//
you're reading...
Teladan

Ibnu Taimiyah: ‘Menyulap’ Penjara jadi Ponpes

image Nama besarnya nggak asing lagi di telinga kita. Terutama bagi mereka yang doyan ngemil bacaan buku-buku Islam. Sikapnya yang ngotot dalam memegang ajaran Islam, sering membawanya menginap di hotel prode. Dialah Taqiyyuddin Abu Abbas Ibnu Taimiyah, seorang pemikir yang dikenal dengan pandangan-pandangan salafinya.

Ahli fikih yang dijuluki Syeikhul Islam ini dilahirkan pada Senin, 10 Rabiul Awwal 661 H (22 Januari 1263) di Harran, Damaskus. Sedari kecil, otak Ibnu Taimiyah dikenal encer. Pada usia sepuluh tahun, masanya anak-anak ketawa ngakak baca komik jepang, Ibnu Taimiyah lebih enjoy melototin buku-buku utama tentang Hadis. Seperti kitab Musnad Ahmad, Kutubus Sittah, Mu’jam Thabari. Nggak ketinggalan, dia juga hobi melalap ilmu hitung, sastra Arab, menghafal Alquran juga ilmu kalam, filsafat, dan fikih.

Imam Adz-Dzahabi rahimahullah (wafat pada 748 H) bilang, "Dia (Ibnu Taimiyah) adalah lambang kecerdasan dan kecepatan memahami, paling hebat pemahamannya terhadap Al-Kitab was-Sunnah serta perbedaan pendapat, dan lautan dalil naqli.

Bagi banyak orang, penjara boleh jadi dianggap ‘neraka’ dunia. Namun bagi Ibnu Taimiyah yang udah empat kali menjalani hidup di balik jeruji besi, penjara adalah rahmat yang banyak ngasih kebaikan untuk dirinya dan orang lain. Selain mendongkrak produktifitasnya dalam menulis, banyak narapidana yang insyaf lalu menjadi muridnya selama mejalani masa hukuman. Kepada mereka, Taimiyah antara lain mengajarkan agar mereka tetap iltizam (berpegang) kepada syariat Allah, selalu beristighfar, tasbih, berdoa dan melakukan amalan-amalan shalih.

Ibnu Taimiyah berhasil menyulap penjara menjadi ‘pondok pesantren’ yang dipadati kegiatan keagamaan. Malahan banyak penghuni penjara yang udah abis masa hukumannya pengen tetep tinggal di penjara bersama beliau. Endingnya, banyak yang pengen masuk penjara agar bisa menimba ilmu Islam lebih dalam dari seorang Ibnu Taimiyah. Weleh…weleh..weleh…!

Ibnu Taimiyah juga menuliskan kehidupan penjara dalam puisinya: "Apakah yang diperbuat musuh padaku. Aku, taman dan di kebunku ada dalam dadaku. Ke mana pun aku pergi, ia selalu bersamaku dan tiada pernah tinggalkan aku. Aku, terpenjaraku adalah khalwat. Kematianku adalah mati syahid. Terusirku dari negeriku adalah rekreasi.”

Hingga wafatnya, Ibnu Taimiyah telah menulis sekitar 500 buku. Yang terkenal diantaranya; Manhaj As Sunnah, Majmu’ Al Fatawa, Muqaddimah fi Ushulul Tafsir, Arad ‘Alal Falsafah Ibnu Rusyd, dan Subut An Nubuwat. Beliau wafat pada tanggal 20 DzulHijjah th. 728 H. Semoga Allah merahmati Ibnu Taimiyah, tokoh Salaf, da`i, mujahidd, pembasmi bid`ah dan pemusnah musuh. Wallahu a`lam.[]

About Hafidz341

Seorang islamic writepreneur yang suka menulis ttg dunia remaja dan Islam. Saat ini memegang amanah Pimpinan Redaksi Majalah Remaja Islam Drise (http://drise-online.com). Selain penulis, jebolan STIKOM Binaniaga Bogor ini juga dikenal sebagai praktisi internet dan sosmed marketing serta owner Ghofaz Computer.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Follow me on Twitter

%d blogger menyukai ini: