//
you're reading...
Buletin Bukamata

065. Comfort zone syndrome

image  “Dua orang serakah yang tidak pernah merasa kenyang adalah pencari ilmu dan pencari dunia”.(Ali bin Abi Thalib)

“Doo…! Bangun…..!!” Udah dari setengah jam lalu sang Ibu ngegedor pintu kamar Dado. Tapi dasar Dado jahe (jago he’es) bin kebluk, tetep adem-ayem aja dalam balutan selimut dan dekapan mesra guling meski sinar mentari pagi udah ngintip dritadi disela-sela gorden kamarnya. Apalagi pukulan sang Ibu di pintu tak berirama bin berisik. Sampe-sampe cicak, kecoa, dan tikus-tikus kecil yang juga menghuni kamar Dado pada stress dibuatnya.

Akhirnya Dado bangun dari peraduannya dengan rambut kusut, wajah cemberut, dan iler menghiasi sudut mulut. Doi balas berteriak, “Mama gangguin Dado aja. Orang lagi mimpi nyanyi bareng Kuburan band. Jadi lupa deh syairnya dan cuman ingat kuncinya!. Jduk..!” berhubung belum semua jiwa raga Dado menginjak bumi, jidatnya sukses mendarat di pintu kamar yang masih terkunci. Hihihi…kacian deh!

Hidup Nyaman Ala Gue

Udah umum kalo kita selalu nyari comfort zone. Yaitu sebuah area dimana kita enjoy nikmatin hidup. Setiap orang berhak menikmati comfort zone masing-masing tanpa pandang bulu. Baik bulu mata, bulu hidung, bulu ketek, atau bulu kaki. Lagian, ngapain juga sih pake pandang-pandang bulu orang. Dibayar kagak, bete iya!

Untuk remaja, banyak yang terlihat nyaman dengan berbagai kegiatan yang memanjakan kesenangan. Mulai dari nge-band, dugem, hangout ke luar kota, touring, atau nonton konser musik. Nggak ketinggalan acara belanja barang trendi plus memoles penampilan dengan busana seksi nan aduhai. Meski kehidupan model gini berat diongkos dan bisa merendahkan martabat, banyak yang rela maksain diri. Karena ini dunia gue!

Untuk yang udah kerja, nggak sedikit yang nyaman dengan rutinitas pekerjaannya. Apalagi kalo di kantornya bisa ngenet gratis, fesbukan, frensteran, atau blogging every time. Udah gitu dapet tunjangan hari tua, kesehatan, bonus akhir tahun plus uang lembur yang bejibun pula. Walaupun sering kena damprat atasan, dipaksa lembur di hari libur, atau diberondong kerjaan yang nggak ada abisnya, tetep aja betah. Karena ini pekerjaan gue!

Untuk mereka yang serba kekurangan, tetep nyaman dengan hidup ala kadarnya. Seorang pemulung yang biasa tinggal di area pembuangan sampah udah kebal dengan bau tak sedap atau temenan ama lalat ijo, kecoa, dan tikus got. Gitu juga dengan penghuni rumah kumuh di pinggir rel kereta api. Udah mah bangunan seadanya, dempet-dempetan, ditambah bisingnya suara kereta. Tapi tetep aja enjoy. Karena ini rumah gue!

Untuk mereka yang tengah kasmaran, asyik aja berpetualang di rimba asmara. Gaul ama lawan jenis, dibarengi aksi tebar pesona. Setelah sukses pdkt, dilanjutkan dengan tahap penembakan untuk dapetin status jadian. Abis itu, baru jalan bareng dan saling mengobral cinta. Padahal udah banyak buktinya kalo pacaran yang haram itu turut melestarikan budaya seks bebas, aborsi, sampe prostitusi. Tapi tetep aja nggak kapok-kapok meski sering putus-sambung atau pacarnya selingkuh dua lingkuh. Karena ini cinta gue!

Untuk mereka yang tengah menikmati popularitas, banyak yang nyaman dengan kehidupan glamournya. Teriakan histeris dari penggemar, tawaran main sinetron, jadi bintang iklan, hingga sorotan kamera yang merekam kehidupannya menjanjikan kebahagiaan. Meski sering diterpa gosip tak sedap, tak punya privasi, hingga dilema antara profesionalisme dan beban moral, tak menyurutkan semangat empat lima para selebriti untuk tetep eksis di jagad hiburan. Karena ini hidup gue!

Pren, kita sering mikir kalo sekarang udah hidup enak, ngapain juga capek-capek merubah kebiasaan atau mengorbankan kemapanan untuk sebuah kondisi yang diselimuti ketidakpastian. Ketika seorang pengemis kawakan ditawarin kerja yang menuntut kerja keras, putar otak, dan banting tulang, belum tentu dia mau meski bayarannya cukup besar. Karena dia sudah merasa enak dengan penghasilan yang diperoleh dari belas kasihan orang tanpa harus bersusah payah.

Cewek yang udah nyaman kemana-mana pake baju full press body atau rok mini, bakal mikir seribu kali kalo harus berbusana muslim yang nutup aurat. Cowok yang biasa jelalatan ngeliat jidat licin, bakal kelimpungan kalo harus selalu nundukkin pandangan. Inilah comfort zone syndrome yang bisa bikin kita mati suri. Emang manusiawi kalo kita ogah keluar dari comfort zone. Tapi bukan berarti mesti dimaklumi. Tetep, kita mesti jaga diri. Biar selamat dunia akherat. Yuk!

Nyaman, tapi ‘Nggak Aman’

Suatu ketika seorang ayah bertanya pada anaknya ketika mereka berhasil menangkap dua ekor katak yang berkeliaran di kebun belakang rumahnya. "Jika kita masukan salah satu katak itu ke dalam baskom yang berisi air panas, kira-kira apa yang akan terjadi?"

"Saya yakin katak itu akan sangat terkejut dan berusaha sekuat dirinya keluar dari air panas tersebut", jawab anaknya. "Lantas bagaimana jika satunya lagi kita masukkan dalam baskom yang berisi air kolam itu dan perlahan-lahan kita panaskan air sampai mendidih?" sambung sang ayah. Sang anak terdiam sejenak. Dia bingung menjawabnya.

"Awalny, katak tersebut akan merasa nyaman dalam baskom itu. Ketika ia mulai digigit rasa panas dan menyadarinya, semua sudah terlambat. Ia sudah tidak cukup tenaga untuk keluar dari baskom tersebut. Itulah yang akan terjadi pada kita jika terlena dalam kenyamanan, sementara kenyamanan tidak selamanya mau bersahabat dengan kita." Ungkap sang ayah.

Kisah katak rebus di atas nendang banget rasanya, eh hikmahnya. Orang yang sudah nyaman dengan kehidupannya, sering kali alot untuk diajak berubah. “Tenang Belanda masih jauh”, gitu kata mereka. Pikirnya, musuh kita cuman kompeni aja kaya masa pendjadjahan doeloe. Padahal hari gini gitu lho, udah nggak zamannya penjajahan fisik. Yang ada serangan pemikiran dan budaya.

Musuh kita bukan lagi tentara bersenjata lengkap yang tengah mengokang kalasnikov atau AK-47. Tapi budaya sekular dan pemikiran sesat yang dikemas dalam gaya hidup trendy yang sangat dekat dengan keseharian kita. Mulai dari popularitas, kehidupan glamour, workaholic, seks bebas, permissifisme, atau hedonisme yang gencar menggoda kita lewat media massa. Sialnya, banyak dari kita yang kepincut terus menjadikannya bagian dari comfort zone sehingga lupa dengan aturan hidup Islam.

Kehidupan dunia remaja kian jauh dari nilai-nilai Islam. Dalam berbusana, mereka berlomba-lomba mengumbar aurat. Dalam berperilaku, prinsipnya serba boleh asal nggak ganggu orang lain. Dalam berpikir, yang penting tujuan tercapai pake cara apa aja. Dan dalam urusan asmara, jor-joran mengobral cinta. Akibatnya cukup fatal. Remaja tumbuh jadi generasi instant yang lemah mental dan ogah kerja keras. Budaya seks bebas pun semakin beringas. Di Indonesia kehamilan remaja di luar nikah karena diperkosa sebanyak 3,2%, karena sama-sama suka sebanyak 12,9% dan ‘tidak terduga’ sebanyak 45% (Indofamily.net, 1/8/2008).

Keadaan di dunia kerja juga nggak jauh beda. Aturan kantor yang ketat dan pertimbangan materi sering memaksa para pekerja untuk mengubur idealismenya. Sampe harus menanggalkan busana muslimah atau meninggalkan kewajiban dakwah. Seolah tak ada pilihan, banyak yang terpaksa membiasakan, dan akhirnya membenarkan diri sendiri. Ini kan demi kepentingan keluarga. Emang dakwah Islam nggak penting?

Pren, ternyata banyak kesenangan dunia yang kita anggap comfort zone. Padahal kenyataannya, bisa mengancam kehidupan kita sebagai muslim. Gini jadinya kalo kita hidup dalam aturan kapitalis sekuler yang menuntut orang untuk cinta dunia. Allah swt ngingetin kita dalam firman-Nya:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الأمْوَالِ وَالأوْلادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ (٢٠)

ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan Para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu Lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. Al-Hadid [57] : 20).

Keep Move On!

Pren, kita nggak melarang kamu untuk mencari dan menikmati Comfort Zone. Kita cuman mau ngingetin kalo sebagai muslim, kenyamanan hidup bukan semata diukur oleh rasa senang yang memanjakan diri kita. Tapi juga ridho Allah yang jadi bekal untuk kehidupan akhirat nanti. Kalo dua-duanya bisa kita rangkul, asyik banget tuh.

Okelah kita masih bisa menyisihkan sebagian harta untuk berderma. Kita masih ingat mengajarkan anak-istri untuk beribadah. Kita masih sempat mendoakan keselamatan sodara-sodara kita yang ditimpa musibah. Shalat lima waktu kita nggak bolong-bolong. Tapi itu semua nggak cukup. Ada satu hal yang nggak kalah pentingnya untuk kita utamakan. Berdakwah!

Yap, berdakwah adalah kewajiban yang Allah swt bebankan pada setiap individu muslim tanpa kecuali. Ini bukan pilihan yang bisa kita pending sampai merasa diri ini siap. Rasulullah saw bersabda: "Kalian harus mengajak mereka kepada kebaikan dan mencegah mereka dari kemungkaran. Bila tidak demikian, tentu Allah akan menjadikan orang-orang jahat dianTaramu menguasai kalian. (Dan) bila ada orang baik dianaramu berdoa (untuk keselamatan) mAka doa mereka tidak akan dikabulkan." (HR. Al-Bazzar dan Thabrani).

Berdakwah seperti yang diajarkan Rasul nggak cuman perbaikan moral, ngasih contoh dengan perbuatan, atau berderma dengan harta. Tapi juga menyampaikan kebenaran Islam pada penguasa sebagai obat mujarab untuk ngatasin segala masalah umat dan kita. Aktivitas model gini pastinya nggak populer. Malah cenderung bisa ‘merusak’ comfort zone kita. Karena dakwah nggak menjanjikan apa-apa selain ridho Allah.

So, silahkan aja kalo kamu enjoy dengan comfort zone saat ini. Yang penting nggak bikin terlena sampe lupa akan kewajiban mengaji atau ogah pake aturan hidup Islam. Jangan lupa, teruslah bergerak untuk ikut ambil bagian dalam dakwah Islam. Dimanapun posisi kita. Karena dakwah bisa diakses dari sekolah, tempat kerja, atau di tempat kumuh sekalipun. Biar kita bener-bener berada dalam comfort and safe zone alias zona aman dan nyaman dunia akherat. Keep move on! [hafidz341@gmail.com]

About Hafidz341

Seorang islamic writepreneur yang suka menulis ttg dunia remaja dan Islam. Saat ini memegang amanah Pimpinan Redaksi Majalah Remaja Islam Drise (http://drise-online.com). Selain penulis, jebolan STIKOM Binaniaga Bogor ini juga dikenal sebagai praktisi internet dan sosmed marketing serta owner Ghofaz Computer.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Follow me on Twitter

%d blogger menyukai ini: