//
you're reading...
Media Gaul

Ekspresi Bebas Pasca Unas

Ujian-Nasional-2015-300x300Ujian Nasional (UN) alias Unas baru beres dilaksanakan. UN tingkat SMA dan sederajat telah digelar pada 13 hingga 15 April 2015, khusus untuk UN Berbasis Komputer pada 7-15 April 2015. Seperti tahun-tahun sebelumnya, UN bagi siswa adalah sebuah perhelatan yang bikin deg-degan. Walau kini UN nggak lagi jadi penentu kelulusan, tetep aja siswa ngejalaninnya dengan penuh perjuangan. Wajar, kalo usai ngikutin UN para siswa ngerasa lega bin gembira.

Banyak cara meluapkan kegembiraan untuk merayakan berakhirnya ujian nasional (UN) yang dilakukan para siswa. Namun, yang paling banyak diliput media justru yang negatif. Perilaku yang tak mencerminkan karakter pelajar yang terdidik. Bukannya menjadi bagian dari solusi, malah terhanyut dalam euforia dan menjadi bagian dari masalah. Berikut diantaranya:

  • Corat-coret

Entah siapa yang pertama kali memulai, budaya corat-coret pelajar pasca UN seolah tak terpisahkan. Saat hari terakhir UN usai, para pelajar tanpa komando langsung berhamburan ke lapangan. Berteriak kegirangan sambil sibuk mencorat-coret baju seragam yang dipakai teman. Siswa siswi berlarian ke sana ke sini membubuhkan tanda tangan secara bergantian dengan spidol atau menyemprot wajah, rambut, dan seragamnya dengan pylox warna-warni. Nggak jauh beda dengan supporter bola.

  • Konvoi kendaraan

Tak cukup dengan aksi corat-coret,  para pelajar pun turun ke jalan. Beramai-ramai ikut konvoi kendaraan bermotor. Tanpa helm dan seragam penuh coretan, mereka tumpah ruah memenuhi jalan raya. Bunyi  klakson saling bersahutan memecah kesunyian jalan. Tak ketinggalan, suara bising knalpot racing mengusik kenyamanan para pengguna jalan. Tak ayal, ada pelajar yang nekat bawa senjata tajam dan melakukan tindakan kriminal. Mentang-mentang banyakan, berani membajak kendaraan umum hingga kontainer. Bahkan tak sungkan memicu tawuran dengan pelajar lain yang mereka temui di jalan.

  • Pesta seks

Ini perilaku bejat yang tak patut ditiru. Puluhan siswa-siswi di Kendal, tertangkap basah berbuat mesum di salah satu tempat wisata yang sering dipake remaja untuk mojok bareng pacarnya. Pasca UN berakhir, pasangan pelajar tamasya ke pinggir Pantai Muara Kencan Kecamatan Cepiring, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah Kamis (16/4/15) hingga sore. Menjelang malam, mereka lanjut check in dan berbuat mesum.

  • Splash after class

Luapan kegembiraan pasca UN seolah jadi legalisasi digelarnya pesta bagi remaja. Demi mengusir kepenatan, salah satu EO di ibukota mengundang pelajar tingkat SMA dan sederajat untuk menghadiri ‘Splash after Class’. Sebuah pesta bikini summer dress yang rencananya digelar di kolam renang di hotel berbintang di Jl Gunung Sahari, Jakarta Pusat, pada 25 April 2015 ini undangannya beredar luas via jaringan youtube dan sosial media. Meski akhirnya dibatalkan, namun sempat menuai kritiktan pedas dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Pesta bikini, kolam renang, campur baur cewek cowok plus minumanberalkohol sama dengan memancing kemaksiatan. Waspadalah!

Korban Liberalisme

Maraknya ekspresi kegembiraan pasca UN yang sarat dengan pesta pora mencerminkan lekatnya budaya hedonis dalam keseharian remaja. Inilah gambaran gaya hidup liberal pemuja kesenangan dunia yang udah menjebak remaja tanpa disadari. Kebahagiaan diraih dengan hidup mewah, glamour, pesta pora, atau bergaul bebas tanpa batas. Persis seperti yang dipahami oleh penganut aliran utilitarian yang dipelopori oleh filsuf Barat, John Stuart Mill. Mereka bilang, ”perbuatan dianggap baik apabila hal itu cenderung menambah kebahagiaan, dan dianggap buruk apabila menyebabkan berkurangnya kebahagiaan. Yang dimaksud kebahagiaan  adalah kesenangan dan hilangnya kesedihan, sedangkan ketidakbahagiaan adalah kesedihan dan berkurangnya kesenangan.”

Bagi penganut utilitarian, kompensasi pahala yang dijanjikan Allah jika taat, dosa jika bermaksiat, atau itung-itungan amal perbuatan di akhirat, sering kedapetan absen dalam kamus hidupnya. Mereka menganggap semuanya abstrak alias nggak keliatan, sehingga dirasakan nggak lebih penting dari kehidupan dunia yang nyata. Padahal kehidupan dunia, hanyalah panggung sandiwara yang cuman sementara. Allah swt berfirman: ”Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia Ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan…” (QS. Al-Hâdid [57]: 20)

Sahabat pelajar, Ujian Nasional bukan akhir perjalanan dari riwayat pendidikan kita. Masih panjang jalan yang harus kita tempuh untuk menjadi pribadi yang mulia di hadapan manusia dan Sang Pencipta. Luapan kegembiraan boleh aja diekpresikan. Dengan catatan, tetap dalam koridor Islam yang dibolehkan.

Berhati-hatilah dengan berbagai tawaran ekspresi bebas pasca unas. Baju seragam dicorat-coret mungkin bisa jadi kenangan. Tapi akan jauh lebih bernilai jika disedekahkan. Pesta pora macam summer dress party hingga seks bebas adalah cermin gaya hidup liberal yang mencoreng kemuliaan kita sebagai manusia. Niatnya melepas kepenatan, justru mengantarkan pada kemaksiatan. Bentengi diri dengan iman agar tak mudah terjebak godaan setan. #YukNgaji! [@Hafidz341]

About Hafidz341

Seorang islamic writepreneur yang suka menulis ttg dunia remaja dan Islam. Saat ini memegang amanah Pimpinan Redaksi Majalah Remaja Islam Drise (http://drise-online.com). Selain penulis, jebolan STIKOM Binaniaga Bogor ini juga dikenal sebagai praktisi internet dan sosmed marketing serta owner Ghofaz Computer.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Follow me on Twitter

%d blogger menyukai ini: