//
you're reading...
Teladan

Asma’ binti Abu Bakar Ash-Shiddiq

image Asma’ dilahirkan tahun 27 sebelum Hijrah. Asma’ dijuluki Dzatun nithaqain alias si empunya dua ikat pinggang. Karena dia memotong ikat pinggangnya menjadi dua. Yang satu dipake sufrah (bungkus makanan untuk bekal) Rasulullah SAW. Dan satunya lagi dipake buat pembungkus qirbahnya pada waktu malam.

Asma’ menikah dengan Az-Zubair ibnul Awwam yang cuman punya kuda sebagai kekayannya. Meski begitu, Asma’ rajin ngasih makan kudanya serta melatihnya. Nggak pake bete, Asma menumbuk biji kurma untuk makanan kuda, memberinya air minum dan membuat adonan roti setiap hari.

Meski hidup pas-pasan, keinginannya untuk bersedekah nggak ada matinya. Suatu saat Asma’ datang kepada Nabi SAW, lalu bertanya :"Wahai, Rasulullah, aku tidak punya sesuatu di rumahku, kecuali apa yang diberikan oleh Az- Zubair kepadaku. Bolehkah aku memberikan dan menyedekahkan apa yang di- berikan kepadaku olehnya ?" Maka Nabi SAW menjawab :"Berikanlah (berse- dekahlah) sesuai kemampuanmu dan jangan menahannya agar tidak ditahan pula suatu pemberian terhadapmu." Sejak saat itu, Asma’ nggak pernah tunggu besok atau duit kumpul untuk bersedekah.

Selain pemurah, Asma’ juga dikenal pemberani. Dia pernah ikut dalam Perang Yarmuk bersama suaminya, Az-Zubair. Dia membawa terjun ke medan jihad bermodalkan sebilah belati yang diletakkannya di balik lengan bajunya. Keberaniannya juga ditunjukkan ketika melepas kepergian putra kesayangannya, Abdullah bin Zubair ke medan Jihad.

Saat putranya berpamitan, Asma’ nggak pernah lupa untuk menitipkan pesan-pesan mulianya. Kematian di medan perang lebih baik bagimu daripada hidup hina dan tunduk. Jika orang-orang menelantarkanmu, maka sabar dan tabahlah, karena Allah tidak menelantarkan. Puteranya berkata : "Wahai, Ibu, aku takut jika pasukan Syam membunuhku, mereka akan memotong- motong tubuh dan menyalibku." Asma’ menjawab "Hai, Anakku, sesungguhnya kambing yang sudah disembelih tidaklah merasa sakit bila ia dikuliti." Dalem banget kan?

Dengan penuh keikhlasan, Abdullah pun terjun ke medan perang dan gugur sebagai syuhada. Asma’ wafat di Mekkah dalam usia 100 tahun, sedang giginya tetap utuh, tidak ada yang tanggal dan akalnya masih sempurna. Pren, peran sebagai Ibu dan pengatur rumah tangga seperti yang ditunjukkan Asma’, tidak menjadikannya hina dihadapan al-Khaliq dan manusia. Jadi, banggalah sebagai muslimah! [disadur dari buku "Tokoh-tokoh Wanita di Sekitar Rasulullah SAW"]

About Hafidz341

Seorang islamic writepreneur yang suka menulis ttg dunia remaja dan Islam. Saat ini memegang amanah Pimpinan Redaksi Majalah Remaja Islam Drise (http://drise-online.com). Selain penulis, jebolan STIKOM Binaniaga Bogor ini juga dikenal sebagai praktisi internet dan sosmed marketing serta owner Ghofaz Computer.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Follow me on Twitter

%d blogger menyukai ini: