernyataan Curzon”, yaitu: penghapusan Khilafah secara total, pengusiran khalifah sampai keluar batas-batas negara, penyitaan kekayaan khalifah, dan pernyataan sekularisasi negara. Pernyatan ini merupakan syarat yang harus dipenuhi Turki untuk mendapatkan kemerdekaannya dari Inggris.

Mayoritas anggota Majelis Nasional Turki yang berpusat di Ankara dengan tegas menentang apa yang tercantum dalam pernyataan Curzon. Tapi mereka diancam Kemal akan dibunuh dan dihukum gantung. Akhirnya Majelis Raya Nasional menggelar sidang pada tanggal 01 Maret 1924 selama tiga hari untuk mensikapi adanya dualisme pemerintahan di Ankara dan Istambul. Terjadi perdebatan alot dan sengit karena Mustafa Kemal sebagai pimpinan majelis terang-terangan hendak menghapus kekhilafahan Islam yang dipimpin Khalifah Abdul Majid II di Istambul.

Dan tepat pada pagi hari tanggal 03 Maret 1924, Majelis Nasional mengumumkan telah menyetujui penghapusan khilafah dan pemisahan agama dari urusan-urusan negara. Malamnya, Khalifah Abdul Majid II diusir dari rumah kediamannya atas perintah Mustafa Kemal. Khalifah dipaksa masuk mobil dan dibawa melintasi perbatasan negara menuju Swiss. Kemudian diturunkan dengan dibekali satu kopor berisi beberapa potong pakaian dan sejumlah uang.

Dengan demikian, Mustafa Kemal telah berhasil memenuhi persyaratan Curzon, Menteri Luar Negeri Inggris saat itu, untuk mendapatkan pengakuan atas kemerdekaan Turki. Di Gedung Parlemen Inggris, Curzon menyatakan, “…Turki telah dihancurkan dan tidak akan pernah bangkit lagi, karena kita telah menghancurkan kekuatan spiritual mereka, yaitu Khilafah dan Islam…”

Pren, pasca runtuhnya Khilafah umat Islam bagai anak ayam kehilangan induknya. Mencar-mencar gak karuan. Tak ada lagi yang melindungi dan menjaga Islam dan kaum Muslimin. Akibatnya, negeri-negeri Islam terpecah belah. Kaum Muslimin dizhalimi. Rasulullah saw dihina. Ajaran Islam diinjak-injak. Masihkah kita cuek dengan kondisi ini? Jangan dong!

Tiada Kemuliaan Tanpa Khilafah

Rahasia kejayaan Islam selama berabad-abad terletak di pundak seorang Khalifah yang menerapkan syariah Islam secara total. Musuh-musuh Islam boleh aja berkoar-koar kalo khilafah Islam itu kuno, bar-bar, diskriminatif, melanggar HAM atau cap negatif lain yang menyudutkan. Tapi kenyataannya, itu semua omong kosong. Justru yang terjadi, Khilafah konsisten menjalankan fungsinya untuk memelihara dan menjaga kehidupan manusia. Diantaranya:

Pertama, melaksanakan penertiban (law on order). Islam punya aturan lengkap dan tokcer untuk menjaga ketertiban masyarakat. Mulai dari hukuman qishas, jinayat, ta’zir, dan mukholafat. Semuanya diterapkan tanpa kecuali alias nggak pandang bulu. Suatu saat diajukan seorang pencuri wanita kepada Rasulullah saw untuk diadili dan dijatuhi hukuman had/potong tangan. Usamah bin Zaid memohon keringanan hukuman kepada Rasulullah. Beliau berkata:

”Apakah kamu mengajukan keringanan terhadap salah satu hukuman dari Allah? Demi Allah, kalau saja Fatimah binti Muhammad mencuri, pasti akan ku potong tangannya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Kedua, mengusahakan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Kehidupan layak bagi rakyat, jadi harga mati yang mesti diperjuangkan oleh seorang khalifah. Prinsipnya, khalifah yang pertama kali merasakan kelaparan sebelum rakyatnya dan paling buncit merasakan kenyang setelah rakyatnya. Biar kas negara tetep terisi, Islam nggak akan pernah ngasih celah bagi pemilik modal untuk menguasai minyak bumi, gas bumi, atau emas yang jadi milik umum. Semua kekayaan alam itu dikelola negara dan hasilnya untuk kepentingan rakyat.

Ketiga, menegakkan keadilan. Islam nggak pernah memaksa tiap orang untuk masuk Islam. Itu artinya, siapa saja boleh tinggal menetap di dalam negara Khilafah meskipun ia non muslim. Asalkan dia mau ngikutin aturan Islam yang diterapkan negara diluar ritual ibadahnya. Dan yang pasti, nggak ada diskriminasi terhadap penganut agama lain (kafir dzimmi). Harta dan darah mereka terjaga sama seperti kaum Muslim. Rasulullah saw. bersabda:

“Siapa saja yang membunuh kafir mu’ahad (yang mengadakan perjanjian dengan Daulah Islamiyah, red.), dia tidak akan mencium wangi surga, padahal sesungguhnya wangi surga itu sudah bisa tercium dari jarak perjalanan 40 tahun. (HR al-Bukhari).

Keempat, menyebarkan Islam. Khilafah jadi ujung tombak penyebaran Islam ke seluruh dunia. Bukan untuk sok jago atau nguras kekayaan alam negeri orang, tapi semata-mata untuk mengajak dengan damai setiap manusia masuk Islam atau hidup dalam aturan Islam. Allah swt berfirman:

Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada Mengetahui. (QS. Saba’ [34]: 28)

Pren, kalo Khilafah Islam berdiri lagi, pastinya kehidupan masyarakat akan jauh lebih baik dan penuh berkah. Ngarep?

Nggak Sekedar Ngarep

Pren, kerinduan kita akan hadirnya kembali Kekhilafahan dijamin nggak akan bertepuk sebelah tangan. Apalagi sekedar angan-angan yang mengisi dunia khayal kita tentang negeri impian. Sebab Allah swt ngasih kabar baik dalam firman-Nya:

Dan Allah Telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana dia Telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang Telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik. (QS. An-Nûr [24]: 55)

Lalu Rasulullah saw menegaskan dalam sabdanya:

“Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada.  Lalu  Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya.  Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada.  Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya.  Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) yang zalim; ia juga ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada.  Lalu  Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya.  Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) diktator yang menyengsarakan; ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada.  Selanjutnya  akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” Beliau kemudian diam. (HR Ahmad dan al-Bazar).

Dua dalil di atas cukup bagi kita untuk menyakinkan kalo Kekhilafahan pasti datang lagi. Orang bule bilang, just a matter of time. Ini bukan ramalan lho. Tapi janji Allah swt dan rasul-Nya yang pasti terjadi walaupun musuh-musuh Islam nggak ridho. Allah swt menegaskan dalam firman-Nya:

Dan Bersabarlah kamu, Sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu. (QS. ar-Rûm [30]: 60)

Pren, Rasulullah saw pernah berpesan:

“Bawalah kabar gembira kepada umat ini, bahwa umat ini akan memiliki kekuasaan, kebanggaan, agama, kemenangan, dan kekuasaan di muka bumi. Jadi, barang siapa yang lebih menginginkan pahala di dunia ketimbang di akhirat, ia tidak akan mendapatkan apa pun di akhirat kelak.” (HR. Ahmad).

Kini saatnya bagi kita untuk menyambut kabar gembira itu dengan ikut aktif dalam barisan dakwah Islam. Mengenal Islam lebih dalam, melek kondisi umat Islam di seluruh dunia, dan getol mengkampanyekan khilafah sebagai jalan keluar dari permasalahan umat. Mau kan? Yuk! [hafidz341@gmail.com]

About Hafidz341

Seorang islamic writepreneur yang suka menulis ttg dunia remaja dan Islam. Saat ini memegang amanah Pimpinan Redaksi Majalah Remaja Islam Drise (http://drise-online.com). Selain penulis, jebolan STIKOM Binaniaga Bogor ini juga dikenal sebagai praktisi internet dan sosmed marketing serta owner Ghofaz Computer.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Follow me on Twitter

%d blogger menyukai ini: