//
you're reading...
Buletin Remaja Islam

004. Kondomisasi Remaja? Yang Bener Aja!

Kondomisasi remajaKami tidak dapat memberitahukan kepada khalayak ramai sejauh mana kondom dapat memberikan perlindungan pada seseorang. Sebab, menyuruh mereka yang telah masuk ke dalam kehidupan yang memiliki risiko tinggi (seks bebas dan pelacuran) ini untuk memakai kondom sama saja artinya dengan menyuruh orang yang mabuk memasang sabuk ke lehernya.” (M. Potts, Presiden Family Health International, salah seorang pencipta kondom)

Kayanya Bu Menkes baru, Nafsiah Mboi yang berceloteh tentang program kondomisasi remaja perlu membaca banyak buku penelitian tentang kondom. Pada tahun 1993, Direktur Jenderal WHO, Hiroshi Nakajima pernah bilang kalo efektivitas kondom diragukan untuk mencegah virus HIV/ AIDS. Itu berarti, program kondomisasi sama saja mengundang bahaya. Apalagi bagi remaja en remaji yang masih sibuk mencari jati diri. Gampang banget tergoda untuk icip-icip tren yang banyak digandrungi. Terutama tren yang berhubungan dengan ekspresi cinta seperti seks bebas. Padahal seks bebas di kalangan remaja makin menggila. Udah jadi budaya yang menggurita dalam ekspresi cinta kawula muda. Sampe ada remaja yang bilang, cinta tanpa seks bagaikan sayur tanpa garam. Waduh! Padahal yang bener, bagaikan terguyur lava neraka jahanam. Gosong-gosong dah!

Budaya Seks Bebas Kian Beringas

Pada Mei 2011, survey yang dilakukan lembaga internasional DKT bekerja sama dengan Sutra and Fiesta Condoms mengungkap, remaja tak lepas dari seks bebas. Buktinya, 462 responden berusia 15 sampai 25 tahun semua mengaku pernah berhubungan seksual. Semua, 100 persen! Dan, mayoritas mereka melakukannya pertama kali saat usia 19 tahun. Survey dilakukan di Jakarta, Surabaya, Bandung, Bali, dan Yogyakarta (Republika.co.id, 12/12/2011).

‘Hotline’ Pendidikan Surabaya menyebutkan sekitar 45 persen siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Pahlawan tersebut berpandangan seks bebas terhadap orang yang mereka sayangi (pacar) itu boleh. Sementara sekitar 14 persen dari mereka mengaku sudah melakukannya. (republika.co.id, 10/2/2012)

Data terbaru tahun 2012 juga nggak kalah menariknya. Menteri Komunikasi dan Informasi, Tifatul Sembiring kepada Radar Bogor (Grup JPNN) menuturkan, berdasarkan riset pornografi di 12 kota besar Indonesia terhadap 4.500 siswa-siswi SMP, ditemukan sebanyak 97,2 persen dari mereka pernah membuka situs porno. Data selanjutnya juga menambahkan bahwa 91 persen dari mereka sudah pernah melakukan kissing, petting atau oral sex. “Bahkan, data tersebut juga menyebutkan 62,1 persen siswi SMP pernah berzina dan 22 persen siswi SMU pernah melakukan aborsi,” ujarnya. (jpnn.com, 16/6/2012)

Sahabat, budaya seks bebas di kalangan remaja kian beringas dari tahun ke tahun. Kondisi ini diperparah oleh akibat turunannya seperti prostitusi remaja dan aborsi. Data BKKBN menyebutkan, kasus aborsi mulai 2008 hingga 2010 terus meningkat. Ironisnya, 62 persen pelakunya melibatkan anak-anak di bawah umur.  Diperkirakan selama kurun waktu tersebut, kenaikan angka kasus aborsi rata-rata 15 persen setiap tahunnya. Pada 2008 ditemukan ada 2  juta jiwa anak korban aborsi. Tahun berikutnya, anak korban aborsi bertambah 300 ribu jiwa. Pada 2010, bertambah lagi 200 ribu jiwa.

Bukan cuman kacamata agama yang mengecam dengan keras budaya seks bebas. Sanksi sosial juga bisa bikin depresi pelaku seks bebas yang ketahuan tekdung alias hamil diluar nikah atau yang kepalang basah nyebur ke dunia prostitusi. Dan secara medis, penyakit menular seksual hingga virus HIV pun siap memangsa para pelaku seks bebas. Kalo udah gini, masa iya sih budaya seks bebas malah dilegalisasi dengan program kondomisasi? Yang bener aja!

Kondomisasi Bukan Jalan Terbaik

Kita sepakat kalo penularan virus HIV melalui perilaku seks beresiko mesti dicegah. Tapi kalo caranya ngasih kemudahan akses remaja untuk dapetin kondom seperti diusulkan oleh Bu Menkes, entar dulu. Lantaran banyak hasil penelitian ilmiah yang meragukan efektifitas kondom untuk mencegah penularan virus HIV.

Setiap kondom punya serat berbentuk lubang yang besarnya 1/60 mikron (dalam keadaan tidak meregang) dan 10 kali lipat lubangnya dalam keadaan meregang. Memang, jika dimasukkan air, seakan-akan air yang dimasukkan itu tidak keluar. Namun sesungguhnya tidak, karena itu tadi, kondom (berbahan latex) memiliki pori-pori. Sementara dalam penelitian yang diungkapkan di konferensi AIDS Asia Pacific di Chiang Mai, Thailand (1995) ini, virus HIV itu 1/250 mikron. Jadi seribu kali lipat lebih kecil dibanding pori-pori kondom. Jadi seandainya ada anak-anak remaja berzina menggunakan 10 lapis kondom, virus-virus HIV/ AIDS masih tetap bisa keluar dari kondom itu. Dapat diumpamakan bahwa besarnya sperma seperti ukuran jeruk Garut, sedangkan kecilnya virus HIV/AIDS seperti ukuran titik. Lolos dah!

Dalam rubrik SuaraPublika pada 13 September 2001, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof. Dr. Dadang Hawari juga pernah menulis hasil rangkuman beberapa pernyataan tentang kontroversi kondom sebagai pencegah penyebaran AIDS. Pernyataan ini berdasarkan data-data. Oleh karena itu, di akhir tulisan, Prof. Dadang menegaskan, bahwa kelompok yang menyatakan kondom 100% aman, merupakan pernyataan yang MENYESATKAN dan BOHONG.

Kesesatan dan kebohongan yang dilakukan Menkes dengan program kondomisasi ini juga diutarakan oleh V. Cline. Pada 1995, Profesor psikologi dari Universitas Utah, Amerika Serikat ini mengatakan, memberi kepercayaan pada remaja atas keselamatan berhubungan seksual dengan menggunakan kondom sangat keliru. Penyakit kondom hanya dapat mereduksi risiko penularan, tetapi tidak dapat menghilangkan sama sekali risiko penularan (transmisi) virus HIV/ AIDS. “Jika para remaja percaya bahwa dengan kondom mereka aman dari HIV/ AIDS atau penyakit kelamin lainnya, berarti mereka telah tersesatkan,” kata V. Cline.

Sahabat, terbukti secara ilmiah kalo penggunaan kondom bukannya mencegah, malah nambah parah. Boleh jadi remaja yang tadinya lumayan tengsin bin ngeper untuk beli kondom, kini mulai berani secara terang-terangan lantaran bu Menkes udah ngasih lampu hijau. Akibatnya, kampanye kondom bakal semakin meningkatkan pergaulan seks bebas. Hal ini pernah diungkapkan oleh Mark Schuster dari Rand, sebuah lembaga penelitian nirlaba, dan seorang pediatri di University of California. Berdasarkan penelitian mereka, setelah kampanye kondomisasi, aktivitas seks bebas di kalangan pelajar pria meningkat dari 37% menjadi 50% dan di kalangan pelajar wanita meningkat dari 27% menjadi 32% (USA Today, 14/4/1998).

Kondomisasi cuma sebuah solusi pragmatis yang sangat menyesatkan. Lantaran kondomisasi bukan menghilangkan akar masalah sesungguhnya, yakni seks bebas yang kian beringas di kalangan remaja. Tapi menambah masalah baru dengan secara tidak langsung melegalisasi seks bebas. Bukannya mengantisipasi, malah memfasilitasi. Solusi pragmatis ini menjadi ciri khas antek liberal dalam menyelesaikan masalah sosial. Mereka beralasan, kalo nggak bisa dicegah, ya dikendalikan dengan metodeharm reduction alias mengurangi akibat yang fatal. Masalah narkoba, diatasi dengan metode substitusi (pengganti). Masalah prostitusi, diatasi dengan lokalisasi.

Seks bebas sudah membudaya dalam masyarakat barat sehingga negara keteteran untuk mengatasinya. Apalagi budaya mesum ini dianggap sebagai bagian dari kebebasan pribadi. So, kalo negara campur tangan bakal dianggap melanggar HAM. Logika ini yang dipake Menkes dalam mengatasi penularan HIV melalui program kondomisasi. Negara ogah ambil pusing untuk getol mengedukasi masyarakat agar menjauhi maksiat dan mengkampanyekan bahaya seks bebas. Yang ada, pemerintah ambil jalan tengah dengan ‘membiarkan’ budaya seks bebas merajalela, asalkan pake kondom (harm reduction). Yang penting bagi pemerintah angka penularan HIV ada penurunan. Sesuai keinginan majikannya yang termaktub dalam MDGs (Millenium Development Goals). Perkara perilaku masyarakat kian bejat, itu urusan belakangan! So, masa iya kita percaya dengan program kondomisasi untuk mengatasi masalah HIV/AIDS? Yang bener aja!

Pake Aturan Islam, Dijamin Tokcer!

Pertanyaan besar patut kita ajukan pada Menkes yang ngotot dengan program kondomisasinya. Mengapa eh mengapa, budaya mesum seks bebas sebagai biang keladi penularan virus HIV/AIDS nggak mereka persoalkan? Jawabannya bisa kita tebak. Lantaran budaya zina adalah salah satu perilaku yang dijamin dalam sistem demokrasi. Buktinya, nggak ada UU yang bisa menjerat pelaku seks bebas. Yang ada adalah pasal dalam KUHP yang terkait dengan delik pemerkosaan. Artinya, selama zina dilakukan suka sama suka, ya nggak masalah. Makanya di negeri Ibu pertiwi ini merajalela lokalisasi prostitusi yang dilindungi oleh pemerintah. Lantaran di sana transaksi seksual antara pelacur dan lelaki hidung belang memang dilakukan atas dasar suka sama suka.

Inilah tanda-tanda akhir zaman. Ketika perzinaan merajalela dan masyarakat menganggapnya biasa. Kalau udah begini, Republik ini tinggal menunggu kebinasaan. Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, Abu Malik al Asy’ari bahwa dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan/menganggap halal perzinahan, sutera, minuman keras, dan musik-musik.”(HR. Bukhari)

Karena itu, solusi pertama untuk mencegah penyebaran virus HIV/AIDS adalah dengan membuang demokrasi. Sistem buatan manusia ini yang ngasih jaminan atas kebebasan berperilaku dan memelihara budaya seks bebas. Kedua, negara super duper wajib dengan gencar dan berbagai cara mengedukasi masyarakat akan bahaya seks bebas. Baik secara agama, medis, sosial, hingga kesehatan jiwa.

Dan solusi yang paling utama, sudah saatnya pemerintah segera menerapkan syariah Islam secara total dalam seluruh aspek kehidupan. Sekaligus memberlakukan hukum Islam secara tegas untuk memotong mata rantai budaya seks bebas. Antara lain hukuman cambuk atau rajam atas para pelaku seks bebas (perzinaan). Allah SWT berfirman:

Pezina wanita dan pezina laki-laki, cambuklah masing-masing dari keduanya seratus kali cambukan, dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kalian untuk (menjalankan) agama Allah jika kalian memang mengimani Allah, dan Hari Akhir. (QS an-Nur [24]: 2).

Aturan kapitalis liberal terbukti gagal total beresin masalah penularan virus HIV. Akar masalah bukannya diatasi, malah dihindari dengan program kondomisasi. Hanya aturan Islam yang bisa atasi masalah HIV/AIDS dan masalah manusia lainnya. Dijamin tokcer! [341]

About Hafidz341

Seorang islamic writepreneur yang suka menulis ttg dunia remaja dan Islam. Saat ini memegang amanah Pimpinan Redaksi Majalah Remaja Islam Drise (http://drise-online.com). Selain penulis, jebolan STIKOM Binaniaga Bogor ini juga dikenal sebagai praktisi internet dan sosmed marketing serta owner Ghofaz Computer.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Follow me on Twitter

%d blogger menyukai ini: