//
you're reading...
Tausyiah

Allah Itu Ada

Lafadz AllahJa’far as Shadiq ra pernah bercakap-cakap dengan seorang atheis fanatik. Beliau bertanya, ”Pernahkah anda bepergian dengan kapal laut?” Dijawab, ”Ya”. Kembali Ja’far bertanya, ”Pernahkah anda mengalami peristiwa yang mengerikan di laut?”

Dijawab, ”Ya, tentu saja. Suatu kali pada saat kami ada di tengah laut, sebuah badai mendera dan menghempaskan kapal yang kami tumpangi. Beberapa pelaut terlempar ke laut. Saya berpegangan erat pada sebuah batang kayu. Tak lama kemudian batang kayu itu pun direnggut oleh ombak. Saya terlempar ke tangah laut yang ganas, tetapi akhirnya terlempar ke atas, hingga akhirnya terdampar di pantai.”

Kemudian Ja’far mengatakan, ”Pada saat badai itu datang mungkin anda menggantungkan keselamatan anda pada kapal dan para pelaut, kemudian pada batang kayu yang menyelamatkan anda selama beberapa saat. Tapi setelah semua itu hilang, apakah anda bersikap pasrah atau masih mengharapkan keselamatan?”

Atheis itu menjawab, ”Tentu saja saya mengharapkan keselamatan.” Ja’far kembali bertanya, ”Kepada siapa anda mengharapkan keselamatan?” Orang itu terdiam tidak bisa memberikan jawaban. Maka Ja’far berkata, ”Sang Khalik-lah tempat anda mengharapkan keselamatan pada waktu itu, dan Dia-lah yang menyelamatkan anda dari bahaya tenggelam.” Sejak percakapan itu, maka orang tersebut tidak lagi menjadi atheis.

Pren, kalo kita bukan atheis, pasti yakin sepenuh hati kalo Allah itu ada. Kalo kita yakin Allah itu ada, tentu yakin dengan sifat-Nya yang selalu mengawasi dan melihat kita.

Dalam sebuah kisah pada masa pemerintahan Umar bin Khaththab, terjadilah dialog antara ibu penjual susu dengan putrinya.
“Tidakkah kau campur susu daganganmu dengan air? Subuh telah datang,” kata sang Ibu.
“Bagaimana mungkin aku mencampurnya, sedangkan Amirul Mukminin telah melarang mencampur susu dengan air?” jawab putrinya.
“Orang-orang telah mencampurnya. Kau campur saja. Toh, Amirul Mukminin tidak akan tahu.”
Putrinya menjawab, “Jika Umar tidak tahu, Tuhan Umar pasti tahu. Aku tidak akan mencampurnya karena dia telah melarangnya.”
Dari kisah di atas, kita bisa ambil pelajaran berharga bahwa pengawasan manusia terbatas, namun pengawasan Allah unlimited!

Selain Allah swt mengawasi, malaikat Raqib-Atid juga nggak pernah absen nyatetin amal sholeh dan amal salah kita. Untuk itu, Allah swt bakal ngasih ganjaran di akherat nanti. Firman-Nya:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (٧)وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (٨)

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. Dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula. (QS al-Zalzalah [99]: 7-8)

D’Riser, kalo kita yakin Allah selalu mengawasi dan Malaikat Raqib-Atid selam mencatat, apa pantas kita melanggar larangannya atau melalaikan kewajibannya? Kita bukan atheis kan?[341]

About Hafidz341

Seorang islamic writepreneur yang suka menulis ttg dunia remaja dan Islam. Saat ini memegang amanah Pimpinan Redaksi Majalah Remaja Islam Drise (http://drise-online.com). Selain penulis, jebolan STIKOM Binaniaga Bogor ini juga dikenal sebagai praktisi internet dan sosmed marketing serta owner Ghofaz Computer.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Follow me on Twitter

%d blogger menyukai ini: