//
you're reading...
Uneg Kwadrat

060. Gak Narsis, Gak Eksis?

image “Karena Dia, yang menjadi tujuan perbuatanku, mustahil tidak mengetahuinya” (Abdullah bin Mubarak)

Gile beneer..! cakep banget nih orang. Sumpeh, baru kali ini gw liat orang yang fotogenik kaya gini”. Gak pake intro, Indra langsung nyerocos gak karuan sambil matanya melototin ponsel yang dipegangnya. Joko yang penasaran segera deketin Indro. Joko liat nggak ada foto Dude Herlino atau Adly Fairuz di layar ponsel Indra. “Maksud lo siapa yang keren dan fotogenik?” tanya Joko. “Ya gw-lah. Kan cuman foto gw yang ada di ponsel” jawab Indra dengan pede. Sementara Joko langsung memegang perutnya. Serasa pengen muntah ngedenger jawaban Indra. Hueks!

Pren, gimana rasanya kalo kamu punya temen yang narsis abis kaya kisah Indra di atas. Boleh jadi agak risih. Gimana nggak, tiap papasan ama kaca spion mobil sempet-sempetnya berhenti. Terus mematut diri di depan kaca sambil bergaya. Kalo ngomong, belagu banget. Kesannya cuman dia doang yang hebat bin populer sehingga layak disanjung. Dan daleman blog, facebook, friendster, atau ponsel kameranya dijejali foto-foto narsisnya yang penuh ekspresi. Dari yang berwajah polos tanpa make up sampe dandanan polos tanpa busana. Idih, lebay banget deh!

Wajar Nggak Sih?

Kata narsis sebenarnya diambil dari mitologi Yunani tentang seorang cowok bernama Narcissus. Cowok super ganteng ini ‘produk’ dari dewa sungai Cephissus dan peri Liriope. Wajahnya yang rupawan bikin setiap cewek yang ngeliatnya langsung klepek-klepek. Salah satu cewek yang poling in lop (baca: jatuh cintrong) ama Narcissus adalah Echo. Tapi sayang, cinta Echo bertepuk sebelah tangan. Hiks…hiks…hiks…!

Echo sedih banget. Cewek ini segera sembunyi di tengah hutan yang sepi saking malunya. Tubuh Echo makin lama makin menghilang hingga yang terdengar cuma suaranya. Melihat kesedihan Echo, Afrodite – dewi asmara yang rupawan- pengen ngasih pelajaran buat Narcissus. Eros, putra kecil Afrodite dengan ijin ibunya melepaskan anak panah ke jantung hati Narccisus. Sehingga dia jatuh cinta kepada dirinya sendiri.

Suatu hari Narcissus sedang berjalan dan tanpa sengaja dia melihat ke sungai Styx. Narcissus kaget melihat ada wajah seseorang yang begitu ganteng. Sekali melihat, Narcissus langsung jatuh cinta (nah lho? Hombreng apa ya?). Dia tidak beranjak sedikit pun dari pinggir kolam. Sisa hidupnya diabisin untuk ngecengin bayangan wajahnya. Sampe akhirnya, dewa-dewa lain menemukan mayatnya yang terbujur kaku di tepi kolam lalu mengubahnya menjadi bunga yang di sebut bunga Narcissus.

Nah pren, dari dongeng di atas lahirlah perilaku yang disebut narsisme. Menurut Spencer A Rathus dan Jeffrey S Nevid dalam bukunya, Abnormal Psychology (2000), orang yang narcissistic memandang dirinya dengan cara yang berlebihan. Mereka senang sekali menyombongkan dirinya dan berharap orang lain memberikan pujian. Ya, becoz I love myself so much.

Sialnya, perilaku narsis banyak banget nempel dalam diri remaja. Bahkan tiap remaja boleh jadi punya benih narsis di hatinya. Maklum, usia remaja kan peduli banget ama dirinya sendiri. Dia pikir, kalo semua orang selalu ngeliat dirinya. Idih, geer banget deh. Untuk itu, remaja selalu berusaha untuk tampil perfect tanpa cela. Jadi wajar kalo ada remaja putri yang uring-uringan gak mau keluar rumah ketika sebiji jerawat nan merah merekah nongol di wajahnya. Meski udah berjam-jam dipoles pake kosmetik, tetep aja tuh jerawat bandel ngintip. Apa kata dunia!

Perilaku narsis pada diri remaja juga banyak dipengaruhi oleh keinginan untuk diakui dan dihargai oleh lingkungan. Walhasil, banyak dari remaja yang mati-matian cari perhatian. Baik dihadapan orang tua maupun di tengah lingkungan pergaulan. Mereka berusaha tampil beda. Malah cenderung berperilaku aneh bin ajaib. Ya dong, kalo nggak lain dari yang lain mana bisa mencuri perhatian. Disini ini perilaku narsis makin merajalela. Prinsipnya, kalo nggak ada yang muji, puji aja diri sendiri. Kalo nggak ada yang mempopulerkan, rajin-rajin bikin sensasi. Yang penting, diakui. Perkara diliat orang buruk, itu urusan belakangan. Karena gak narsis, gak eksis!

Pren, Gita Gutawa bilang narsis itu penting buat remaja. Lantaran narsis bisa mengikis perasaan minder dan perlahan mendongkrak pede. Gak salah sih. Dengan narsis, kita berani untuk menjadi diri sendiri. Tapi kalo kadar narsisnya udah over dosis, bukan pede yang diperoleh. Tapi masalah kejiwaan hasilnya. Dan pastinya, tentu merepotkan diri kita dan orang lain. Karena, dibalik sikap narsis ada bahaya yang mengancam mental remaja. Ih..syerem!

Kalo Narsis, Jangan Overdosis

Dalam ilmu psikologi, perilaku narsis, terutama yang overdosis masuk kategori abnormal. Karena umumnya, orang cinta ama diri sendiri itu sewajarnya. Nggak kebangetan. Dalam Islam, bukan cuman abnormal. Tingkah narsis malah rawan dihinggapi sifat-sifat tercela yang bisa bikin remaja tekor dunia akherat.

Pertama, riya. Orang narsis itu haus banget dengan yang namanya pujian. Otak cekaknya dipenuhi tips en trik biar dapet decak kagum dan tepuk tangan dari orang lain. Walhasil, waktu hidupnya yang berharga terbuang percuma demi mengejar popularitas. Kerjaannya cuman bikin sensasi biar jadi pusat perhatian. Sambil lirik sana-sini khawatir ada orang lain yang melebihi dirinya. Persis kaya ibu tirinya Putri Salju yang doyan tanya ama cermin ajaibnya. “Mirror..mirror…on the wall, Who’s the fairest of them all?!

Kedua, sombong. sikap narsis bikin aktivisnya besar kepala alias angkuh bin pongah. Dia pikir, dirinyalah yang terbaik dalam banyak hal. Orang lain dianggap katro binti wong ndeso. Nggak heran kalo dalam setiap omongannya selalu ngebanggain diri sendiri. Seolah-olah semua sifat terpuji ada dalam dirinya. Giliran sifat jelek, dihibahkan ke orang lain. Ujung-ujungnya, sikap pongah produk narsis itu bikin hidup aktivisnya nelangsa.

Ketiga, individualis. Saking cintanya ama diri sendiri, perilaku narsis menyuburkan sikap individuails. Apa yang diperbuatnya hanya untuk memanjakan diri sendiri agar tampak hebat. Nggak mau ambil pusing dengan urusan orang lain atau lingkungan sekitarnya. Padahal, sebagai makhluk sosial kita nggak bisa hidup sendiri. Gurunya Naruto, Hatake Kakashi bilang: “Seseorang yang tidak menaati peraturan disebut sampah. Tapi orang yang tidak peduli pada orang lain… lebih rendah dari sampah!” Catet tuh!

Keempat, anti kritik. Dalam kamus orang narsis, apa yang diperbuatnya itu urusan pribadi. Orang lain dilarang ikut campur apalagi sampe ngasih kritikan. Mereka cuman berhak menikmati tingkah narsisnya lalu ngasih apresiasi. Padahal mah, kritikan itu adalah pengawal yang nggak pernah kita bayar untuk menjaga agar kita tetep di jalan yang benar. Kalo nggak mau dikritik, mendingan hidup aja ama cacing di bawah tanah sana. Dijamin, cacing pasti nggak akan pernah ngritik kamu.

Nah pren, ternyata nggak ada untungnya kita memelihara sikap narsis. Untuk mendongkrak Pede atau mengucilkan perasaan minder, nggak harus bernarsis ria. Cukup pelihara aja keyakinan kalo kita pasti bisa seperti orang lain dengan kelebihan dan kekurangan pada diri kita. Jangan sampe sikap narsis bikin hidup kita tekor abis. Nggak deh!

Low Profile, Akhlakul Karimah

Eksistensi bagi remaja, emang harga mati. Tapi bukan berarti harus mengorbankan martabat dengan menceburkan diri dalam gaya hidup narsis yang over dosis. Sayang banget kalo waktu hidup kita banyak terbuang percuma cuman karena kecintaan berlebih pada diri sendiri. Jangan sampe kita bernasib sama seperti Narcissus yang nggak bosen-bosennya melototin pantulan wajah tampannya dari pinggir kolam hingga akhir hayatnya. Tragis!

Sebagai remaja muslim, Islam punya resep mujarab untuk menangkal serangan gaya hidup narsis. Langkah pertama yang mesti ditempuh adalah dengan membentengi diri dari rasa sombong. Caranya, ingat dan pahami kalo rasa sombong bikin hidup sengsara dunia akherat. Allah swt berfirman:

وَلا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلا تَمْشِ فِي الأرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. Luqman [31]: 18)

Rasul saw bersabda:

“Ada tiga hal yang menghancurkan yaitu: kikir yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti, dan membanggakan diri sendiri” (HR. Thabrany)

Kedua, lindungi diri dari mental banci pujian. Kalo kita nggak pandai mensikapinya, sebuah pujian bisa jadi bumerang lho. Bisa melenakan dan potensi kita bisa habis terkikis. Kita sangat menghargai pujian, tapi bukan berarti itu tujuan dari perbuatan kita. Kecuali kalo pujian itu datang dari Allah swt. Pastinya, itu yang kita harapkan. Seperti diucapkan oleh Umar bin Khaththab r.a: “Ya Allah! Jadikanlah semua amalku sebagai amal shalih, dan janganlah Engkau jadikan amalku itu untuk seseorang sedikitpun”.

Ketiga, memelihara keikhlasan kita dalam berbuat. Abu Qasim Al-Qusyairi menjelaskan “Ikhlas adalah menjadikan satu-satunya yang berhak ditaati dalam sebuah niat ialah Allah swt. Artinya, bahwa yang diinginkan dengan ketaatannya itu hanyalah untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah semata; tidak untuk dipamerkan kepada seseorang, mencari popularitas, atau ingin disanjung-sanjung.”

Selain menjaga diri kita dari tingkah narsis, rasa ikhlas juga membuat hidup kita lebih nyaman. Kita nggak kecewa meski temen-temen tidak memperlakukan kita dengan istimewa. Kita lebih peka dengan kepentingan dan perasaan orang lain. Sehingga kalo ngomong nggak asal bunyi, kalo berbuat nggak seenak udelnya, dan ringan tangan kalo dimintai pertolongan. Kita juga melihat segala masukan berupa kritik-saran dari teman sebagai uluran tangan. Sehingga nggak malu bin sungkan untuk mengakui kesalahan atau kekurangan diri. Bukannya malah ngeles biar keliatan nggak bersalah. Huh, itu mah cupu banget atuh!

Pren, gencarnya serangan budaya hedonis yang melahirkan perilaku narsis bisa mengikis habis keimanan kita. Apalagi kalo kitanya ogah-ogahan untuk merawat Iman dan Islam yang udah Allah anugerahkan. Bisa repot tuh urusannya. Karena hanya akidah yang menjadi benteng terakhir pertahanan kita dalam menangkal wabah gaya hidup sekuler. Makanya, penting banget bagi kita untuk mengenal Islam lebih dalam. Biar kita tahu kebobrokan budaya diluar Islam dan bisa mensikapinya dengan bijak bersama Islam. Sehingga kita bisa eksis tanpa narsis sebagai remaja muslim yang low profile tapi berakhlak mulia. Yaps, itu yang kumau. Setuju? Yuk! [hafidz341@gmail.com]

About Hafidz341

Seorang islamic writepreneur yang suka menulis ttg dunia remaja dan Islam. Saat ini memegang amanah Pimpinan Redaksi Majalah Remaja Islam Drise (http://drise-online.com). Selain penulis, jebolan STIKOM Binaniaga Bogor ini juga dikenal sebagai praktisi internet dan sosmed marketing serta owner Ghofaz Computer.

Diskusi

One thought on “060. Gak Narsis, Gak Eksis?

  1. Gurunya Naruto, Hatake Kakashi bilang: “Seseorang yang tidak menaati peraturan disebut sampah. Tapi orang yang tidak peduli pada orang lain… lebih rendah dari sampah!” Catet tuh!
    Q ralat ya? yang bicara itu bukan Hatake Kakashi melainkan Tobi/Sarutobi sahabatnya Hatake Kakashi yang di pimpin oleh Hokage Ke 4. Gitu mas…

    makasih banyak tuk ralatnya.

    Posted by Mulyandi_Rasyidiq | 26/04/2009, 05:58

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Follow me on Twitter

%d blogger menyukai ini: